Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Rupiah ditutup menguat 1,08% ke level Rp17.940 per dolar AS, didorong oleh sentimen positif dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan penyesuaian harga Pertamax.
Mayoritas mata uang Asia lainnya justru melemah terhadap dolar AS, dengan yen Jepang terdepresiasi 0,05%, yuan China turun 0,07%, dan dolar Singapura melemah 0,12%. Sementara itu, peso Filipina menguat 0,24%, ringgit Malaysia naik 0,05%, dan rupee India menguat 0,08%.
Penyebab Penguatan Rupiah
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan bahwa penguatan rupiah didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap langkah Bank Indonesia yang dinilai masih membuka ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Selain itu, kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax turut dipandang positif bagi rupiah karena berpotensi memperbaiki keseimbangan eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Andrew Andika, seorang aktor, mengaku bahwa kenaikan harga BBM mulai dirasakan oleh keluarganya, terutama dalam pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan. Istrinya, Violentina Kaif, mengaku bahwa kenaikan harga BBM sangat berdampak pada pengeluaran keluarga, terutama karena mereka menggunakan Pertamina Dex.
Dampak Kenaikan Harga BBM
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, menilai bahwa kelompok pekerja kelas menengah justru paling merasakan dampak kenaikan harga BBM dibandingkan kelas atas. Kenaikan harga Pertamax berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, antara lain merosotnya daya beli di kelompok menengah dan aspiring middle class, bertambahnya jumlah penduduk rentan miskin, kenaikan harga bahan pangan, transmisi penyesuaian suku bunga kredit lebih cepat, jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) melonjak pada kuartal III, serta meningkatnya risiko kriminalitas dan gejolak sosial.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di pagi hari juga mengalami penguatan, dengan rupiah berada di level Rp17.997,5 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah pada hari itu akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
Pemerintah juga memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru, guna untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah berhasil menekan dolar AS pada perdagangan hari ini, dengan mata uang negeri Paman Sam ini melemah ke level Rp 17.900-an pada awal perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS kini berada pada level Rp 17.926 atau melemah 0,72%.
Pergerakan rupiah ini menunjukkan bahwa mata uang Indonesia masih kuat dan stabil, meskipun terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, seperti kenaikan harga BBM dan tekanan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, masyarakat perlu tetap waspada dan mengikuti perkembangan ekonomi dengan cermat.


















