Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 06 Mei 2026 | Kiki Tresia, seorang IRT Binjai, baru-baru ini harus menelan pil pahit setelah suaminya, Rasdy Fauzi, meninggal dunia saat bekerja di Kamboja. Kejadian tragis ini mengguncang keluarga dan menyoroti kerasnya realitas ekonomi yang mendorong banyak warga Indonesia merantau ke luar negeri demi mencari nafkah.
Rasdy, berusia 39 tahun, sebelumnya bekerja sebagai sales di PT Mayora hingga kontraknya berakhir pada akhir 2024. Setelah tiga bulan tanpa mendapat pekerjaan baru, tekanan keuangan semakin menumpuk, terutama karena istri dan dirinya harus memenuhi kebutuhan medis karena Kiki menderita diabetes.
Keputusan Berangkat ke Kamboja
Dengan harapan memperbaiki kondisi keuangan, Rasdy menerima tawaran dari sebuah perusahaan yang kemudian terungkap sebagai jaringan penipuan (scam) yang beroperasi di Poipet, perbatasan Kamboja‑Thailand. Gaji yang ditawarkan hanya sekitar 300 dolar Amerika per bulan (sekitar lima juta rupiah), namun menjanjikan bonus tambahan antara 20 hingga 30 juta rupiah pada bulan Mei.
Meskipun keluarga menolak karena risiko tinggi, Rasdy tetap berangkat pada 28 Februari 2025 melalui Bandara Kualanamu. Sesampainya di Kamboja, ia tinggal di sebuah mess perusahaan dan rutin mengirimkan sebagian gaji kepada Kiki, yang terus berjuang mengendalikan penyakitnya.
Penurunan Kesehatan dan Kematian Mendadak
Pada pertengahan April 2026, perusahaan tempat Rasdy bekerja dibubarkan dan kontraknya dihentikan. Ia diminta kembali ke Indonesia, namun memilih bertahan menunggu bonus yang dijanjikan. Selama tiga hari terakhir, Rasdy mengalami stres berat karena bonus belum cair. Teman kerjanya melaporkan bahwa Rasdy hanya mengonsumsi kopi dan rokok, tanpa makan, sehingga mengakibatkan masalah asam lambung yang berujung pada pingsan dan meninggal secara tiba‑tiba.
Kiki menerima kabar duka pada dini hari Minggu, 3 Mei 2026, melalui seorang rekan kerja yang menghubungi keluarga. Ia menggambarkan suaminya dalam kondisi tertekan, “Dia stress karena bonusnya itu dilarikan orang. Tiga hari dia gak makan. Cuma minum kopi dan merokok. Jadi dia mungkin asam lambung, jatuh pingsan langsung meninggal.”
Jenazah Masih Tertahan di Kamboja
Hingga kini, jenazah Rasdy masih berada di mess tempat ia tinggal di Poipet. Kiki mengungkapkan bahwa meski sudah tiga hari sejak kematian, jenazah belum dapat dipulangkan karena proses birokrasi yang rumit. Keluarga telah menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk meminta bantuan, namun koordinasi dengan kepolisian setempat masih dalam tahap awal.
Selain menunggu bantuan diplomatik, Kiki juga berharap agar gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dapat memberikan dukungan berupa dana atau intervensi administratif agar proses pemulangan jenazah dapat dipercepat.
Refleksi Masalah Ekonomi dan Migrasi
Kisah pilu IRT Binjai ini mencerminkan fenomena yang semakin umum di Indonesia: warga yang terpaksa mengambil pekerjaan berisiko tinggi di luar negeri karena keterbatasan lapangan kerja domestik. Banyak dari mereka terjebak dalam jaringan penipuan atau pekerjaan tidak resmi yang tidak memberikan perlindungan hukum.
Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan peningkatan signifikan jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor informal di luar negeri selama lima tahun terakhir. Tanpa jaminan sosial yang memadai, risiko kesehatan, kecelakaan, dan bahkan kematian menjadi ancaman nyata bagi para migran.
Harapan Kiki dan Pesan bagi Pemerintah
Kiki hanya ingin melihat suaminya untuk terakhir kalinya dan memberikan penghormatan terakhir yang layak. Ia berharap proses pemulangan jenazah dapat selesai secepatnya, sehingga keluarga dapat menguburnya di Binjai sesuai tradisi.
Kasus ini sekaligus menjadi panggilan bagi pemerintah untuk meningkatkan perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, termasuk memperketat pengawasan terhadap agen‑agen penyalur tenaga kerja serta memberikan bantuan konsuler yang lebih cepat dalam situasi darurat.
Dengan mengingat tragedi yang menimpa IRT Binjai ini, diharapkan seluruh pihak, mulai dari keluarga, pemerintah, hingga masyarakat, dapat bersinergi menciptakan lingkungan kerja yang aman dan menghormati martabat pekerja migran.