Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 23 Maret 2026 | Jakarta – Pengacara senior Taufik Bilhaki kembali menjadi sorotan publik setelah ia secara tajam mengkritik penelitian yang dilakukan oleh mantan Menteri Komunikasi Roy Suryo dan Dokter Tifa terkait dugaan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di sebuah konferensi pers yang diadakan di Hotel Grand Indonesia, Bilhaki menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan menegaskan bahwa beliau tidak akan membela Jokowi secara agresif jika terbukti ijazahnya palsu.
Dalam pernyataannya, Bilhaki menyoroti metodologi penelitian Roy Suryo dan Dr. Tifa yang dianggapnya “kurang ilmiah” dan “berbasis spekulasi”. Ia menuduh kedua tokoh tersebut tidak memiliki keahlian forensik pendidikan yang memadai untuk menilai dokumen akademik, serta menekankan bahwa proses verifikasi harus melalui lembaga resmi seperti Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Kontroversi Ijazah Jokowi
Isu keaslian ijazah Jokowi muncul kembali setelah beberapa pihak, termasuk aktivis anti‑korupsi, menuntut transparansi mengenai riwayat pendidikan sang presiden. Roy Suryo, yang dikenal sebagai aktivis anti‑korupsi dan mantan pejabat pemerintah, bersama Dr. Tifa, seorang dokter yang aktif di media sosial, mengklaim menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen ijazah yang diduga dimiliki Jokowi.
Menurut mereka, terdapat perbedaan format penomoran, cap institusi, dan tanda tangan yang tidak sesuai dengan standar dokumen akademik pada masa 1970-an. Namun, Taufik Bilhaki menolak temuan tersebut, menyebutnya sebagai “interpretasi bebas” yang dapat menyesatkan publik.
Pujian kepada Rismon
Di tengah kritikan tersebut, Bilhaki memberikan pujian kepada Rismon, seorang pakar hukum tata negara yang dikenal kritis terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Bilhaki menyebut Rismon sebagai “suara rasional yang mampu menyeimbangkan perdebatan” dan menekankan pentingnya pendekatan hukum yang objektif dalam menyikapi isu-isu sensitif seperti keaslian ijazah presiden.
“Rismon telah menunjukkan bahwa kita harus tetap berpegang pada prinsip rasionalitas dan tidak terjebak dalam emosionalisme yang dapat menimbulkan dosa moral,” ujar Bilhaki. “Kita harus menilai fakta secara ilmiah, bukan berdasarkan rumor yang beredar di media sosial.”
Reaksi Publik dan Media
- Netizen: Beragam komentar muncul di media sosial, mulai dari dukungan penuh terhadap Bilhaki hingga skeptisisme terhadap seluruh proses verifikasi ijazah.
- Pengamat Politik: Beberapa pengamat menilai bahwa perdebatan ini mencerminkan dinamika politik yang semakin terpolarisasi, dimana setiap langkah pemerintah mudah dipertanyakan.
- Lembaga Pendidikan: Kemendikbudristek belum memberikan pernyataan resmi, namun menegaskan bahwa verifikasi dokumen akademik harus melalui prosedur yang telah ditetapkan.
Para ahli hukum menambahkan bahwa kritik Bilhaki terhadap Roy Suryo dan Dr. Tifa tidak serta merta meniadakan kemungkinan adanya ketidaksesuaian pada dokumen. Namun, mereka menekankan pentingnya prosedur hukum yang jelas, termasuk permohonan pemeriksaan forensik yang independen.
Langkah Selanjutnya
Menanggapi tekanan publik, pihak kepresidenan menyatakan kesiapan untuk membuka dokumen asli Jokowi kepada lembaga independen guna menghilangkan spekulasi. Sementara itu, Roy Suryo dan Dr. Tifa berencana mengajukan permohonan resmi ke lembaga forensik pendidikan untuk melakukan analisis mendalam.
Dalam konteks ini, Taufik Bilhaki menegaskan bahwa dirinya tidak akan menjadi “pelindung” Jokowi jika terbukti dokumen tersebut palsu. Ia menambahkan, “Kita semua harus bersikap rasional, takut pada dosa moral apabila kita menutup-nutupi kebenaran.”
Isu ijazah Jokowi diprediksi akan terus menjadi perbincangan hangat di kalangan politik dan masyarakat umum. Keputusan akhir mengenai keaslian dokumen tersebut akan menjadi tolok ukur transparansi pemerintah serta integritas lembaga-lembaga yang berwenang.