Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 03 Mei 2026 | Jakarta – Mantan Ketua MPR Amien Rais kembali menegaskan keprihatinannya terhadap dinamika ekonomi nasional, khususnya menurunnya jumlah kelas menengah yang ia nilai sebagai tanda peringatan serius bagi pertumbuhan inklusif.
Latar Belakang Peringatan
Dalam sebuah forum yang dihadiri akademisi, pebisnis, dan aktivis sosial, Amien Rais memaparkan data resmi Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan. Menurutnya, proporsi rumah tangga berpenghasilan menengah menurun dari 28 persen pada 2019 menjadi sekitar 22 persen pada akhir 2023. Penurunan ini tidak hanya terlihat pada wilayah Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah-wilayah lain, termasuk Sumatra dan Kalimantan.
Penyebab Utama Penurunan
Amien Rais mengidentifikasi tiga faktor utama. Pertama, inflasi pangan yang terus berada pada level tinggi, memaksa sebagian besar rumah tangga menengah mengalokasikan porsi besar pendapatan untuk kebutuhan pokok. Kedua, stagnanya upah riil meskipun pertumbuhan PDB tetap positif, sehingga daya beli kelas menengah tergerus. Ketiga, kebijakan fiskal yang belum sepenuhnya menargetkan sektor UMKM dan industri padat karya, sehingga lapangan pekerjaan bergaji menengah tidak cukup berkembang.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Penurunan kelas menengah berdampak pada beberapa dimensi. Secara sosial, terjadi peningkatan ketimpangan pendapatan yang memicu rasa tidak puas di kalangan masyarakat. Secara ekonomi, kelas menengah yang biasanya menjadi motor konsumsi domestik mengalami penurunan pengeluaran, mengancam target pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang ditetapkan pemerintah.
Amien Rais menekankan bahwa kelas menengah berperan sebagai penyangga antara golongan berpendapatan rendah dan tinggi. Bila jumlahnya terus berkurang, tekanan pada program kesejahteraan sosial akan meningkat, sekaligus mengurangi kontribusi pajak dari segmen yang paling produktif.
Rekomendasi Kebijakan
Untuk mengatasi tren negatif ini, Amien Rais mengusulkan serangkaian langkah kebijakan:
- Peningkatan upah minimum regional yang selaras dengan inflasi dan produktivitas.
- Penerapan insentif fiskal bagi perusahaan yang menciptakan lapangan kerja bergaji menengah, termasuk pengurangan pajak bagi UMKM yang mengadopsi teknologi produktif.
- Penguatan program pendidikan vokasi dan pelatihan ulang bagi pekerja sektor informal agar dapat bertransisi ke pekerjaan berpendapatan menengah.
- Peningkatan subsidi pangan yang terarah, sehingga beban pengeluaran rumah tangga tidak menggerus pendapatan lain.
Respon Pemerintah dan Publik
Beberapa pejabat pemerintah menyambut baik kritik konstruktif Amien Rais. Menteri Keuangan menegaskan bahwa program Kartu Prakerja dan Bantuan Pangan Non Tunai sedang dievaluasi untuk menyesuaikan target manfaatnya. Di sisi lain, organisasi buruh menilai bahwa upaya peningkatan upah masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
Para pengamat ekonomi menambahkan bahwa penurunan kelas menengah tidak dapat diatasi hanya dengan kebijakan moneter; diperlukan koordinasi lintas sektoral antara kementerian, regulator, dan dunia usaha.
Prospek ke Depan
Jika tren menurunnya jumlah kelas menengah tidak segera dibalik, Amien Rais memperingatkan bahwa Indonesia berisiko kehilangan daya tarik investasi jangka panjang. Kelas menengah yang kuat biasanya menjadi indikator kesehatan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama‑sama merancang kebijakan yang menumbuhkan kembali kelas menengah, demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.