Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 25 April 2026 | Insiden tragis menimpa Angkatan Laut Malaysia pada 23 Maret 2024 ketika dua helikopter militernya bertabrakan di udara saat latihan peringatan 90 tahun Angkatan Laut. Kecelakaan tersebut menewaskan sepuluh orang, termasuk tujuh anggota awak dan tiga kru sipil, serta menimbulkan keprihatinan luas di kawasan Asia Tenggara.
Kronologi Kecelakaan
Helikopter yang terlibat adalah AgustaWestland AW139 (dikenal sebagai M503‑3) dan Eurocopter Fennec. Kedua pesawat lepas landas dari pangkalan militer TDLM di Lumut sekitar pukul 09.45 WIB untuk melakukan formasi latihan. Pada fase formasi, helikopter Fennec tidak mematuhi ketinggian dan jalur yang telah ditetapkan, sehingga menabrak rotor belakang helikopter AW139. Kedua helikopter kehilangan kendali secara bersamaan dan jatuh ke area pangkalan, meninggalkan puing‑puing yang terbakar.
Daftar Korban
- Awak AW139 (4 awak, 3 penumpang)
- Komandan Muhammad Firdaus bin Ramli
- Letnan Komandan Wan Rezaudeen Kamal bin Wan Zainal Abidin
- Letnan Komandan Mohammad Amirulfaris bin Mohamad Marzukhi
- Petugas Surat Perintah II (AQM) Muhammad Faisol bin Tamadun
- Warrant Officer II TNL Noorfarahimi binti Mohd Saedy (penumpang)
- Petugas Kecil TNL Noor Rahiza binti Anuar (penumpang)
- Tingkat Mampu JJM Joanna Felicia anak Rohna (penumpang)
- Awak Fennec (3 awak)
- Komandan Muhamad Amir bin Mohamad TLDM – PM Skuadron 502
- Letnan Sivasutan a/l Thanjappan TLDM
- Petugas Surat Perintah II TMK Mohd Shahrizan bin Mohd Termizi
Penyebab dan Reaksi Resmi
Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim, menyatakan kecelakaan itu sebagai tragedi besar dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta seluruh rakyat Malaysia. Pemerintah menegaskan akan memberikan dukungan penuh bagi proses penyelidikan.
Hasil investigasi awal menyoroti kesalahan manusia (human error) sebagai faktor utama. Penyimpangan helikopter Fennec dari ketinggian dan arah yang ditetapkan menyebabkan tabrakan dengan rotor belakang AW139. Seluruh temuan masih dalam proses verifikasi, namun rekomendasi awal menekankan pentingnya prosedur kontrol formasi yang lebih ketat dan peningkatan pelatihan pilot.
Kontur Militer Regional
Sementara tragedi ini mengguncang Angkatan Laut Malaysia, tetangganya, TNI AL, tengah menggelar Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) di perairan Karimun Jawa, Jepara, pada 23‑24 April 2026. Latihan tersebut melibatkan 20 kapal perang Republik Indonesia serta pesawat F‑16 TNI AU, menampilkan penembakan rudal Exocet MM40 Block 3 dan operasi udara lawan laut. Momen tersebut menunjukkan upaya peningkatan interoperabilitas militer di kawasan, sekaligus menyoroti pentingnya standar keselamatan yang konsisten di antara angkatan bersenjata regional.
Tragedi helikopter Malaysia menjadi peringatan keras bahwa latihan militer, meskipun dirancang untuk memperkuat kesiapan, tetap mengandung risiko tinggi bila prosedur tidak dipatuhi secara disiplin. Pemerintah Malaysia dijadwalkan akan meninjau kembali protokol latihan formasi udara serta meningkatkan koordinasi dengan mitra internasional untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dengan sepuluh nyawa melayang, kecelakaan ini menambah daftar insiden penerbangan militer yang menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan operasi udara dalam konteks latihan bersama. Komunitas pertahanan regional diharapkan akan belajar dari peristiwa ini untuk memperkuat standar operasional dan mengurangi kemungkinan terulangnya tragedi serupa.