IHSG Melemah, Investor Asing Jual Besar-Besaran, Apa yang Terjadi pada BMRI?

banner 468x60

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 29 Mei 2026 | Jakarta, 29 Mei 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, tertekan oleh sentimen pasar yang dipengaruhi oleh rebalancing indeks MSCI. IHSG tercatat turun 0,05% menjadi 6.127,38, setelah sebelumnya mengalami penurunan signifikan pada Selasa lalu sebesar 1,23%.

Investor asing juga menunjukkan aksi jual yang besar, dengan nilai jual bersih mencapai Rp 1,89 triliun. Beberapa saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain adalah TPIA, BBCA, BBRI, BMRI, dan BREN. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada saham-saham besar di bursa, termasuk BMRI yang merupakan salah satu bank terkemuka di Indonesia.

banner 336x280

Sentimen Pasar dan Proyeksi IHSG

Menurut analisis dari BNI Sekuritas, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi di hari perdagangan ini, dengan level support berada di kisaran 6.000-6.070 dan resistance di antara 6.200 hingga 6.300. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI, menyatakan bahwa penurunan ini juga dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar.

Di sisi lain, bursa saham global mencatatkan kenaikan, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat, namun bursa Asia justru mengalami penurunan. Hal ini menciptakan ketidakpastian di pasar domestik, di mana IHSG berada di level tertinggi 6.230,50 dan terendah 6.111,97 pada hari ini.

Rekomendasi Saham di Tengah Gejolak

Meski IHSG mengalami koreksi, ada beberapa saham yang masih dianggap layak untuk dikoleksi. Dalam riset harian, analis merekomendasikan saham seperti BMRI, BBNI, FILM, AADI, ASII, dan BRIS sebagai pilihan trading di tengah situasi pasar yang bergejolak ini.

  • BMRI – Bank Mandiri
  • BBNI – Bank Negara Indonesia
  • FILM – MNC Pictures
  • AADI – Adhi Karya
  • ASII – Astra International
  • BRIS – Bank Syariah Indonesia

Volatilitas Menjelang Rebalancing MSCI

Dengan rebalancing indeks MSCI yang akan dilaksanakan pada 1 Juni 2026, pasar diprediksi akan mengalami volatilitas yang tinggi. Hans Kwee, seorang praktisi pasar modal, menegaskan bahwa meskipun ada tekanan pada saham-saham yang terdepak dari indeks, fundamental perusahaan-perusahaan tersebut tetap kuat. Tekanan jual yang terjadi lebih bersifat teknis dan tidak mencerminkan kinerja perusahaan yang sebenarnya.

Rebalancing ini diharapkan dapat menjadi titik terendah dari tren koreksi IHSG, di mana pasar dapat kembali berbalik arah mengikuti kondisi fundamental emiten di masa depan. Langkah-langkah reformasi yang diambil oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait diharapkan dapat memperkuat pasar modal Indonesia.

Di tengah gejolak yang terjadi, investor disarankan untuk tetap waspada dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan adanya rebalancing MSCI, potensi pergerakan pasar akan sangat bergantung pada bagaimana investor menanggapi perubahan yang terjadi di bursa.

banner 336x280
Baca juga:
Baca juga:
Baca juga:

Tinggalkan Balasan