Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 21 Maret 2026 | Setiap hari ribuan penumpang melewati Bandara Internasional Halim Perdanakusuma di Jakarta tanpa menyadari bahwa di balik nama itu tersembunyi kisah seorang pahlawan udara yang pernah menembus langit Eropa dan kembali untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Awal Kehidupan dan Panggilan Langit
Abdul Halim Perdanakusuma lahir pada 18 November 1922 di Sampang, Madura, sebuah daerah yang pada masa itu belum mengenal dunia penerbangan. Meski tanpa tradisi militer atau akademi udara, semangat muda Halim terbakar ketika Perang Dunia II meletus. Tanpa pelatihan formal, ia memanfaatkan peluang bergabung dengan Angkatan Udara Kanada (Royal Canadian Air Force) dan kemudian Royal Air Force (RAF) Inggris, menapaki karier yang akan mengukir namanya dalam sejarah.
Karier di RAF: 44 Misi Pengeboman dan Julukan “Black Mascot”
Selama masa tugasnya di RAF, Halim menuntaskan 44 misi pengeboman ke instalasi militer Nazi di Eropa. Keberanian dan kemampuan kembali selamat dari tiap misi membuatnya dijuluki “Black Mascot”, simbol keberuntungan yang legendaris di kalangan rekan-rekannya. Pencapaiannya tidak berhenti pada jumlah misi; ia naik pangkat hingga Wing Commander, posisi yang menuntut kepemimpinan, jam terbang tinggi, serta keahlian taktis yang mumpuni.
Pulang ke Tanah Air: Memilih Republik yang Baru Merdeka
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945, Halim meninggalkan karier nyaman di Eropa. Pada awal 1947 ia kembali ke Indonesia, bertemu dengan Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TNI Angkatan Udara pertama, dan menyatakan kesiapan untuk berkorban demi republik. Ia diangkat menjadi Komodor Udara (setara Marsekal Pertama) serta Perwira Operasi Udara, memimpin operasi menembus blokade Belanda, menyusun strategi serangan udara, dan melatih generasi baru penerbang di sekolah yang didirikan Agustinus Adisutjipto.
Serangan Udara Pertama Indonesia
Pada 29 Juli 1947, Halim memimpin serangan udara pertama Indonesia terhadap markas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Keberhasilan misi tersebut menegaskan eksistensi AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) di panggung internasional. Namun keberhasilan itu dibayar mahal ketika pesawat Dakota yang membawa bantuan medis ditembak jatuh, menewaskan tiga perintis AURI, termasuk Adisutjipto.
Misi Sumatera dan Pengorbanan Terakhir
Setelah menikah dengan Koesdalina pada 24 Agustus 1947, Halim diberi tugas membangun jaringan udara di Sumatera. Bersama Iswahjudi, mereka mengumpulkan dana berupa 12 kilogram emas dari rakyat untuk membeli pesawat Avro Anson (RI‑003). Pada Desember 1947, keduanya melakukan penerbangan ke Bangkok, Singapura, dan akhirnya ke Perak, Malaysia, dengan muatan persenjataan dan harapan strategis. Namun badai tak terduga mengguncang pesawat di atas perairan Lumut; Halim dan Iswahjudi kehilangan kendali dan jatuh di Pantai Lumut pada 14 Desember 1947. Hanya jenazah Halim yang berhasil ditemukan, sementara Iswahjudi dan senjata menghilang tanpa jejak.
Peninggalan dan Penghargaan
Jenazah Halim sempat dimakamkan sementara di Malaysia, kemudian dipulangkan ke Indonesia pada 10 November 1975 dan dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan, Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional (Keputusan Presiden No. 063/TK/1975) dan menganugerahkan Bintang Maha Putera Tingkat IV pada 15 Februari 1961. Nama Halim Perdanakusuma diabadikan sebagai Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, sebuah simbol yang kini sering disebut tanpa mengetahui kisah di baliknya.
Pengabdian Halim mencerminkan nilai nasionalisme sejati: kemampuan kelas dunia yang dipertaruhkan demi tanah air yang baru lahir. Dari 44 misi pengeboman di Eropa hingga serangan udara pertama Indonesia, dari pengumpulan emas rakyat hingga pengorbanan di perairan Malaysia, ia menorehkan jejak yang tak dapat diabaikan.
Dengan mengenal kembali kisah Halim Perdanakusuma, masyarakat dapat menghargai arti pulang, pengorbanan, dan cinta tanah air yang tulus. Setiap kali menyebut “Halim”, semestinya terbayang sosok pemuda Madura yang menukarkan kenyamanan Eropa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa pahlawan sejati tak hanya hidup dalam nama, melainkan dalam tindakan yang menginspirasi generasi selanjutnya.