Waktu Adzan Maghrib di Seluruh Sulawesi dan Jawa: Jadwal, Makna, dan Tingkatan Puasa Menjelang Akhir Ramadan 2026

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 20 Maret 2026 | Jumat, 20 Maret 2026 menandai hari ke-30 Ramadan 1447 H, sekaligus hari terakhir bulan suci sebelum Idul Fitri. Di seluruh Indonesia, umat Muslim bersiap menyambut azan Maghrib yang menandai berbukanya puasa. Berbagai daerah mengumumkan waktu adzan Maghrib yang berbeda-beda, mencerminkan perbedaan geografis serta penyesuaian resmi Kementerian Agama. Berikut rangkuman lengkap jadwal adzan Maghrib di tiga wilayah utama: Polewali Mandar, Palopo, dan Surabaya, serta ulasan tentang tingkatan puasa yang diajarkan oleh Imam Al‑Ghazali.

Jadwal Adzan Maghrib di Polewali Mandar (Sulawesi Barat)

Di Kabupaten Polewali Mandar, waktu berbuka puasa pada Jumat 20 Maret 2026 ditetapkan pada pukul 18.17 WIB (WITA). Azan Maghrib berkumandang tepat setelah matahari terbenam, menandakan saat yang tepat bagi umat untuk menunaikan sahur sekaligus memulai buka puasa. Penetapan waktu ini didasarkan pada data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, yang menyesuaikan posisi matahari di wilayah tersebut.

Jadwal Adzan Maghrib di Palopo (Sulawesi Selatan)

Berbeda beberapa menit, warga Palopo mendengar adzan Maghrib pada pukul 18.13 WIB (WITA). Perbedaan empat menit ini terjadi karena letak geografis Palopo yang sedikit lebih barat dibanding Polewali Mandar, sehingga matahari terbenam lebih awal. Seperti halnya di Polewali Mandar, jadwal ini disusun oleh Kementerian Agama dengan mempertimbangkan data astronomi lokal.

Jadwal Imsak, Subuh, dan Maghrib di Surabaya (Jawa Timur)

Di Surabaya, otoritas keagamaan mengeluarkan jadwal lengkap yang mencakup Imsak, Subuh, Terbit, Duha, dan Zuhur. Waktu Imsak tercatat pada pukul 04.08 WIB, Subuh pada 04.18 WIB, dan seterusnya. Meskipun sumber tidak menyebutkan secara eksplisit waktu Maghrib, biasanya jadwal resmi Kementerian Agama mencantumkan Maghrib sekitar pukul 18.07 WIB untuk wilayah Surabaya pada tanggal yang sama, selaras dengan pola sunset di zona waktu Indonesia Barat.

Perbandingan Waktu Maghrib di Tiga Wilayah

Wilayah Waktu Maghrib (WIB) Zona Waktu
Polewali Mandar 18.17 WITA (UTC+8)
Palopo 18.13 WITA (UTC+8)
Surabaya ~18.07 WIB (UTC+7)

Perbedaan waktu tersebut menegaskan pentingnya menyesuaikan jadwal ibadah dengan posisi matahari setempat, agar setiap muslim dapat menunaikan puasa secara sahih.

Tingkatan Puasa Menurut Imam Al‑Ghazali

Selain memperhatikan waktu adzan, Imam Al‑Ghazali menekankan tiga tingkatan puasa yang dapat dijadikan pedoman spiritual bagi umat:

  • Pertama (Puasa Umum): Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual selama siang hari.
  • Kedua (Puasa Istimewa): Selain menahan diri dari makanan, meliputi pengendalian pendengaran, penglihatan, lisan, serta tindakan fisik yang dapat menimbulkan dosa.
  • Ketiga (Puasa Hati): Menahan segala hasrat duniawi, pikiran, dan keinginan yang bukan demi Allah, sehingga puasa menjadi penyucian hati sekaligus jiwa.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan, “Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa‑apa kecuali lapar dan dahaga saja” (HR Ibnu Majah No 1690). Pernyataan ini mengingatkan bahwa puasa sejati tidak sekadar menahan lapar, melainkan mengasah ketahanan spiritual hingga ke level hati.

Makna Adzan Maghrib dalam Tradisi Islam

Azan Maghrib menandai akhir hari puasa dan permulaan waktu berbuka. Secara historis, adzan pertama kali diprakarsai oleh Bilal bin Rabah atas perintah Nabi Muhammad SAW, untuk mengingatkan umat akan waktu shalat. Maghrib, sebagai shalat keempat, memiliki keistimewaan karena mengakhiri puasa sekaligus mengundang umat untuk bersyukur atas karunia hari itu. Dalam suasana Ramadan, adzan Maghrib sering diiringi dengan takbiran, doa bersama, dan tradisi berbuka bersama keluarga atau komunitas.

Persiapan Menyambut Idul Fitri

Menjelang akhir Ramadan, umat Islam tidak hanya fokus pada jadwal adzan, melainkan juga pada persiapan Idul Fitri. Di banyak daerah, kegiatan mudik, pasar-pasar Ramadan, serta penjualan takjil meningkat signifikan. Pemerintah daerah pun mengatur keamanan dan kelancaran lalu lintas, khususnya pada waktu-waktu berbuka puasa yang bersamaan di seluruh wilayah.

Dengan memahami perbedaan waktu adzan Maghrib di tiap daerah serta menghayati tingkatan puasa yang diajarkan oleh para ulama, umat dapat menjalankan ibadah Ramadan secara lebih bermakna. Semoga akhir Ramadan ini menjadi momentum introspeksi, peningkatan keimanan, dan persiapan yang tulus menyambut hari kemenangan Idul Fitri.

You May Also Like

Tinggalkan Balasan