Wafatnya KH Abdul Halim Mahfudz, Pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak sekaligus Cicit Pendiri NU, Menyisakan Warisan Spiritual dan Jurnalistik

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 09 April 2026 | Jombang, 9 April 2026 – Dunia pesantren dan jurnalistik Indonesia berduka atas meninggalnya KH Abdul Halim Mahfudz, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Iim, pada Rabu, 8 April 2026 pukul 10.15 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah Madiun. Ia mengemban dua peran penting: sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak dan wartawan Harian Surya Surabaya.

Garis Keturunan yang Membentang Hingga Pendiri NU

Gus Iim merupakan cicit langsung dari Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama. Dari pihak ibunya, Nyai Abidah, ia menurunkan darah keturunan KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang juga merupakan anak KH Hasyim Asy’ari. Keturunan ini tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, melainkan juga menumbuhkan rasa tanggung jawab moral dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren.

Jejak Awal dan Pendidikan

Lahir pada 17 Juli 1954 di Jombang, Gus Iim menapaki pendidikan formal sejak usia dini. Berikut rangkaian pendidikannya:

  • 1966 – Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, Jombang
  • 1970 – Pendidikan Guru Agama (PGA) selama empat tahun
  • 1971 – Sekolah Persiapan (SP) IAIN Jombang
  • Setelahnya – Nyantri ke Lasem di bawah bimbingan KH Maksum, sahabat ayahnya, dimana ia belajar tidak hanya ilmu agama tetapi juga etika seorang kiai.

Pendidikan tersebut membentuk fondasi keilmuan yang kemudian ia aplikasikan dalam peran sebagai pengasuh pesantren dan wartawan.

Karier di Dunia Jurnalistik

Meski dilahirkan di lingkungan pesantren, Gus Iim menapaki dunia media dengan langkah yang tak terduga. Ia bergabung dengan Harian Surya Surabaya, di mana ia dikenal sebagai wartawan yang mampu menyampaikan berita dengan bahasa yang lugas namun tetap memuat nilai-nilai keislaman. Sikap sederhana dan kemampuan bergaul dengan siapa saja membuatnya dihormati baik oleh kolega media maupun kalangan pesantren.

Pengasuhan Pondok Pesantren Salafiyah Seblak

Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, yang didirikan oleh KH Ma’shum Ali (mertua sekaligus guru beliau), menjadi arena utama Gus Iim memperlihatkan dedikasinya. Sebagai pengasuh, ia menjaga keseimbangan antara tradisi klasik pesantren dengan tantangan modern, termasuk mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan dalam kurikulum pesantren. Ia juga dikenal aktif menyalurkan bantuan kepada santri yang membutuhkan, serta memfasilitasi dialog lintas mazhab di lingkungan pesantren.

Keluarga, Penghormatan, dan Pemakaman

Gus Iim adalah kakak kandung KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Timur. Pada saat pengumuman duka, Gus Bahar, putra kedua almarhum, menyampaikan permohonan maaf kepada sahabat-sahabat almarhum atas segala kekhilafan. Pemakaman dilaksanakan di Jombang, tempat beliau lahir dan besar, dengan kehadiran tokoh-tokoh pesantren, rekan wartawan, serta warga setempat yang memberikan penghormatan terakhir.

Kepergian Gus Iim menandai berakhirnya sebuah era yang memadukan keilmuan tradisional dengan semangat modern. Warisannya tetap hidup melalui generasi santri yang terus mengembangkan pesantren Salafiyah Seblak serta karya jurnalistik yang menginspirasi banyak orang.

Dengan menelusuri jejak hidupnya, dapat disimpulkan bahwa KH Abdul Halim Mahfudz tidak hanya mewarisi darah biru ulama, tetapi juga menularkan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan dedikasi kepada masyarakat. Semoga amal ibadahnya diterima dan inspirasinya terus mengalir dalam setiap langkah santri dan jurnalis muda Indonesia.

Tinggalkan komentar