Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 19 April 2026 | Mike Mallot, petarung berusia 39 tahun asal Brasil, menorehkan sejarah pada laga utama UFC Winnipeg yang digelar di Canada Live Centre, Winnipeg, Kanada, Sabtu 18 April 2026. Dengan teknik agresif dan stamina luar biasa, Mallot berhasil menundukkan Gilbert Burns lewat TKO pada ronde ketiga, menegaskan dirinya sebagai ancaman serius di kelas welterweight.
Perjuangan Mallot di malam itu tidaklah mudah. Sejak awal ronde pertama, ia menekan Burns dengan kombinasi pukulan jab‑cross yang cepat, memaksa lawannya untuk mundur dan menutup jarak. Burns, yang sebelumnya pernah berhadapan dengan Kamaru Usman dalam pertarungan gelar lima tahun lalu, tampak berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Meski memiliki reputasi sebagai petarung berpengalaman, Burns harus mengatasi luka yang ia bawa dari pertarungan sebelumnya, termasuk cedera ringan pada lengan kiri.
Statistik dan Rekam Jejak Gilbert Burns
- Gelar pertarungan gelar welterweight melawan Kamaru Usman (2021)
- Kekalahan beruntun terhadap Belal Muhammad, Jack Della Maddalena, Sean Brady, dan Michael Morales
- Catatan kemenangan terakhir: KO atas lawan di ronde kedua pada 2024
Dalam konteks tersebut, kemenangan Mallot menjadi sorotan utama. TKO pada ronde ketiga tidak hanya meningkatkan peringkatnya, tetapi juga membuka peluang besar untuk menantang gelar welterweight. Kemenangan ini menambah rangkaian kemenangan beruntun Mallot, yang kini berada di puncak klasemen UFC welterweight.
Sementara itu, di divisi lightweight, kelas Islam Makhachev menunjukkan dinamika baru. Setelah Makhachev mempertahankan gelar dengan kemenangan dominan pada turnamen sebelumnya, muncul petarung muda berpotensi menjadi lawan utama selanjutnya. Nama yang mulai mencuat adalah Abdulaziz “The Eagle” Karimov, seorang petarung asal Kazakhstan yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan gaya grappling yang mematikan.
Karimov menorehkan kemenangan KO melawan mantan penantang gelar pada pertarungan terakhirnya, menandakan bahwa kelas Makhachev tidak lagi memiliki ruang kosong bagi para pendatang baru. Dengan kecepatan taktik ground‑and‑pound yang terasah, ia diprediksi akan menjadi tantangan serius bagi Makhachev dalam beberapa bulan mendatang.
Kejadian di UFC Winnipeg juga menambah narasi menarik tentang bagaimana petarung veteran dapat kembali bersinar. Mallot, yang sebelumnya dianggap berada di luar jalur kontestasi utama, membuktikan bahwa usia bukan halangan bila dikombinasikan dengan persiapan fisik dan mental yang tepat. Pengamat UFC menilai bahwa strategi tekanan konstan Mallot berhasil mengeksploitasi kelemahan Burns yang berusaha mengandalkan jab panjang.
Dalam wawancara pasca‑pertarungan, Mallot mengungkapkan rasa syukurnya kepada tim pelatih dan menekankan pentingnya disiplin dalam rutinitas latihan. “Saya datang ke Winnipeg dengan satu tujuan: menampilkan pertarungan yang tak terlupakan. Kemenangan ini adalah bukti kerja keras seluruh tim,” ujarnya.
Para analis MMA memperkirakan bahwa dengan kemenangan ini, Mallot dapat segera memperoleh peluang pertarungan melawan petarung peringkat atas seperti Kamaru Usman atau bahkan Leon Edwards, tergantung pada hasil negosiasi kontrak. Di sisi lain, Burns harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pertahanannya, mengingat serangkaian kekalahan beruntun yang menggerus reputasinya.
Secara keseluruhan, UFC Winnipeg menjadi panggung dramatis yang tidak hanya menyoroti kebangkitan Mallot, tetapi juga menandai pergeseran kekuatan di kelas welterweight dan lightweight. Fans MMA di seluruh dunia kini menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya, baik di jalur penantang gelar welterweight maupun di arena tantangan baru Islam Makhachev.