Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 10 Juni 2026 | Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen. Kenaikan ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang telah melebihi proyeksi BI.
Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam dan melebihi proyeksi BI. Oleh karena itu, BI melakukan evaluasi dan memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebagai langkah lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah.
Kenaikan BI Rate ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia. Dengan demikian, BI berharap nilai tukar rupiah bisa stabil bahkan menguat.
Dampak terhadap Perekonomian
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga acuan telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menguat.
Airlangga menambahkan bahwa kenaikan BI Rate memang mengutamakan kestabilan ekonomi. Dengan demikian, pasar merespons baik hasil stabilisasi dari kenaikan suku bunga acuan.
Proyeksi Perekonomian 2027
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027.
Di dalamnya juga mencakup sejumlah target lain seperti suku bunga SBN 10 tahun yang dipatok antara 6,5-7,3 persen, nilai tukar rupiah yang ditargetkan di rentang Rp 16.800—Rp 17.500 terhadap dolar AS, serta inflasi yang ditargetkan antara 1,5-3,5 persen.
Dengan demikian, pemerintah optimistis bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2027 dapat tumbuh kuat dalam kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen.
Kesimpulan, kenaikan suku bunga acuan oleh BI dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Dengan demikian, pemerintah dapat meningkatkan kestabilan ekonomi dan menghadapi dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.


















