Kampus Diminta Aktif Bangun Dapur MBG, Unhas Pimpin dengan Investasi Rp 2 Miliar!

Berita Terbaru14 Dilihat
banner 468x60

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 02 Mei 2026 | Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menjadi sorotan nasional setelah mengumumkan biaya pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 2 miliar. Langkah ini tidak hanya menegaskan posisi Unhas sebagai pionir dapur MBG di Indonesia, tetapi juga menjadi panggilan bagi perguruan tinggi lain untuk terlibat aktif dalam memperluas jaringan layanan gizi gratis bagi masyarakat.

Sejarah Unhas dan Dapur MBG

Unhas, yang secara resmi berdiri pada 10 September 1956, memiliki akar sejarah yang dapat ditelusuri hingga tahun 1947 ketika Fakultas Ekonomi pertama kali didirikan sebagai cabang Universitas Indonesia di Makassar. Selama lebih dari enam dekade, kampus ini telah mengembangkan visi menjadi pusat unggulan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis maritim. Pada tahun terakhir, visi tersebut diwujudkan dalam bentuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola dapur MBG pertama di Indonesia.

banner 336x280

Biaya Pembangunan dan Rincian Anggaran

Menurut laporan resmi Unhas, total biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan dapur MBG mencapai Rp 2 miliar. Anggaran tersebut mencakup:

  • Pembelian tanah dan persiapan lahan sekitar Rp 400 juta.
  • Konstruksi bangunan dapur berstandar higienis senilai Rp 900 juta.
  • Pengadaan peralatan masak, pendingin, dan sistem distribusi makanan sebesar Rp 500 juta.
  • Investasi awal untuk bahan baku, tenaga kerja, serta pelatihan staf sekitar Rp 200 juta.

Penggunaan dana tersebut diharapkan dapat menutup kebutuhan operasional selama dua tahun pertama, sekaligus memberikan ruang bagi ekspansi layanan ke wilayah-wilayah sekitar Makassar.

Tantangan dan Harapan bagi Kampus Lain

Keberhasilan Unhas dalam mengimplementasikan dapur MBG menimbulkan pertanyaan penting: Mengapa tidak semua kampus mengikuti jejak yang sama? Pemerintah dan asosiasi perguruan tinggi telah mengeluarkan rekomendasi agar setiap institusi pendidikan tinggi aktif berpartisipasi dalam pembangunan dapur MBG, baik melalui alokasi anggaran internal, kerja sama dengan sektor swasta, maupun penggalangan dana publik.

Beberapa tantangan yang diidentifikasi meliputi:

  1. Keterbatasan dana operasional yang berkelanjutan.
  2. Kebutuhan tenaga ahli gizi dan manajemen logistik yang memadai.
  3. Pengawasan kualitas makanan untuk memastikan standar gizi terpenuhi.

Meski demikian, Unhas menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor—misalnya antara fakultas kedokteran, ilmu sosial, dan teknik—dapat menghasilkan model yang lebih efisien dan berkelanjutan. Kampus lain diharapkan dapat meniru pendekatan integratif ini, menyesuaikan skala proyek dengan kapasitas masing-masing, dan menjadikan dapur MBG sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat yang terstruktur.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Sejak operasional pertama pada awal 2025, dapur MBG Unhas telah menyalurkan lebih dari 10.000 porsi makanan bergizi gratis setiap bulannya kepada mahasiswa kurang mampu, penduduk sekitar kampus, serta keluarga korban bencana alam. Manfaat yang dirasakan meliputi:

  • Penurunan tingkat kekurangan gizi pada kelompok sasaran.
  • Peningkatan konsentrasi belajar dan produktivitas mahasiswa.
  • Penciptaan lapangan kerja bagi mahasiswa magang di bidang gizi, logistik, dan manajemen proyek.

Selain dampak langsung, keberadaan dapur MBG juga memperkuat ketahanan pangan daerah, karena sebagian besar bahan baku diproduksi oleh petani lokal yang terhubung melalui jaringan kemitraan Unhas. Model ini membuka peluang bagi perguruan tinggi lain untuk mengintegrasikan program pertanian berkelanjutan dengan layanan makanan gratis, menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

Dengan komitmen kuat dari pimpinan Unhas, khususnya Rektor Jamaluddin Jompa, serta dukungan nilai-nilai integritas, inovasi, katalik, dan arif yang tertuang dalam visi misi universitas, proyek dapur MBG ini diharapkan menjadi contoh teladan bagi institusi pendidikan di seluruh Indonesia. Jika berhasil, inisiatif ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

banner 336x280