Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 07 Mei 2026 | Konflik di Selat Hormuz kembali memanas setelah serangan mematikan terhadap kapal sipil di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026) yang menewaskan lima orang warga sipil. Pemerintah Iran menuduh militer Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan tersebut.
Menurut laporan, kapal yang diserang bukanlah kapal milik Garda Revolusi Islam (IRGC), melainkan perahu pengangkut barang dan penumpang yang berlayar dari Khasab, Oman, menuju pesisir Iran. Pasukan AS menyerang dua perahu kecil yang membawa warga sipil dalam perjalanan menuju pesisir Iran.
Tuduhan dan Kontra Tuduhan
Iran menuduh AS salah sasaran dan meminta pertanggungjawaban penuh atas kejahatan tersebut. Sementara itu, militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal cepat Iran yang dianggap mengancam keselamatan pelayaran komersial.
Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat setelah serangan drone dan rudal balistik menghantam fasilitas kilang minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Kebakaran besar melanda fasilitas energi krusial tersebut dan melukai tiga orang pekerja asal India.
Diplomasi dan Upaya Damai
Di tengah ketegangan yang semakin meningkat, upaya diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk terus dilakukan. Presiden AS Donald Trump menyebut AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir terkait peluang kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Iran juga mengumumkan bahwa pelabuhan-pelabuhan Teheran siap untuk menyediakan layanan maritim, dukungan teknis, pasokan, dan bantuan medis kepada kapal-kapal yang terdampar di Hormuz dan perairan teritorial regional.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Angkatan Laut juga menyampaikan apresiasi kepada para kapten dan pemilik kapal yang beroperasi di Teluk Persia dan Laut Oman karena mematuhi regulasi Iran saat melintasi Selat Hormuz.
Kondisi Baru di Hormuz
IRGC menyebutkan bahwa dengan berakhirnya ancaman dari pihak yang disebut sebagai agresor, kondisi baru kini tengah dibangun untuk menjamin pelayaran yang aman dan stabil di Selat Hormuz. Namun, belum dijelaskan secara rinci apakah pembatasan akan dilonggarkan sepenuhnya.
Kondisi ini muncul di tengah meningkatnya upaya diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk, termasuk pembahasan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran global yang sempat terganggu akibat konflik.
Penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga komoditas energi global dan menumbuhkan kekhawatiran resesi ekonomi. Dalam situasi ini, upaya untuk mencapai kesepakatan damai dan mengakhiri konflik menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi global.