Mengenal Prof Zainal Abidin: Dari Kursi Rektor Hingga Arsitek Toleransi di Tengah Konflik Sulteng

Mengenal Prof Zainal Abidin: Dari Kursi Rektor Hingga Arsitek Toleransi di Tengah Konflik Sulteng

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 19 Maret 2026 | Prof. Dr. Zainal Abidin, seorang akademisi terkemuka yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Negeri Sulawesi Tengah (UNS), kini menjadi figur sentral dalam upaya membangun budaya toleransi di provinsi yang rawan konflik agama. Perjalanan hidupnya yang sarat dengan dedikasi akademik, aktivisme sosial, dan dakwah menorehkan jejak yang menginspirasi banyak pihak.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Akademik

Lahir di kota Palu pada tahun 1958, Zainal Abidin menempuh pendidikan dasar hingga menamatkan SMA di daerah asalnya. Ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, dan meraih gelar sarjana hukum dengan predikat cum laude. Ketertarikannya pada ilmu sosial membawanya melanjutkan studi pascasarjana di luar negeri, dimana ia memperoleh gelar master dan doktor di bidang sosiologi agama dari sebuah universitas di Eropa.

Setelah kembali ke tanah air, ia mengabdi sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, termasuk UNS. Kenaikan kariernya semakin pesat ketika ia terpilih menjadi rektor pada tahun 2004. Selama masa kepemimpinan, ia dikenal melakukan reformasi struktural, meningkatkan kualitas penelitian, dan memperluas kerjasama internasional. Prestasinya membuat UNS naik peringkat nasional dan menjadi salah satu pusat studi keagamaan yang kredibel.

Transisi Menjadi Aktivis Toleransi

Pada pertengahan 2010-an, provinsi Sulawesi Tengah mengalami ketegangan sosial yang dipicu oleh perselisihan agama dan etnis. Sebagai tokoh publik yang memiliki otoritas moral, Zainal Abidin memutuskan untuk turun langsung ke lapangan. Ia mendirikan “Forum Khatulistiwa Toleransi” (FKT), sebuah lembaga non‑profit yang menghubungkan tokoh agama, pemuka adat, serta perwakilan pemerintah daerah.

Melalui FKT, ia menyelenggarakan dialog lintas‑agama, pelatihan mediasi, dan kampanye literasi toleransi di sekolah‑sekolah. Salah satu program unggulannya, “Jembatan Dialog”, mengundang ulama dari berbagai mazhab untuk membahas isu‑isu sensitif secara terbuka, sehingga mengurangi potensi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Arsitektur Toleransi di Sulteng

Konsep “arsitektur toleransi” yang dipopulerkan Zainal Abidin tidak hanya bersifat metaforis. Ia bersama timnya merancang jaringan ruang publik yang simbolik, seperti masjid‑musala yang dibangun berdekatan dengan gereja dan rumah ibadah tradisional. Setiap bangunan dilengkapi dengan papan informasi yang menampilkan nilai‑nilai bersama, misalnya “gotong‑royong” dan “kasih sayang”.

Proyek “Kampung Harmoni” di Kabupaten Donggala menjadi contoh konkret. Di sana, rumah warga Muslim, Kristen, dan kepercayaan lokal dibangun dengan arsitektur serupa, menciptakan visualisasi persamaan. Program ini didukung oleh pemerintah provinsi dan donor internasional, serta melibatkan relawan muda yang dilatih dalam teknik mediasi konflik.

Dakwah dan Pengaruh Sosial

Selain aktivitas institusional, Zainal Abidin aktif mengisi ceramah di masjid‑masjid, gereja, serta forum mahasiswa. Gaya dakwahnya yang mengedepankan rasionalitas, data, serta kisah nyata membuat pesan toleransi mudah diterima. Ia menekankan pentingnya “iman yang inklusif”, dimana keyakinan pribadi tidak menjadi alasan untuk menyingkirkan orang lain.

Pengaruhnya terbukti dari peningkatan indeks toleransi yang diukur oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dari angka 45 pada tahun 2015, indeks tersebut naik menjadi 68 pada tahun 2022, menandakan pergeseran sikap masyarakat Sulteng menuju kerukunan.

Penghargaan dan Pengakuan

Atas kontribusinya, Prof. Zainal Abidin menerima sejumlah penghargaan nasional, antara lain “Satyalancana Kebudayaan” dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta “Pahlawan Toleransi” yang dianugerahkan oleh Forum Kerukunan Umat Nasional. Ia juga diundang sebagai pembicara utama pada konferensi internasional tentang “Peacebuilding in Multi‑Religious Societies” di Geneva, 2023.

Dengan latar belakang akademik yang kuat, pengalaman kepemimpinan sebagai rektor, dan komitmen tak tergoyahkan terhadap dialog antar‑umat, Prof. Zainal Abidin berhasil mengubah paradigma konflik menjadi peluang kolaborasi. Perjalanan hidupnya menggambarkan bagaimana seorang intelektual dapat menjadi arsitek toleransi yang membangun jembatan budaya, menginspirasi generasi mendatang untuk terus menjaga keutuhan bangsa.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan