Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 20 Maret 2026 | Para ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa Indonesia berisiko menghadapi fenomena iklim ekstrem yang disebut “Godzilla El Nino” pada tahun 2026. Kombinasi antara El‑Nino berskala super kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif diprediksi akan memicu musim kemarau yang lebih panjang, suhu meningkat, serta pola curah hujan yang tidak merata di seluruh kepulauan.
Bagaimana Godzilla El Nino terbentuk?
El‑Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik ekuator yang mengurangi pembentukan awan di Indonesia. Sementara IOD positif menandakan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa, memperlemah lagi curah hujan. Kedua fenomena ini diperkirakan akan bersamaan sejak April 2026 hingga Oktober 2026, menciptakan kondisi kering yang ekstrem di sebagian besar wilayah selatan ekuator.
Dampak utama yang diantisipasi
BRIN menyoroti beberapa konsekuensi krusial yang harus dipersiapkan pemerintah dan masyarakat:
- Kekeringan panjang: Wilayah Pantura Jawa, Lampung, dan sebagian Sumatra diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan signifikan, mengancam lumbung pangan nasional.
- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla): Suhu yang naik 1,5‑2°C dan kelembapan yang turun meningkatkan risiko kebakaran, terutama di hutan tropis Kalimantan dan Sumatra.
- Banjir dan longsor di wilayah timur: Daerah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku diperkirakan akan menerima curah hujan berlebih, menimbulkan bahaya banjir serta tanah longsor.
- Gangguan pada sektor pertanian: Tanaman padi di Jawa Tengah dan Jawa Barat berpotensi gagal panen, sementara petani di daerah utara mungkin harus mengatasi banjir yang merusak tanaman.
- Dampak kesehatan masyarakat: Suhu tinggi dapat memicu heat stroke, peningkatan penyakit pernapasan, dan menurunkan produktivitas kerja.
Respons pemerintah dan rekomendasi ilmuwan
Prof. Erma Yulihastin, peneliti utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektoral. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Meningkatkan sistem peringatan dini cuaca ekstrem di tingkat provinsi.
- Menyiapkan cadangan air bersih dan memperkuat infrastruktur irigasi di daerah rawan kekeringan.
- Mengoptimalkan penanggulangan kebakaran dengan menambah unit pemadam kebakaran, patroli satwa, dan program pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
- Memperluas program mitigasi banjir melalui pembangunan tanggul, normalisasi sungai, dan penataan lahan di zona rawan longsor.
- Melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk menjamin ketersediaan pangan melalui stok beras nasional dan distribusi bantuan tepat waktu.
Proyeksi cuaca selama periode kritis
Model prediksi global menunjukkan bahwa suhu rata‑rata di Indonesia dapat naik hingga 2°C pada puncak El‑Nino, sementara curah hujan di wilayah selatan dapat turun hingga 30‑40% dibandingkan rata‑rata tahunan. Di sisi lain, wilayah timur dapat menerima peningkatan curah hujan hingga 25%, meningkatkan risiko banjir musiman.
Perubahan iklim global memperparah intensitas fenomena ini. Kenaikan suhu global 1,2‑1,6°C sejak era pra‑industri telah menambah sensitivitas sistem iklim tropis terhadap gangguan seperti El‑Nino. Jika emisi gas rumah kaca tidak terkendali, suhu bumi dapat melampaui 2,5°C, memperbesar kemungkinan terjadinya El‑Nino berskala “Godzilla” di masa mendatang.
Dengan prediksi yang begitu jelas, langkah antisipatif harus segera diimplementasikan. Pemerintah, lembaga riset, serta masyarakat luas perlu berkolaborasi untuk memperkuat ketahanan pangan, mengurangi risiko kebakaran, dan melindungi wilayah yang rawan banjir. Upaya mitigasi dan adaptasi kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga kesejahteraan bangsa di tengah ancaman iklim yang semakin intens.