Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 22 Maret 2026 | Musim pelaporan pajak kembali tiba, dan bersama itu hadir gelombang penipuan yang mengatasnamakan petugas Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Sementara itu, banyak wajib pajak masih belum optimal dalam memadukan data identitas diri, khususnya Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Padanan yang tepat tidak hanya mempermudah administrasi, tetapi juga melindungi dari modus penipuan yang semakin canggih.
Modus Penipuan Pajak Terbaru
Penipu kini menyamar sebagai petugas pajak dengan dalih sinkronisasi data Coretax. Mereka menghubungi korban melalui telepon atau WhatsApp, menyebutkan nama, alamat, dan NIK secara detail untuk menambah kesan kredibel. Selanjutnya, penipu meminta korban mengunggah berkas PDF berisi data pajak, lalu mengarahkan korban melakukan screen sharing dan transfer biaya materai Rp10.000 ke rekening yang mereka tentukan. Tujuannya jelas: mencuri user ID dan password mobile banking korban.
Beberapa taktik tambahan meliputi pengiriman tautan palsu yang menyerupai Google Play Store untuk mengunduh aplikasi “Coretax” palsu. Setelah terinstal, aplikasi tersebut mengakses data pribadi dan memungkinkan pencurian dana secara real‑time.
Mengapa Padankan NIK dan NPWP Penting?
Padanan NIK‑NPWP menjadi salah satu lapisan perlindungan utama. Dengan data yang terintegrasi, otoritas pajak dapat memverifikasi keabsahan identitas wajib pajak secara otomatis, mengurangi risiko pemalsuan data yang sering dimanfaatkan penipu.
- Validasi data yang akurat: Sistem akan menolak permintaan yang tidak cocok antara NIK dan NPWP, meminimalkan peluang penipu mengirimkan data palsu.
- Proses pelaporan lebih cepat: Wajib pajak yang data identitasnya sudah terdaftar di sistem Coretax dapat mengisi SPT secara online tanpa harus mengirim dokumen fisik.
- Pengurangan beban administrasi: Badan pajak tidak perlu melakukan verifikasi manual, sehingga sumber daya dapat difokuskan pada pengawasan dan penindakan.
- Deteksi dini penipuan: Ketidaksesuaian data NIK‑NPWP dapat menjadi indikator awal adanya upaya penipuan, memungkinkan otoritas mengirim peringatan ke pemilik data.
Cara Mudah Memadukan NIK dan NPWP
- Masuk ke aplikasi e‑Filing atau portal Direktorat Jenderal Pajak dengan menggunakan e‑FIN (Electronic Filing Identification Number).
- Pilih menu “Data Pribadi” lalu pilih opsi “Sinkronisasi NIK‑NPWP”.
- Masukkan NIK (16 digit) dan NPWP (15 digit) yang tertera di KTP serta Kartu NPWP.
- Jika data cocok, sistem akan menampilkan status “Terhubung”. Jika tidak, periksa kembali nomor yang dimasukkan atau hubungi kantor pajak terdekat.
- Simpan bukti konfirmasi (screenshot) sebagai dokumen pendukung pada SPT Tahunan.
Manfaat Langsung Bagi Wajib Pajak
Setelah NIK dan NPWP terhubung, wajib pajak dapat menikmati beberapa kemudahan, antara lain:
- Penggunaan e‑Bupot: Faktur elektronik otomatis terintegrasi dengan data pajak, mengurangi kesalahan input.
- Pengajuan restitusi lebih cepat: Sistem dapat melacak kelebihan bayar secara real‑time, mempercepat proses pengembalian dana.
- Akses layanan khusus: Misalnya, layanan “Pengaduan Online” yang memerlukan verifikasi identitas.
Langkah Pencegahan Menghadapi Penipuan
Berbekal pengetahuan tentang pentingnya padanan NIK‑NPWP, wajib pajak juga harus waspada terhadap modus penipuan berikut:
- Jangan pernah mengirimkan kode OTP atau password kepada pihak yang tidak resmi.
- Verifikasi nomor telepon resmi DJP melalui website resmi atau aplikasi Direktorat Jenderal Pajak.
- Jika diminta membayar biaya apa pun, terutama materai atau administrasi, pastikan prosedur tersebut tercantum dalam regulasi resmi.
- Gunakan aplikasi resmi untuk mengunduh Coretax dan hindari mengklik tautan yang dikirim melalui pesan pribadi.
Jika Anda menerima panggilan atau pesan mencurigakan, tutup komunikasi, catat nomor, dan laporkan segera ke Direktorat Jenderal Pajak atau Polisi melalui layanan pengaduan.
Dengan memadukan NIK dan NPWP secara tepat, tidak hanya mempermudah proses administrasi, tetapi juga menambah lapisan keamanan yang penting dalam era digital. Pastikan data Anda selalu terverifikasi, dan hindari jebakan penipu yang terus berinovasi.