IHSG turun 2,16%: Rupiah Menguat, Bursa Asia Terpuruk

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 24 April 2026 | Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Kamis (23/4), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah dengan penurunan 2,16 persen, atau setara 163,006 poin, menuju level 7.378,606. Penurunan ini menandai salah satu hari perdagangan terburuk dalam beberapa minggu terakhir, dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan sentimen negatif di kawasan Asia.

Penurunan IHSG dan LQ45

Selain IHSG, Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham likuid terkemuka juga mengalami penurunan tajam, jatuh 20,091 poin atau 2,73 persen, berakhir di 715,877. Aktivitas jual beli mendominasi sesi perdagangan dengan 192 saham mencatat kenaikan, sementara 505 saham terjun bebas dan 123 saham tetap stagnan.

Baca juga:
IHSG Membuka Hari dengan Laju Tinggi, Rupiah Terpuruk di Rp 17.105 per Dolar AS

Frekuensi transaksi mencapai 3.068.118 kali, dengan total volume perdagangan mencapai 53,738 miliar lembar saham yang senilai sekitar Rp20,353 triliun. Angka ini mencerminkan likuiditas yang masih tinggi meski pasar berada dalam tekanan.

Rupiah Menguat di Tengah Gejolak Saham

Sebagai kontras, nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan. Mengutip data Bloomberg, rupiah menguat 105 poin atau 0,61 persen, menguat ke Rp17.286 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini sebagian dipicu oleh aliran masuk dana asing yang mencari nilai relatif lebih murah di pasar Asia pasca penurunan indeks regional.

Saham-Saham Top Losers

Berbagai saham tercatat sebagai yang paling tertekan pada sesi tersebut. Wahana Interfood Nusantara (COCO) turun 76 poin atau 14,62 persen menjadi Rp444 per lembar. Merry Riana Edukasi (MERI) melorot 27 poin atau 14,59 persen ke Rp158, sedangkan Trimitra Propertindo (LAND) terjun 16 poin atau 14,29 persen ke Rp96. Pikko Land Development (RODA) juga tidak luput, turun 13 poin atau 14,13 persen menjadi Rp79.

Baca juga:
Terobosan Emas: Collective Mining Gali Lebih Dalam di Once Caldas dengan Kadar 21,14 g/t!

Kondisi Bursa Asia Secara Regional

Penurunan di Bursa Efek Indonesia sejalan dengan pelemahan pasar saham di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 445,699 poin atau 0,75 persen, berakhir di 59.140,199. Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 248,041 poin atau 0,95 persen, mencapai 25.915,199. China mencatat penurunan pada indeks SSE Composite sebesar 13,009 poin atau 0,32 persen, berakhir di 4.093,250. Singapura juga mengalami penurunan, dengan Straits Times Index turun 55,610 poin atau 1,11 persen, menjadi 4.947,109.

Dampak Terhadap Investor dan Sentimen Pasar

Penurunan tajam IHSG memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel maupun institusi. Beberapa analis memperkirakan bahwa tekanan ini dapat berlanjut jika data ekonomi global tidak menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait kebijakan moneter di Amerika Serikat dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat.

Namun, penguatan rupiah memberikan sinyal positif bagi sektor impor dan perusahaan yang bergantung pada mata uang asing. Nilai tukar yang lebih kuat dapat menurunkan beban biaya produksi bagi perusahaan yang mengimpor bahan baku, sekaligus meningkatkan daya beli konsumen terhadap barang impor.

Baca juga:
Purbaya Ungkap Strategi Fiskal dan Target Pertumbuhan 5,5% dalam Dialog Eksklusif dengan BlackRock di AS

Prospek ke Depan

Melihat tren terkini, para pelaku pasar diperkirakan akan memantau dengan seksama data ekonomi makro, termasuk inflasi, neraca perdagangan, dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Selain itu, perkembangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik dan kebijakan stimulus di negara-negara maju menjadi faktor kunci yang dapat memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan.

Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, melakukan diversifikasi portofolio, dan memperhatikan likuiditas saham-saham yang memiliki fundamental kuat. Di tengah volatilitas, peluang bagi saham-saham dengan valuasi menarik dan prospek pertumbuhan jangka panjang masih terbuka.

Secara keseluruhan, IHSG turun menunjukkan dinamika pasar yang sensitif terhadap kondisi eksternal, sementara penguatan rupiah memberikan sedikit ruang bernapas bagi ekonomi domestik. Keputusan kebijakan selanjutnya, baik di tingkat domestik maupun internasional, akan menjadi penentu utama bagi stabilitas pasar modal Indonesia ke depan.

Tinggalkan komentar