Dubes Iran Boroujerdi Diterima TGB: Dukungan Indonesia, Tuduhan Fitnah, dan Ancaman Jurang Sunni‑Syiah

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 April 2026 | JAKARTA – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melakukan serangkaian pertemuan dengan tokoh‑tokoh nasional pada awal Maret 2026, menandai upaya diplomasi Tehran untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan Indonesia selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Agenda pertemuan dan simbolis peluncuran buku

Acara dimulai dengan peluncuran buku peringatan al‑Mawla Ayatollah Ali Khamenei yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu, 3 Maret 2026. Boroujerdi menekankan bahwa penerbitan buku tersebut sekaligus menjadi sarana “reportase” kondisi terkini Iran yang tengah berada di tengah serangan militer dan tekanan ekonomi internasional.

Baca juga:
Intelijen AS Tuduh Kondisi Kesehatan Kritis Mojtaba Khamenei, Tehran Membantah Secara Tegas

Daftar tokoh yang ditemui

  • Presiden ke‑5 RI, Megawati Soekarnoputri
  • Presiden ke‑7 RI, Joko Widodo
  • Wakil Presiden ke‑10 dan ke‑12, Jusuf Kalla
  • Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto
  • Ketua PBNU, Yahya Cholil Staquf
  • Cendekiawan Islam, Din Syamsuddin, bersama perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam
  • Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang Zainul Majdi
  • Tokoh budaya dan seniman terkemuka yang tidak disebutkan nama secara publik

Setiap pertemuan diwarnai dengan penekanan Boroujerdi atas rasa terima kasih Iran atas “dukungan luas” masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk pro‑Iran di media sosial, aksi solidaritas, maupun kunjungan resmi. Ia menambahkan, “Jika Presiden Prabowo Subianto memberi kesempatan bertemu, saya akan sangat berterima kasih.”

TGB menyuarakan solidaritas dan menyinggung fitnah

Di sela‑sela agenda, tokoh senior TGB (Tokoh Gerakan Budaya) yang hadir bersama Boroujerdi menyampaikan dukungan penuh kepada rakyat Iran yang terdampak sanksi dan serangan udara. TGB menyoroti adanya “fitnah” yang beredar di kalangan tertentu, yang diyakini menjadi pemicu memperdalam jurang sekat Sunni‑Syiah, tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di Indonesia.

Baca juga:
Ray Rangkuti Gigit Prabowo: Kritik Tajam atas Julukan ‘Indonesia Gelap’ yang Mulai Memanas

“Fitnah yang menyebutkan bahwa Iran memanfaatkan konflik Sunni‑Syiah untuk kepentingan geopolitik harus dipatahkan dengan fakta,” ujar TGB dalam pernyataan tertulisnya. Ia menekankan pentingnya dialog lintas mazhab, serta peran Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim untuk menjadi penengah yang objektif.

Reaksi warga dan analis

Berbagai kalangan masyarakat menanggapi pertemuan ini dengan beragam pandangan. Kelompok aktivis hak asasi manusia menilai kunjungan ini sebagai peluang diplomasi “soft power” Iran, sementara sebagian kalangan politik menilai dukungan Indonesia masih bersifat non‑intervensi.

Baca juga:
Surat dua kali kepada Presiden Prabowo, Aliansi PPPK Paruh Waktu Indonesia ajukan tiga tuntutan penting untuk menghindari PHK massal dan perbaiki gaji

Para analis politik menilai langkah Iran ini mencerminkan strategi “public diplomacy” untuk menggalang simpati internasional, khususnya di negara dengan populasi Muslim terbesar. Mereka juga memperingatkan bahwa penyebaran fitnah tentang perpecahan Sunni‑Syiah dapat menimbulkan ketegangan sektarian di Indonesia, meski belum tampak eskalasi signifikan.

Kesimpulan

Pertemuan Boroujerdi dengan para pemimpin Indonesia menegaskan hubungan bilateral yang semakin erat, sekaligus menyoroti sensitivitas isu agama yang dapat dimanfaatkan sebagai alat politik. Dukungan publik terhadap Iran tetap menjadi topik yang dipantau, terutama ketika figur publik seperti TGB menekankan pentingnya menepis fitnah demi menjaga persatuan umat.