Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 20 Maret 2026 | JAKARTA, 19 Maret 2026 – Jajaran direksi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kembali menunjukkan komitmen kuat terhadap perusahaan dengan melakukan pembelian saham secara signifikan pada awal Maret 2026. Charles Daniel Gobel, salah satu anggota direksi, tercatat membeli total lebih dari 1,35 juta lembar saham senilai sekitar Rp1,03 miliar.
Pembelian Saham Secara Bertahap
Transaksi pertama dilakukan pada 13 Maret 2026, dimana Gobel membeli 650.000 lembar saham dengan harga Rp811 per lembar, mengeluarkan dana sekitar Rp527,1 juta. Tujuh hari kemudian, pada 16 Maret, ia menambah kepemilikan sebanyak 700.000 lembar saham dengan harga Rp725 per lembar, setara dengan Rp507,5 juta. Kedua transaksi tersebut dilakukan secara langsung di pasar terbuka tanpa menggunakan skema repurchase agreement.
Motivasi dan Dampak Terhadap Harga Saham
Direktur utama BRMS, Herwin Hidayat, menyatakan bahwa tekanan pada harga saham lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, termasuk revisi outlook negatif Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch dan Moody’s. Harga saham BRMS memang mengalami penurunan tajam dalam beberapa sesi perdagangan, dari level sekitar Rp870 pada 12 Maret menjadi sekitar Rp680 pada penutupan 17 Maret, meskipun sempat mencatat kenaikan 0,74 persen pada hari tersebut.
Meski kepemilikan Gobel masih relatif kecil dibandingkan total saham beredar, aksi pembelian ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap prospek jangka panjang perusahaan. BRMS tengah mengembangkan sejumlah proyek tambang baru yang diharapkan dapat memperkuat arus kas dan meningkatkan profitabilitas.
Faktor Global yang Mempengaruhi Harga
Penurunan harga saham tidak lepas dari dinamika pasar komoditas global. Harga logam dan mineral yang diproduksi oleh BRMS terpapar pada fluktuasi permintaan internasional, nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter di negara‑negara utama. Kenaikan harga minyak dunia serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah beban biaya operasional perusahaan tambang.
Selain itu, outlook negatif dari Fitch dan Moody’s mencerminkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat, yang pada gilirannya menekan sentimen investor terhadap sektor energi dan sumber daya alam.
Prospek Jangka Panjang
Manajemen BRMS menegaskan bahwa strategi diversifikasi portofolio tambang dan optimalisasi biaya produksi tetap menjadi prioritas. Investasi pada teknologi penambangan yang lebih efisien dan upaya keberlanjutan lingkungan diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global.
Dengan adanya dukungan modal dari internal serta upaya memperkuat fundamental operasional, para analis memperkirakan bahwa harga saham BRMS berpotensi kembali menguat dalam jangka menengah, asalkan tekanan eksternal dapat dikelola dengan baik.
Reaksi Pasar dan Analisis Analis
Setelah pengumuman pembelian saham, indeks LQ45 mencatat pergerakan positif, sementara volume perdagangan saham BRMS meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan rata‑rata harian. Beberapa analis dari sekuritas terkemuka menilai bahwa aksi tersebut dapat menstabilkan harga dalam jangka pendek, namun menekankan pentingnya perbaikan fundamental perusahaan untuk mengatasi tekanan eksternal.
Menurut Budi Santoso, analis senior di PT Danareksa Sekuritas, “Pembelian oleh direksi menunjukkan adanya keyakinan terhadap prospek proyek tambang baru yang sedang dalam fase studi kelayakan. Namun, investor tetap harus memperhatikan volatilitas harga komoditas global yang dapat mempengaruhi margin perusahaan.”
Secara keseluruhan, aksi pembelian saham oleh direksi menunjukkan keyakinan terhadap nilai intrinsik perusahaan, meskipun tantangan makroekonomi global masih menjadi faktor penghambat utama.