Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 19 Maret 2026 | Argentina resmi mengumumkan keputusannya untuk keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (tanggal), menjadi negara keempat setelah Amerika Serikat yang mengambil langkah serupa. Keputusan ini diumumkan oleh Presiden Argentina bersama menteri luar negeri dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh jurnalis nasional dan internasional.
Langkah Argentina dipandang sebagai konsekuensi dari ketidakpuasan jangka panjang terhadap kebijakan WHO, terutama terkait penanganan pandemi COVID-19 dan mekanisme pendanaan yang dianggap tidak adil. Pemerintah Buenos Aires menilai bahwa WHO terlalu politis, kurang transparan, dan tidak menghormati kedaulatan negara-negara anggotanya. Kritik serupa juga pernah diutarakan oleh Amerika Serikat pada tahun 2020 sebelum kembali bergabung pada 2024.
Alasan Politik dan Ekonomi
Beberapa faktor utama yang mendorong Argentina meninggalkan WHO meliputi:
- Ketidaksetujuan atas rekomendasi vaksinasi massal yang, menurut pemerintah, mengabaikan kebutuhan khusus populasi berpendapatan rendah.
- Ketegangan diplomatik dengan negara-negara Barat yang menilai WHO terlalu lunak dalam menanggapi penyebaran varian baru virus.
- Tekanan fiskal: Argentina mengalami defisit anggaran yang signifikan, sehingga kontribusi tahunan ke WHO dianggap beban yang dapat dipotong.
- Pengaruh kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kini mengedepankan kemandirian kesehatan nasional.
Presiden Argentina menegaskan bahwa keputusan ini tidak akan memengaruhi akses negara tersebut terhadap bantuan kesehatan internasional, karena Argentina akan tetap menjalin kerja sama bilateral dengan lembaga-lembaga lain dan memanfaatkan jaringan regional.
Dampak terhadap WHO dan Komunitas Internasional
Kepergian Argentina menambah tekanan pada WHO untuk mengevaluasi kembali struktur pendanaannya. Dengan anggota yang mundur, WHO diperkirakan kehilangan sekitar 0,5% dari total dana tahunan, angka yang secara statistik kecil namun simboliknya signifikan.
Selain itu, langkah ini memicu reaksi beragam dari negara-negara lain. Beberapa pemerintahan di Amerika Latin mengungkapkan keprihatinan, sementara beberapa negara berkembang lain menyatakan dukungan terhadap kebijakan kedaulatan kesehatan nasional. WHO sendiri menanggapi dengan pernyataan resmi yang menekankan pentingnya kerjasama multilateral dan menegaskan bahwa keputusan Argentina bersifat “sengaja dan final”.
Langkah Selanjutnya
Argentina berencana membentuk badan kesehatan nasional yang akan menggantikan peran WHO dalam koordinasi program imunisasi, surveilans penyakit, dan respon darurat. Pemerintah berjanji akan meningkatkan alokasi anggaran kesehatan domestik sebesar 15% dalam lima tahun ke depan, sekaligus memperkuat kerja sama dengan lembaga ilmiah regional seperti Pan American Health Organization (PAHO).
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa pemisahan dari WHO dapat menimbulkan tantangan dalam pertukaran data epidemiologis, standar pengujian laboratorium, dan akses ke program vaksin global seperti COVAX. Keterbatasan ini dapat mempengaruhi kemampuan Argentina dalam mengatasi wabah masa depan.
Secara keseluruhan, keputusan Argentina untuk keluar dari WHO menandai babak baru dalam politik kesehatan internasional, dimana kedaulatan nasional mulai menempati posisi lebih tinggi dibandingkan kerjasama multilateral tradisional. Keputusan ini sekaligus menjadi ujian bagi WHO untuk melakukan reformasi struktural yang dapat menenangkan anggota yang merasa terpinggirkan.