Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 20 April 2026 | Washington melaporkan serangan udara besar-besaran terhadap instalasi militer Iran pada minggu lalu, namun intelijen terbaru mengungkapkan bahwa sebagian besar kemampuan persenjataan Iran masih beroperasi. Menurut laporan dari sumber resmi Amerika Serikat, Iran berhasil mempertahankan sekitar 40 persen dari armada drone pra-perangnya dan lebih dari 60 persen sistem peluncur rudalnya.
Data Intelijen Mengungkap Realita di Lapangan
Penilaian intelijen yang dirilis pada 18 April 2026 menegaskan bahwa Iran tidak mengalami kepunahan total pada sektor drone dan rudal, melainkan tetap memiliki cadangan signifikan. Informasi tersebut bertolak belakang dengan pernyataan publik mantan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang berulang kali menyatakan bahwa pertahanan Iran telah hancur total.
Data menunjukkan bahwa sekitar 40% drone Iran – yang secara teknis disebut “drone Iran” dalam dokumen intelijen – masih dapat terbang, melakukan misi pengintaian, serta meluncurkan muatan rudal ringan. Sementara itu, lebih dari 60% peluncur rudal tetap berada dalam kendali Tehran, termasuk lebih dari 100 sistem yang disembunyikan di dalam gua dan bunker sejak gencatan senjata pada 8 April.
Upaya Pemulihan Persenjataan
Pejabat militer AS menambahkan bahwa pasukan Iran telah melakukan operasi pemulihan untuk mengekstrak rudal yang terkubur di bawah reruntuhan fasilitas militer yang sebelumnya menjadi target serangan. Diperkirakan, hingga 70% persenjataan pra-perang dapat dipulihkan setelah proses rehabilitasi selesai.
Meski infrastruktur manufaktur senjata Iran mengalami kerusakan signifikan, kemampuan produksi kembali diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan operasional jangka pendek, terutama dalam rangka menahan tekanan ekonomi maritim. Perdagangan laut menyumbang sekitar 90% aktivitas ekonomi Iran, setara dengan kira-kira 340 juta dolar AS per hari, namun sebagian besar aliran barang kini terhambat akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.
Strategi Asimetris dan Dampak Geopolitik
Para analis menilai bahwa Iran kini lebih mengandalkan strategi asimetris, memanfaatkan geografi Selat Hormuz sebagai senjata utama. “Jika terjadi konflik di masa depan, menutup selat itu akan menjadi langkah pertama Tehran,” kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel.
Rusia juga memberikan komentar terkait situasi ini. Wakil kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan bahwa Iran telah menguji kemampuan senjata nuklirnya, menambah ketegangan di kawasan.
Reaksi Amerika Serikat
Pemerintah AS tetap menegaskan kesiapan angkatan lautnya untuk mencegat ancaman yang berasal dari drone dan rudal Iran. Meskipun kapal perang AS memiliki sistem pertahanan canggih, pejabat mencatat bahwa kapal tanker komersial masih rentan terhadap serangan.
Sejumlah pejabat intelijen menilai bahwa meskipun Iran belum melakukan eskalasi langsung terhadap armada AS, potensi penutupan Selat Hormuz kembali dapat mengganggu perdagangan global dan menambah tekanan ekonomi pada kedua belah pihak.
Dengan data intelijen yang menunjukkan kemampuan bertahan drone Iran dan sistem peluncur rudal, situasi geopolitik di Teluk Persia tetap berada pada titik rawan. Kedua negara tampaknya berada dalam permainan tarik ulur yang menuntut kehati-hatian diplomatik dan militer.