Salmafina Sunan Desak Sherel Thalib Hentikan Penggalian Masa Lalu Taqy Malik: Nilai Taqy Sudah Berubah

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 30 Maret 2026 | Jakarta, 29 Maret 2026 – Kontroversi antara mantan istri Taqy Malik, Salmah “Salmafina” Sunan, dengan istri barunya, Sherel Thalib, kembali mengemuka setelah Sherel menyinggung masa lalu pernikahan yang dulu berakhir perceraian. Salmafina menegaskan perubahan nilai Taqy Malik dan meminta Sherel agar tidak mengangkat kembali peristiwa lama yang dianggapnya sudah selesai.

Reaksi Salmafina di Instagram

Ketegasan Salmafina terlihat jelas di unggahan Instagram Story-nya pada Sabtu 28 Maret 2026, di mana ia membagikan tulisan Sherel yang menyebut “hoax media tentang masa lalu suami”. Salmafina menanggapi dengan mengirimkan pesan pribadi (DM) kepada Sherel, menuliskan, “Hai Kak @sherel_thalib, sini-sini kita cerita di DM, ibu saya kok saksinya bahwa itu menjadi salah satu permasalahan.” Ia menambahkan, “Sudahlah, saya tidak pernah ganggu kamu dan rumah tanggamu, tapi kalau kamu begini, saya harus speak up.”

Baca juga:
Kisah Pilu Pinkan Mambo Minta Cerai: Arya Khan Diam-diam Pakai Uang Endorse dan Bangun Rumah Tanpa Izin

Dalam beberapa unggahan berikutnya, Salmafina menegaskan bahwa ia selalu berusaha menghormati kehidupan baru mantan suaminya. Ia menyatakan, “Tiap kali berbicara dengan suami dia, saya selalu mendoakan dan bertanya tentang istri barunya, atas dasar saya menghargai.” Namun, munculnya komentar publik yang mengangkat kembali isu lama membuatnya merasa terpaksa bersuara.

Sejarah Kontroversi Legging 2017

Isu legging menjadi titik awal perseteruan antara Salmafina dan Taqy Malik. Pada tahun 2017, saat masih berumah tangga, Salmafina mengunggah foto dirinya mengenakan legging di pegunungan bersalju Swiss. Taqy menanggapi dengan teguran yang kemudian disebut-sebut menjadi salah satu faktor keretakan rumah tangga mereka. Salmafina mengungkap bahwa ibunya turut menjadi saksi dalam konflik tersebut.

Perceraian resmi tercatat pada 21 Februari 2018, setelah pernikahan yang dilangsungkan pada 16 September 2017. Meskipun demikian, media sosial terus menggali kembali peristiwa tersebut, terutama ketika Sherel menyinggungnya dalam konteks hubungan baru Taqy.

Murtad dan Beban Emosional Salmafina

Di tengah sorotan mengenai perceraian, Salmafina juga mengungkapkan perjalanan spiritual pribadinya. Ia menolak anggapan bahwa keluar dari agama Islam (murtad) adalah solusi atas masalah hidupnya. Pada 29 Maret 2026, Salmafina menulis di Instagram Story, “Siapa yang bilang murtad itu solusi? Keliru,” lalu melanjutkan, “Justru yang aku rasain semenjak murtad/ whatever you call it, aku bener‑bener diterpa 1001 masalah yang jauh lebih kompleks dan substansial dari perceraian.”

Salmafina menegaskan bahwa pencarian spiritual bukan pelarian, melainkan bagian dari dinamika ujian manusia. Ia juga mengakui bahwa dirinya belum sempurna, masih sering memposting foto bikini meski kini mengaku mengenal figur Yesus. Pernyataan ini menunjukkan konflik internal antara penampilan publik dan keyakinan pribadi.

Baca juga:
Salmafina Sunan Bikin Geger: Balasan Tajam atas Sindiran Legging Sherel Thalib, Konflik Taqy Malik Memanas

Ajakan untuk Menjaga Etika Diskusi Online

Salmafina menutup beberapa unggahannya dengan himbauan kepada netizen agar tidak memperkeruh suasana dengan hujatan. Ia menekankan pentingnya menghormati proses pribadi masing‑masing, terutama dalam konteks pernikahan yang telah berakhir. “Kalau belum bisa menjaga lisan, at least coba minta hikmat sebelum berucap. Kalo belum bisa bantu orang, at least jangan bikin susah,” tuturnya.

Dengan semua pernyataan tersebut, jelas bahwa Salmafina berusaha menegaskan bahwa nilai-nilai pribadi dan hubungan Taqy Malik telah berubah, dan ia tidak ingin masa lalu terus dipolitisasi. Ia juga menegaskan bahwa konflik seharusnya diselesaikan secara pribadi, bukan melalui platform publik.

Situasi ini menjadi contoh nyata bagaimana dinamika hubungan mantan pasangan selebriti dapat memicu perdebatan luas di media sosial, menuntut kesadaran akan batasan dalam mengangkat kembali peristiwa lama yang telah selesai. Masyarakat diharapkan dapat menilai fakta secara objektif tanpa memperparah konflik pribadi yang sudah berada di luar panggung publik.