Aji Darmaji Batal Nikah Lagi, Kesedihan Ramadan Pertama Tanpa Mpok Alpa Membuatnya Menolak Langkah Baru

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 18 Maret 2026 | Jakarta – Suami almarhum komedian legendaris Mpok Alpa, Aji Darmaji, mengungkapkan betapa rapuhnya hatinya menjelang Ramadan dan Idul Fitri pertama tanpa kehadiran istri tercinta yang wafat pada 15 Agustus 2025 karena kanker payudara.

Kesedihan Aji Darmaji Menyambut Ramadan Tanpa Mpok Alpa

Dalam wawancara di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Selasa 17 Maret 2026, Aji mengaku merasakan kesepian yang mendalam. “Ya seperti hal‑hal yang enggak kita sangka, kayak gitu kan. Namanya kehilangan seorang ibu nih, saya juga kehilangan seorang istri, saya kuat‑kuatin aja, tegar‑tegarin di depan anak,” ujarnya. Ia menekankan bahwa momen menyiapkan hidangan berbuka dan sahur bersama Mpok Alpa adalah kenangan yang paling ia rindukan.

“Padahal ngedrop, rapuh, ya kan enggak bisa dibohongin namanya secara batin tuh kita tetap merasakan kesepian,” kata Aji dengan lirih. “Karena kan waktu masih ada almarhumah, segala sesuatunya tuh dari makan apa, kita ditanya, ‘Mau makan apa, Pa? Mau makan apa Dek, Kak?’ Almarhumah pasti yang masak, yang ngebumbuin semuanya. Kalau bukan almarhumah yang ngebumbuin rasanya beda.”

Rencana Pernikahan yang Tertunda

Beberapa minggu sebelum kematian Mpok Alpa, muncul spekulasi bahwa Aji berencana menikah lagi. Namun, setelah kepergian istri, niat tersebut “langsung rontok”, kata Aji dalam percakapan dengan wartawan. Ia menegaskan bahwa rasa bersalah atas ucapan‑ucapan keras yang pernah ia lontarkan kepada Mpok Alpa ketika masih hidup membuatnya ragu untuk melangkah ke pernikahan baru. “Ada bagian dalam diri saya yang masih menyesal karena pernah menohoknya di saat‑saat paling sensitif. Saya tidak ingin melanjutkan hidup tanpa menebusnya dulu,” ujarnya.

Pengaruh Ucapan Menohok pada Mpok Alpa

Menurut Aji, ucapan‑ucapan yang terasa menohok pada Mpok Alpa selama masa pernikahan mereka memberi dampak psikologis yang belum sepenuhnya sembuh. “Dia selalu ceria, tapi ada kalanya saya terlalu keras. Sekarang, setiap kali saya mengingatnya, rasa bersalah itu muncul bersamaan dengan rindu,” jelasnya. Rasa bersalah itu menjadi salah satu alasan utama mengapa Aji menolak untuk mengikat pernikahan baru, setidaknya sampai ia merasa hatinya cukup kuat untuk memaafkan diri sendiri.

Tradisi Keluarga yang Dipertahankan

Meskipun kehilangan sosok ibu sekaligus istri, Aji berusaha menjaga tradisi keluarga, termasuk pemilihan seragam Lebaran yang biasanya dipilih oleh Mpok Alpa. Tahun ini, putri mereka, Sherly, mengambil alih tugas tersebut. “Tiap tahunnya kita nyiapin seragam, pasti kita seragaman sama anak. Walaupun udah enggak ada almarhumah juga tetap seragaman. Sekarang aku yang milih‑milih, soalnya Papa agak ribet buat warna,” ujar Sherly yang mendampingi ayahnya.

Aji juga menegaskan prioritas utama tahun ini adalah mengunjungi makam istri tercinta. “Tahun ini saya beranjak langsung ke makam almarhumah nih. Karena saya membawa anak‑anak, pertama‑tama ke makam almarhumah,” tegasnya. Setelah sholat Id, keluarga langsung beralih ke rumah untuk maaf‑maafan sebelum kembali ke makam, menandakan betapa pentingnya ritual tersebut dalam proses berduka.

Secara keseluruhan, Aji Darmaji menutup kisah Ramadan pertamanya tanpa Mpok Alpa dengan harapan dapat terus tegar demi anak‑anaknya, sekaligus mengakui bahwa rasa bersalah atas ucapan‑ucapan kerasnya masih menjadi beban emosional yang harus diatasi sebelum ia mempertimbangkan langkah baru dalam hidupnya.

Dengan demikian, meski terdapat godaan untuk melanjutkan hidup melalui pernikahan baru, Aji memilih untuk memberi ruang pada proses penyembuhan diri, menghormati kenangan Mpok Alpa, dan menjaga tradisi keluarga yang menjadi pengikat kuat di tengah duka.

About the Author: Gentza Kennelly Gentza

Tinggalkan Balasan