Santriwati Hilang 3 Bulan, Zulala Ditemukan Sehat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 April 2026 | Seorang santriwati berusia 17 tahun dari Pondok Pesantren Al Muhajirin, Depok, yang menghilang sejak 2 Februari 2026, akhirnya ditemukan dalam keadaan sehat di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Jumat, 3 April 2026. Penemuan ini mengakhiri pencarian intensif selama hampir tiga bulan dan menjadi sorotan publik karena perjalanan misterius yang dilalui korban.

Rangkaian Kejadian dan Penemuan

Zulala Azizi, santriwati asal Cilangkap, Tapos, Depok, dilaporkan menghilang setelah meninggalkan sebuah surat pada tanggal 2 Februari. Surat tersebut tidak memuat alasan jelas, melainkan hanya menyatakan niatnya untuk pergi. Selama masa menghilang, keluarga dan pihak pesantren melakukan upaya pencarian melalui media sosial, laporan ke pihak berwajib, serta koordinasi dengan jaringan santri di wilayah Jabodetabek.

Baca juga:
Pasangan Suami Istri Rangkaian Rencana Pencurian Motor di 9 Lokasi dari Surabaya hingga Kediri, Terungkap Kode Rahasia Sebelum Bertindak

Pada Jumat, 3 April 2026, tiga santri yang sedang berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak menemukan Zulala. Menurut keterangan paman Zulala, Makus, ketiga santri tersebut menemukan korban pada pukul 09.55 WIB dan melaporkan temuan itu kepada keluarga. Zulala berada dalam kondisi sehat, meskipun tidak memiliki identitas resmi pada saat penemuan.

Perjalanan Panjang Selama Hilang

Makus mengungkapkan bahwa selama masa menghilang, Zulala melakukan perjalanan yang cukup jauh, berpindah-pindah tempat tanpa jejak yang jelas. Dari terminal Cibinong, ia sempat menuju Bandung, dilanjutkan ke Tasikmalaya, kemudian kembali ke Jakarta, dan akhirnya berakhir di Surabaya. Rute ini menunjukkan pola pergerakan yang tidak terduga, menambah kebingungan mengenai motif di balik kepergian tiba‑tiba tersebut.

Selama perjalanan, Zulala tampaknya tidak memiliki dokumen resmi seperti KTP atau kartu identitas pesantren, sehingga menyulitkan pihak berwenang dalam melacak keberadaannya. Keluarga menyatakan keprihatinan mendalam, terutama karena tidak ada kontak sama sekali selama hampir tiga bulan.

Reaksi Keluarga dan Komunitas

Paman Zulala, Makus, mengaku sangat lega dan emosional saat mendengar kabar kembalinya keponakannya. “Sangat senang Zulala kembali, sampai saya menangis dan memikirkan bagaimana cara pulangnya, karena Zulala sendiri tidak punya identitas,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ia belum menanyakan alasan mengapa Zulala menghilang, memilih untuk membiarkan proses mengalir dan fokus pada pemulihan mental korban.

Baca juga:
Santriwati Hilang 3 Bulan Ditemukan di Surabaya: Misteri Perjalanan Panjang dari Depok hingga Tanjung Perak

Keluarga dan pihak pesantren berencana memberikan pendampingan psikologis serta meninjau prosedur keamanan internal pesantren. Mereka berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi institusi keagamaan dalam mengawasi dan melindungi santri, terutama yang masih berusia remaja.

Implikasi Sosial dan Hukum

Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan anak di lingkungan pesantren serta peran aparat dalam menangani orang hilang. Meskipun Zulala berhasil ditemukan, proses pencarian memakan waktu lama, menyoroti perlunya koordinasi lebih cepat antara lembaga kepolisian, lembaga sosial, dan komunitas keagamaan.

Pihak kepolisian setempat mencatat bahwa tidak ada laporan penculikan atau kejahatan lain yang terkait dengan kasus ini. Namun, mereka menekankan pentingnya pelaporan segera ketika seseorang menghilang, serta pentingnya memiliki identitas resmi yang dapat memudahkan verifikasi lokasi.

Di sisi lain, masyarakat luas memberikan dukungan moral melalui media sosial, menyebarkan foto dan informasi terkait Zulala, serta mengajak warga untuk lebih waspada terhadap anak-anak yang bepergian tanpa pendamping.

Baca juga:
Misteri Kematian Yai Mim di Kantor Polisi: Kejang Mendadak, Kekurangan Oksigen, dan Tersangka Meninggal

Penemuan Zulala di Surabaya juga menegaskan pentingnya jaringan solidaritas antar santri. Tiga santri yang menemukan korban melaporkan temuan tersebut tanpa menunggu otoritas, menunjukkan rasa tanggung jawab kolektif di antara anggota komunitas pesantren.

Dengan kembalinya Zulala, fokus kini beralih pada proses rehabilitasi dan reintegrasi ke lingkungan pesantren. Pihak pesantren berjanji akan meninjau kembali kebijakan pengawasan, serta memberikan dukungan psikologis untuk membantu korban mengatasi trauma yang mungkin dialaminya selama masa menghilang.

Kasus ini menjadi pengingat bagi orang tua, lembaga pendidikan, dan otoritas untuk memperkuat sistem pengawasan, terutama bagi remaja yang berada dalam lingkungan keagamaan yang terisolasi. Diharapkan, langkah-langkah preventif yang lebih kuat dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.