Skandal dan Gemerlap: Kontroversi China serta Premier London The Devil Wears Prada 2 Mengguncang Dunia Film

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 23 April 2026 | Film sekuel yang sangat ditunggu, The Devil Wears Prada 2, kembali menelusuri dunia mode dengan sentuhan modern, namun tak lepas dari sorotan tajam. Di satu sisi, film ini memukau dengan penampilan glamor di panggung fashion internasional, sementara di sisi lain memicu protes keras di China karena dugaan unsur rasisme dalam karakter pendukung asal China.

Kontroversi Rasisme di China

Sejumlah warganet China mengkritik cuplikan video resmi yang dirilis 20th Century Studios di YouTube. Karakter bernama Jin Chao, diperankan oleh aktris keturunan China‑Amerika Helen J. Shen, digambarkan sebagai lulusan Yale yang bekerja sebagai asisten Andrea Sachs (Anne Hathaway). Nama “Jin Chao” dianggap menyerupai istilah merendahkan “Ching Chong”, yang secara historis dipakai untuk mengejek bahasa dan budaya Asia.

Baca juga:
Gelombang Kejujuran Tak Terbendung! Ramalan Cinta 12 Zodiak di Masa Depan yang Tak Bisa Disembunyikan

Selain nama, penampilan Jin Chao juga menjadi bahan perdebatan. Dalam video, ia tampil dengan kacamata tebal, pakaian sederhana, dan ekspresi yang dianggap berlebihan, menimbulkan stereotip negatif tentang orang Asia yang berpendidikan tinggi namun kurang “kecanggihan” sosial. Kritikus menilai bahwa karakter tersebut tidak selaras dengan dunia fashion yang glamor, melainkan menegaskan citra lama tentang orang Asia sebagai sosok canggung.

Seruan boikot pun meluas di platform media sosial Tiongkok. Pengguna menuntut agar film ini tidak ditayangkan di bioskop mereka, mengingat film ini tampaknya ditargetkan untuk pasar China namun justru menyinggung sensitifitas lokal. Pihak studio belum memberi pernyataan resmi mengenai perubahan atau penyesuaian konten.

Premiere London yang Mencuri Perhatian

Sementara kontroversi berkembang, The Devil Wears Prada 2 digelar premier megah di London pada 28 April, sehari sebelum penayangan perdana global di Korea Selatan. Red carpet menjadi panggung bagi para bintang, termasuk Meryl Streep, Anne Hathaway, dan penampilan baru Sydney Sweeney yang sempat mengundurkan diri karena penyesuaian adegan.

Para pemeran mengenakan karya desainer ternama: Balenciaga, Mugler, serta kreasi khusus dari rumah mode Italia. Berikut beberapa sorotan fashion di acara tersebut:

Baca juga:
Rizky Billar Bongkar Penipuan Giveaway dan Ungkap Kehidupan Sederhana Orang Tua Lesti Kejora di Kampung
  • Anne Hathaway memukau dengan gaun panjang berwarna biru zamrud, dihiasi sequins yang berkilau, dipadukan dengan sandal berhak tinggi berdesain futuristik.
  • Meryl Streep memilih setelan tuxedo hitam klasik dengan potongan modern, melengkapi tampilan dengan perhiasan mutiara minimalis.
  • Para aktor pendatang baru menonjolkan tren streetwear high‑fashion, menggabungkan jaket oversized dengan celana kulit.

Acara juga menyoroti keindahan kota Milan, Italia, sebagai latar utama film. Beberapa adegan menampilkan landmark fashion Italia, memperkuat citra film sebagai jembatan antara dunia mode Barat dan Eropa.

Reaksi Publik dan Dampak Bisnis

Meski boikot di China dapat memengaruhi pendapatan box office, film ini tetap diharapkan menghasilkan angka signifikan di pasar internasional. Penonton global menantikan bagaimana film ini menggabungkan elemen fashion, humor, dan drama kantor yang menjadi ciri khas film pertama.

Para analis industri memperkirakan bahwa kontroversi di Asia dapat menambah eksposur media, yang pada gilirannya meningkatkan minat penonton di wilayah lain. Namun, mereka juga menekankan pentingnya sensitivitas budaya dalam produksi film global.

Di sisi lain, penampilan fashion di premier London berhasil menegaskan kembali posisi film ini sebagai sorotan utama dalam kalender mode 2026. Kolaborasi dengan merek-merek mewah diprediksi akan meningkatkan penjualan produk terkait, serta memperluas jangkauan merchandise resmi.

Baca juga:
Alyssa Daguise Rasakan ‘Bieberchella’ dari Rumah: Menyambut Kedatangan Bayi Sambil Menyaksikan Justin Bieber di Coachella 2026

Seiring dengan rilis pada 1 Mei di China dan penayangan global di Korea Selatan, mata dunia tetap tertuju pada bagaimana film ini menyeimbangkan antara estetika mode dan tanggung jawab sosial.

Terlepas dari perdebatan, The Devil Wears Prada 2 telah menciptakan percakapan yang melampaui layar lebar, memicu diskusi tentang representasi etnis dalam industri hiburan serta menegaskan kembali daya tarik tak terbantahkan dunia fashion di panggung sinema.

Tinggalkan komentar