Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 17 April 2026 | Erlangga Pratama, pemuda berusia 17 tahun asal Surabaya, kini menjadi sorotan setelah menorehkan jejak langkah menantang di Persebaya Academy. Kisahnya bukan sekadar tentang bakat di lapangan hijau, melainkan tentang tekad yang ditempa dalam empat jam perjalanan harian yang melewati gerbong kereta api, menempuh jarak jauh demi mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola profesional.
Awal Mula Mimpi di Rel Kereta
Sejak kecil, Erlangga sudah terbiasa bermain bola di pinggir rel kereta api yang melintasi kampungnya. Tanpa fasilitas lapangan resmi, ia mengasah kemampuan bersama teman‑teman menggunakan bola bekas yang kadang‑kadang hanyalah seutas kain. “Bola di sana, kami di sini, terus berlari, terus menendang,” kenangnya sambil tersenyum. Meski kondisi kurang ideal, semangatnya tak pernah padam.
Perjalanan Empat Jam yang Menjadi Rutinitas
Setiap pagi, Erlangga menumpangi kereta lokal dari Stasiun Wonokromo menuju Stasiun Gubeng, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum hingga menapaki gerbang Persebaya Academy. Total waktu tempuh mencapai empat jam, termasuk menunggu kereta, menukar moda transportasi, dan berjalan kaki. “Saya tahu ini berat, tapi setiap menit di dalam kereta adalah investasi untuk masa depan,” ujarnya.
Rutinitas ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga mental. Ia harus bangun sebelum fajar, menyiapkan perlengkapan latihan, dan tetap fokus meski sering kali harus menahan rasa lelah. Namun, dukungan keluarga, khususnya ibunya yang bekerja sebagai buruh pabrik, menjadi sumber kekuatan utama. “Ibuku selalu mengingatkan, kalau saya ingin menjadi yang terbaik, harus berkorban dulu,” ujar Erlangwa.
Seleksi Ketat di Persebaya Academy
Persebaya Academy dikenal memiliki standar seleksi yang sangat tinggi. Dari ratusan calon, hanya segelintir yang berhasil lolos tahap teknis, fisik, dan mental. Erlangga berhasil menembus proses tersebut berkat kecepatan, kelincahan, dan naluri menyerang yang menonjol. Pelatih akademi menilai, “Dia punya rasa permainan yang matang meski usianya masih muda. Kemampuannya membaca situasi di lapangan sangat mengesankan.”
Setelah diterima, ia harus menyesuaikan diri dengan jadwal latihan intensif yang mencakup teknik dasar, taktik tim, serta kebugaran fisik. Jadwal tersebut menuntut ia untuk terus menyeimbangkan antara pendidikan formal di SMA dan komitmen latihan yang memakan waktu lebih dari dua belas jam per minggu.
Strategi Mengatasi Tantangan
Untuk mengoptimalkan waktu, Erlangga mengadopsi beberapa strategi:
- Manajemen Waktu: Memanfaatkan jam perjalanan kereta untuk belajar teori sepak bola lewat buku catatan dan mendengarkan rekaman taktik tim.
- Recovery Cepat: Menggunakan teknik pemulihan seperti stretching dan kompres es setelah sesi latihan berat.
- Support System: Menjalin komunikasi rutin dengan pelatih dan teman seakademi untuk mendapatkan masukan serta motivasi.
Dengan pendekatan ini, ia mampu menjaga performa tanpa mengorbankan kesehatan.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Keberhasilan Erlangga di akademi membuka peluang untuk dipanggil ke tim junior Persebaya Surabaya dan bahkan menembus tim utama dalam beberapa tahun ke depan. Ia menargetkan debut di Liga 1 pada usia 19 tahun, sambil terus meningkatkan kemampuan teknis dan taktis.
Selain itu, ia bertekad menjadi inspirasi bagi generasi muda di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas. “Jika saya bisa, kalian juga bisa. Jangan takut bermimpi, walau harus menempuh jalan yang panjang,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Perjalanan empat jam setiap hari mungkin terdengar berat, namun bagi Erlangga, setiap detik di gerbong kereta adalah langkah mendekatkan diri pada impian. Cerita ini menggambarkan bahwa ketekunan, dukungan keluarga, dan semangat pantang menyerah dapat mengubah rel kereta menjadi landasan menuju puncak karier sepak bola profesional.



















