BI Dorong Kredit Lewat Pinisi, Superbank Soroti Permintaan Lesu di Tengah Ketidakpastian Global

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 28 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya memperkuat fungsi intermediasi perbankan dengan meluncurkan program Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi). Program ini dirancang untuk mempercepat penyaluran kredit ke sektor produktif, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta proyek strategis yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi inklusif.

Latar Belakang Program Pinisi

Pinisi merupakan inisiatif sinergi kebijakan makroprudensial antara BI dan pemerintah, yang diresmikan pada awal 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya peran jasa keuangan dalam menggerakkan UMKM serta menciptakan lapangan kerja baru. Hingga akhir Maret 2026, program tersebut telah menyalurkan kredit senilai Rp78,39 triliun, mencakup sekitar 25% dari target tahunan.

Baca juga:
Dividen Bank Swasta 2026: BNGA Raih Rp4,07 Triliun, NISP Ikuti, Siapa Paling Royal untuk Investor?

Superbank (SUPA) Catat Permintaan Kredit Masih Lesu

Pada konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Superbank yang digelar di Jakarta Selatan, Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyampaikan bahwa meskipun penawaran kredit terus mengalir, sisi permintaan masih belum optimal. “Banyak pelaku usaha yang masih berada dalam mode menunggu kepastian ekonomi dalam tiga hingga enam bulan ke depan,” ujar Tigor. Ia menambahkan bahwa kondisi geopolitik global menambah rasa hati-hati para pengusaha, yang enggan mengambil risiko tanpa perhitungan matang.

Superbank sendiri melaporkan pertumbuhan kredit yang cukup impresif, dengan kenaikan 50% pada tahun 2025 dan target pertumbuhan 50‑60% untuk tahun 2026. Namun, Tigor menegaskan bahwa peningkatan angka tersebut lebih didorong oleh kebijakan internal dan ekosistem perbankan yang sehat, bukan oleh lonjakan permintaan eksternal.

Data Pertumbuhan Kredit Nasional

Bank Indonesia mengungkapkan bahwa pada Maret 2026, total kredit perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan (YoY). Angka ini menunjukkan bahwa likuiditas perbankan tetap kuat dan bank memiliki amunisi yang cukup untuk menyalurkan kredit. Namun, pertumbuhan tersebut masih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian pasar global, inflasi, dan fluktuasi nilai tukar.

Baca juga:
Kenaikan Harga BBM & LPG Non‑Subsidi: Pemerintah Tegaskan Kebijakan Subsidi Pertamina
  • Target kredit Pinisi 2026: Rp315 triliun.
  • Realisasi hingga Maret 2026: Rp78,39 triliun (25%).
  • Pertumbuhan kredit bank secara keseluruhan: 9,49% YoY.
  • Target pertumbuhan kredit Superbank 2026: 50‑60%.

Tantangan di Sisi Permintaan

Menurut Tigor, tantangan utama bukan pada kesiapan bank, melainkan pada perilaku nasabah yang masih menahan ekspansi. “Mereka menilai kondisi makro, mikro, dan keseluruhan ekonomi sebelum memutuskan mengambil kredit,” jelasnya. Kondisi ini sejalan dengan observasi BI yang menyoroti perlunya stimulus tambahan untuk menstimulasi permintaan, terutama di sektor riil.

Selain itu, kebijakan fiskal pemerintah yang berfokus pada penguatan sektor riil, seperti investasi infrastruktur, diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan bagi para pelaku usaha. Namun, sampai kebijakan tersebut terasa dampaknya, banyak perusahaan memilih menunda investasi baru.

Prospek ke Depan

Pinisi diharapkan terus memperluas jangkauannya, tidak hanya ke UMKM, tetapi juga ke sektor strategis seperti energi terbarukan, teknologi, dan manufaktur berteknologi tinggi. Jika permintaan kredit dapat terbangun kembali, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan dukungan perbankan akan mempercepat pemulihan ekonomi.

Baca juga:
EU Luncurkan Sanksi Ke‑20, Terminal Minyak Karimun Masuk Radar – Dampak Besar bagi Rusia dan Indonesia

Superbank menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung program Pinisi, sambil terus memantau dinamika permintaan. “Kami siap menyalurkan kredit bila ada kebutuhan riil, namun kami juga harus memastikan risiko tetap terkendali,” tuturnya.

Secara keseluruhan, meski program Pinisi telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penyaluran kredit, tantangan pada sisi permintaan masih menjadi penghambat utama. Kestabilan geopolitik, kepastian kebijakan ekonomi, dan kepercayaan pelaku usaha menjadi faktor kunci untuk mengaktifkan kembali arus kredit dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Tinggalkan komentar