Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 09 Mei 2026 | Israel kembali melakukan serangan udara di wilayah Gaza, menewaskan setidaknya 5 warga Palestina termasuk seorang petugas kepolisian. Serangan ini terjadi di tengah periode gencatan senjata yang masih berlangsung, memicu kecaman keras dari otoritas setempat.
Azzam al-Hayya, putra pemimpin senior Hamas Khalil al-Hayya, meninggal dunia akibat luka-luka parah yang dideritanya dalam serangan udara Israel yang menargetkan kerumunan warga Palestina di pusat Gaza City.
Menurut sumber medis, serangan di lingkungan al-Daraj dan Zeitoun di Kota Gaza menargetkan kerumunan warga sipil. Di Zeitoun, 3 anggota keluarga tewas saat mencoba mendirikan tenda pengungsi di dekat Masjid Salah al-Din.
Serangan udara Israel di Gaza menewaskan warga sipil dan petugas polisi, memperburuk krisis kemanusiaan yang telah menelan lebih dari 72 ribu korban jiwa sejak Oktober 2023. Ribuan anak Gaza mengalami cacat permanen, kelumpuhan, dan kelainan bawaan akibat paparan gas beracun serta runtuhnya sistem kesehatan di tengah perang berkepanjangan.
Blokade Israel menghambat evakuasi medis bagi sekitar 4 ribu anak yang membutuhkan perawatan darurat, menyebabkan ratusan meninggal saat menunggu izin keluar dari Gaza. Anak-anak yang lahir sejak pecahnya perang di Gaza menghadapi dampak kesehatan serius mulai dari kelumpuhan, kelainan bentuk, dan luka bakar parah.
Salah satunya adalah Nour Abu Samaan, bayi perempuan yang lahir pada 7 Oktober 2023, hanya beberapa jam sebelum perang Israel-Hamas meletus. Kebahagian ibunya, Samar Hammad, berubah menjadi kepanikan sehari kemudian ketika serangan Israel mengguncang wilayah tempat tinggal mereka.
Menurut keluarga, Nour mengalami kesulitan bernapas, kulit membiru, dan kehilangan kemampuan bergerak setelah terpapar asap dari serangan rudal Israel. Dokter kemudian mendiagnosisnya mengalami kelumpuhan motorik akibat menghirup gas beracun.
Serangan ini menambah total lebih dari 72 ribu warga Palestina yang terbunuh dan lebih dari 172 ribu terluka akibat genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023. Krisis kemanusiaan di Gaza meninggalkan luka permanen bagi generasi termuda.
Khalil al-Hayya menyebut penargetan putranya sebagai "perpanjangan dari agresi terhadap rakyat kami di mana pun" dan menuduh Israel berupaya menekan para negosiator Palestina melalui eskalasi militer. Dia juga memperingatkan bahwa ancaman Israel untuk memperluas operasi militer di Gaza bertujuan untuk memaksa para pemimpin dan negosiator Palestina agar bersedia memberikan konsesi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan anak-anak Palestina yang terkena dampak perang. Mereka harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan perawatan medis yang memadai dan mengalami trauma yang dapat berdampak pada perkembangan mereka.