Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 29 April 2026 | Pada hari Selasa, 28 April 2026, sebuah perusahaan riset teknologi Jepang, LifePrompt Inc., mengumumkan hasil uji coba yang menggemparkan dunia akademik. Model terbaru ChatGPT 5.2 Thinking berhasil mencetak skor tertinggi pada ujian masuk dua universitas paling bergengsi di Jepang, yaitu University of Tokyo dan Kyoto University. Pencapaian ini melampaui nilai tertinggi yang pernah diraih oleh peserta manusia, menimbulkan perdebatan sengit tentang masa depan proses seleksi perguruan tinggi.
Prestasi ChatGPT di Ujian Universitas Tokyo dan Kyoto
Di University of Tokyo, ChatGPT mencetak nilai sempurna pada bagian matematika serta memperoleh 452 poin dari 550 pada jalur humaniora. Pada jalur sains, AI tersebut meraih 503 poin, jauh di atas skor tertinggi peserta manusia. Nilai keseluruhan unggul sekitar 50 poin dibandingkan kandidat terbaik pada jalur kedokteran.
Di Kyoto University, performa AI tidak kalah mengesankan. Pada fakultas hukum, ChatGPT memperoleh 771 poin, sementara pada fakultas kedokteran mencatat 1.176 poin. Kedua hasil tersebut juga melampaui batas skor maksimum yang diumumkan universitas untuk peserta manusia.
Detail Metode Pengujian
Pengujian dilakukan dengan memasukkan soal dalam format gambar, mirip dengan prosedur ujian konvensional yang mengharuskan peserta membaca soal secara visual. Jawaban esai, khususnya pada mata pelajaran seperti sejarah dunia, kemudian dievaluasi oleh pengajar profesional dari lembaga bimbingan belajar terkemuka di Jepang. Meskipun AI menunjukkan keunggulan pada soal pilihan ganda dan matematika, nilai pada esai bahasa Inggris hanya mencapai 90 persen, sedangkan pada esai sejarah dunia hanya sekitar 25 persen.
Model ChatGPT 5.2 Thinking yang dipakai merupakan versi yang telah dilatih dengan data terkini hingga akhir 2025, termasuk modul pemahaman visual yang memungkinkan interpretasi gambar soal. Kepala LifePrompt, Satoshi Endo, menegaskan bahwa perkembangan kemampuan AI dalam kurun satu tahun terakhir sangat signifikan, terutama bila dibandingkan dengan versi sebelumnya yang pada tahun 2024 gagal mencapai ambang kelulusan.
Implikasi bagi Sistem Seleksi Pendidikan
Keberhasilan AI dalam menaklukkan ujian bergengsi menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah sistem seleksi berbasis tes tertulis masih relevan di era digital? Beberapa pakar pendidikan berpendapat bahwa kemampuan AI dalam memproses informasi secara cepat dan akurat dapat menjadi standar baru yang menuntut perubahan kurikulum dan metode evaluasi.
- Revisi kurikulum: Menambahkan komponen penilaian yang menilai kreativitas, etika, dan kemampuan berpikir kritis yang sulit diotomatisasi.
- Penerapan evaluasi berbasis proyek: Menggantikan sebagian tes tertulis dengan tugas praktis yang melibatkan kolaborasi manusia‑AI.
- Penguatan literasi digital: Mengajarkan mahasiswa cara berinteraksi secara efektif dengan alat AI untuk meningkatkan produktivitas belajar.
Namun, tidak semua pihak menyambut ide reformasi secara positif. Sebagian kalangan mengkhawatirkan potensi ketimpangan akses terhadap teknologi AI canggih, yang dapat memperlebar jurang antara institusi elit dan daerah kurang berkembang.
Reaksi Akademisi dan Pemerintah
Reaksi di kalangan akademisi beragam. Profesor Hiroshi Tanaka dari Fakultas Psikologi University of Tokyo menilai bahwa “AI memang dapat menguasai pengetahuan faktual, tetapi belum dapat meniru intuisi manusia dalam menafsirkan konteks sosial.” Sementara itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan akan mempelajari hasil uji coba ini sebagai bahan pertimbangan kebijakan.
Di sisi lain, organisasi mahasiswa menuntut transparansi lebih lanjut mengenai cara penilaian esai oleh manusia, mengingat potensi bias dalam penilaian terhadap karya yang dihasilkan AI. Mereka menekankan pentingnya menjaga integritas akademik sambil tetap terbuka pada inovasi teknologi.
Secara keseluruhan, pencapaian ChatGPT dalam ujian masuk universitas top Jepang menandai titik balik dalam sejarah pendidikan tinggi. Jika tidak direspons dengan kebijakan yang adaptif, sistem seleksi tradisional berisiko menjadi usang di tengah revolusi AI yang semakin mendominasi berbagai aspek kehidupan.
Ke depan, dialog antara pemerintah, institusi pendidikan, pakar AI, dan masyarakat luas menjadi kunci untuk merumuskan kerangka seleksi yang adil, inklusif, dan relevan dengan tantangan era digital.