Guru Besar UI Ungkap: Mengapa Iran Minta Rusia dan China Ikut Negosiasi dengan AS

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 16 April 2026 | Iran kembali menekan panggung diplomasi internasional dengan menyerukan keterlibatan Rusia dan China dalam proses negosiasi bersama Amerika Serikat. Permintaan ini muncul bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, ke Beijing pada pertengahan April 2026, di mana ia menegaskan dukungan Moskow terhadap hak Iran mengembangkan energi nuklir damai serta menyerukan solusi bersama atas ketegangan di Selat Hormuz.

Latar Belakang Permintaan Iran

Sejak awal 2020-an, Iran berulang kali menegaskan bahwa program pengayaan uraniumnya bersifat sipil, bertujuan memenuhi kebutuhan listrik domestik. Namun, kebijakan Amerika Serikat yang menuntut Iran mengembalikan sekitar 460 kilogram uranium yang diperkirakan terkubur di bawah tanah menambah beban diplomatik Tehran. Washington menilai bahwa pengayaan tinggi dapat menjadi pijakan militer, sementara Iran membantah hal tersebut dan menuduh AS melakukan agresi yang memicu ancaman penutupan Selat Hormuz.

Baca juga:
Energi Dunia Bergolak: Inggris Batasi Solar, Iran Pecah, Irlandia Siapkan Subsidi BBM!

Lavrov dalam pernyataannya menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum menemukan bukti bahwa kegiatan Iran diarahkan untuk militer. Ia menambahkan, “Rusia siap membantu mengubah uranium yang diperkaya menjadi bahan bakar atau bahan penyimpanan yang dapat diterima oleh Iran tanpa melanggar haknya mengolah uranium secara damai.”

Peran Rusia dan China dalam Negosiasi

Rusia dan China, sebagai dua kekuatan besar yang memiliki hubungan strategis dengan Tehran, dipandang Iran sebagai penyeimbang kekuatan Barat. Lavrov menyatakan bahwa negara‑negara Teluk perlu memahami bahwa Iran tidak akan menutup Selat Hormuz kecuali ada provokasi langsung dari Amerika Serikat. Dukungan Moskow terhadap solusi energi nuklir Iran sekaligus tawaran bantuan teknis pada pengolahan uranium menambah bobot diplomatik bagi Tehran.

China, di sisi lain, sedang memperkuat kerja sama energi dengan negara‑negara Timur Tengah. Kunjungan Lavrov ke Beijing sekaligus menawarkan energi kepada China menandakan upaya koordinasi antara Moskow dan Beijing untuk menstabilkan pasar energi regional sekaligus menekan AS agar lebih realistis dalam kebijakan Timur Tengah.

Baca juga:
Krisis Energi Global Meningkat: Dampak Perang Iran yang Membebani Negara Miskin

Analisis Guru Besar UI

Profesor Dr. Budi Santoso, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa permintaan Iran untuk melibatkan Rusia dan China memiliki tiga tujuan utama. Pertama, Iran ingin memperkuat posisi tawar dengan menambah aktor global yang dapat menyeimbangkan tekanan AS. Kedua, Tehran berharap bantuan teknis dari Moskow dalam pengolahan uranium dapat mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat yang kini dibatasi oleh sanksi. Ketiga, kehadiran China sebagai mitra ekonomi terbesar dapat memberikan jaminan pasar energi bagi Iran, sehingga Tehran tidak terpaksa mengorbankan pendapatan dari ekspor minyak demi kepatuhan pada tuntutan Washington.

Menurut Dr. Budi, “Dengan mengundang Rusia dan China ke dalam meja perundingan, Iran tidak hanya mencari dukungan politik, tetapi juga mengamankan jalur teknologi dan pasar energi yang vital bagi perekonomian nasional.” Ia menambahkan bahwa langkah ini dapat memperpanjang proses negosiasi, memberi Iran ruang lebih untuk menyesuaikan kebijakan internalnya tanpa harus segera memenuhi semua tuntutan AS.

Implikasi Regional dan Internasional

Jika Rusia dan China secara resmi bergabung dalam negosiasi, dinamika geopolitik di kawasan Teluk dapat berubah signifikan. Berikut beberapa potensi dampaknya:

Baca juga:
Iran Tembak Jatuh Drone MQ‑9 Amerika, AS Siapkan 3.500 Pasukan di Timur Tengah – Ketegangan Meningkat
  • Penurunan ketegangan Selat Hormuz: Keterlibatan kedua negara besar dapat menurunkan risiko penutupan selat, yang selama ini menjadi titik rawan bagi perdagangan minyak dunia.
  • Penguatan blok non‑Barat: Koordinasi antara Tehran, Moskow, dan Beijing dapat memperkuat aliansi yang menentang dominasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan.
  • Perubahan kebijakan sanksi: Tekanan diplomatik dari Rusia dan China dapat memaksa Washington meninjau kembali atau melunakkan sanksi yang selama ini menghambat dialog.
  • Stabilisasi pasar energi: Bantuan teknis dalam pengolahan uranium serta kerjasama energi antara Iran dan China dapat menambah pasokan energi alternatif, mengurangi volatilitas harga minyak global.

Namun, risiko juga tetap ada. Amerika Serikat dapat melihat keterlibatan Rusia dan China sebagai upaya memperluas pengaruh Kremlin dan Partai Komunis ke dalam kebijakan Timur Tengah, yang pada gilirannya dapat memicu respons militer atau ekonomi lebih keras.

Secara keseluruhan, strategi Iran untuk melibatkan Rusia dan China dalam negosiasi dengan AS mencerminkan upaya Tehran menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional, kebutuhan energi, dan tekanan internasional. Keberhasilan atau kegagalan pendekatan ini akan sangat menentukan arah kebijakan luar negeri Iran dalam beberapa tahun ke depan serta memengaruhi stabilitas geopolitik di wilayah yang selama ini menjadi titik persimpangan antara kepentingan Barat dan Timur.

Tinggalkan komentar