Warga Jangli Tertahan di Tenda: Relokasi Janji Pemerintah Masih Belum Jelas, Relawan Datang Lebih Dulu

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 16 April 2026 | Warga yang terdampak tanah bergerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, masih harus menunggu kepastian hunian tetap meski masa pinjam lahan mereka telah berakhir. Pada Kamis (16/4/2026), 63 jiwa yang tinggal dalam 63 tenda melaporkan bahwa mereka masih diperbolehkan menumpang tenda sementara sambil menantikan pembangunan hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah.

Suasana di lapangan pengungsian tampak sepi; sebagian besar tenda kosong, dan beberapa tenda yang masih dihuni menunjukkan kebocoran yang meneteskan air pada malam sebelumnya. Meskipun cuaca buruk, warga tetap bertahan, berharap rencana relokasi yang diusulkan akan segera terwujud.

Baca juga:
Harga Plastik Meroket! Puan Maharani Usulkan Solusi Alami: Daun Jadi Pengganti

Janji Hunian Tetap dan Ketidakpastian Detail

Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sukaryono, menyampaikan bahwa pihak kelurahan telah memberi sinyal bahwa lahan hunian tetap berlokasi di Rowosari. Namun, detail seperti bentuk hunian—apakah berupa rumah susun atau rumah individu—belum diungkapkan. “Kami masih menunggu proses huntap, diperkirakan masih 1‑2 bulan lagi,” ujar Joko.

Menurut data yang diberikan oleh ketua RT, 17 rumah yang terdampak melibatkan 23 kepala keluarga, total 63 jiwa termasuk bayi baru lahir dan wanita hamil. Mekanisme pembayaran atau skema pembiayaan hunian masih menjadi pertanyaan, tetapi warga menegaskan bahwa mereka tidak keberatan selama mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak.

Suara Warga: Harapan dan Kekhawatiran

  • Sugiarti, 36 tahun: Merasa lega setelah mendengar rencana relokasi, namun mengkhawatirkan lamanya proses. “Alhamdulillah kalau memang jadi, harapannya jangan lama-lama, takut tanah makin parah,” ujarnya.
  • Supardi, 50 tahun: Tidak terlalu mempersoalkan lokasi relokasi selama rumah yang diberikan aman dari gerakan tanah. “Yang penting dapat rumah yang layak, tidak ada gerakan tanah,” tambahnya.

Peran Relawan dan TNI

Menjelang akhir hari, sejumlah relawan lokal muncul lebih dulu di lokasi pengungsian, menyiapkan bantuan makanan dan perlengkapan dasar. Mereka berkoordinasi dengan TNI yang mengeluarkan peringatan agar warga tidak kembali ke rumah yang masih berisiko. “Kami mendapat warning dari TNI, warga tidak boleh kembali karena potensi bahaya,” kata Joko.

Baca juga:
Krisis di Dunia Pendidikan: Ribuan Guru Keluhkan Dampak MBG pada Jam Mengajar dan Tunjangan

Keberadaan relawan memberikan sedikit kelegaan bagi warga yang harus menunggu proses resmi, sekaligus menegaskan bahwa masyarakat setempat siap membantu satu sama lain dalam menghadapi krisis.

Pernyataan Lurah Rowosari

Lurah Rowosari, Eko Pudji Harijadi, mengonfirmasi adanya rencana relokasi bagi warga terdampak, namun menolak memberikan rincian lebih lanjut. “Lahan tersebut adalah aset Pemkot, jadi kepastiannya ditentukan oleh Pemerintah Kota,” ujar Eko ketika dihubungi.

Ia menambahkan bahwa proses penetapan lahan masih dalam tahap finalisasi, sehingga belum dapat diumumkan secara publik.

Baca juga:
Gempa Berkekuatan 5,1 Guncang Maluku Tenggara, Dampak dan Tindakan BMKG di Seluruh Indonesia

Kesimpulan

Dengan masa pinjam lahan yang telah berakhir, warga Jangli masih terpaksa bertahan di tenda pengungsian sambil menunggu realisasi hunian tetap yang masih belum jelas detailnya. Meskipun ada janji pemerintah, ketidakpastian mengenai bentuk, lokasi, dan skema pembiayaan hunian tetap menimbulkan kecemasan di kalangan warga. Sementara itu, kehadiran relawan dan peringatan TNI menunjukkan bahwa dukungan sosial dan keamanan menjadi prioritas dalam situasi ini. Diharapkan pihak terkait dapat mempercepat proses relokasi dan memberikan kepastian yang dibutuhkan agar warga dapat kembali ke kehidupan yang lebih stabil dan aman.

Tinggalkan komentar