Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 24 April 2026 | Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) menggelar serangkaian langkah strategis untuk mengendalikan peredaran ikan sapu-sapu yang kini menjadi sorotan publik. Langkah itu mencakup pembentukan tim terpadu, penangkapan massal, serta kajian pemanfaatan ikan tersebut sebagai pakan ternak dan pupuk organik.
Tim Terpadu Awasi Pedagang Siomay
Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, mengumumkan pembentukan tim pengawasan yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM). Tim ini bertugas memeriksa keabsahan bahan baku siomay yang dijual di pasar tradisional dan modern, memastikan tidak ada ikan sapu-sapu yang masuk ke menu konsumen.
“Kami tidak ingin langkah ini bersifat represif. Pemeriksaan akan dilakukan secara terukur agar tidak merugikan pedagang kecil,” ujar Anwar dalam acara Berdiskusi Kota dan Wartawan (Berkawan). Ia menambahkan, edukasi kepada pedagang menjadi prioritas utama, agar mereka memahami risiko kesehatan bila menggunakan ikan sapu-sapu yang belum terbukti aman dikonsumsi.
Pemetaan Wilayah dan Distribusi Alat Tangkap
Sudin KPKP Jakarta Selatan telah memulai pemetaan zona rawan peredaran ikan sapu-sapu. “Saat ini kami sedang menyusun peta prioritas, nanti akan diinformasikan kapan dan di mana tim akan melakukan sidak,” kata Kepala Sub Direktorat KPKP, Arief.
Untuk mendukung operasi penangkapan, Pemkot Jaksel menyalurkan bantuan peralatan tangkap ke seluruh kecamatan. “Kecamatan‑kecamatan antusias berpartisipasi dalam operasi penangkapan, sehingga kami dapat menurunkan populasi ikan sapu-sapu secara signifikan,” tuturnya.
Operasi Penangkapan Besar: Lebih dari 10.000 Ton Tertangkap
Data terbaru Dinas KPKP DKI Jakarta mengungkap total akumulasi 10.189 ton ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap dari lima kota administratif pada 17‑21 April 2026. Penangkapan simultan di Jakarta Timur (20 April) dan Jakarta Selatan (21 April) menambah volume tangkapan secara signifikan.
Menurut Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, SOP penanganan telah dirancang agar proses pemusnahan tidak mencemari lingkungan. Ikan yang ditangkap dipastikan mati dengan cara mematahkan leher atau membelah, kemudian dimasukkan ke dalam karung tertutup rapat untuk dibawa ke lokasi penguburan yang telah ditentukan, seperti Bak Bahan Inokulasi (BBI) dan Kebun Bibit Ciganjur.
Kontroversi Penguburan Hidup-hidup dan Tanggapan MUI
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebutkan adanya kritik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait praktik penguburan ikan sapu-sapu yang belum mati. “Kami akan memperbaiki prosedur, memastikan ikan dimatikan terlebih dahulu sebelum penguburan,” ujar Rano dalam pertemuan di Balai Kota.
Rano juga menyinggung usulan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai arang, mengacu pada praktik yang pernah diterapkan di Brasil. Usulan tersebut masih dalam tahap kajian bersama pihak akademis dan industri.
Potensi Pemanfaatan Sebagai Pakan Ternak dan Pupuk Organik
Selain pemusnahan, Pemkot Jaksel bersama KPKP sedang menelaah nilai gizi ikan sapu-sapu untuk dijadikan pakan ternak. Analisis awal menunjukkan kandungan protein tinggi yang dapat mengurangi ketergantungan peternak pada pakan konvensional.
Pemanfaatan sebagai pupuk organik juga tengah dipertimbangkan. Proses pengomposan ikan sapu-sapu dapat menghasilkan bahan organik yang kaya nitrogen, bermanfaat bagi sektor pertanian perkotaan.
Rencana Kedepan
- Operasi penangkapan lanjutan dijadwalkan pada awal Mei 2026, melibatkan seluruh kecamatan Jakarta Selatan.
- Pelatihan intensif bagi pedagang makanan mengenai bahan baku aman akan dilaksanakan secara berkala.
- Uji laboratorium terhadap sampel ikan sapu-sapu untuk menentukan kelayakan sebagai pakan ternak akan selesai pada pertengahan 2026.
- Pembentukan forum lintas sektor (pemerintah, akademisi, industri) untuk mengevaluasi hasil pemusnahan dan potensi nilai ekonomi.
Upaya terpadu ini mencerminkan komitmen Pemkot Jakarta Selatan dalam menjaga keamanan pangan, melindungi ekosistem perairan, sekaligus mengeksplorasi peluang ekonomi baru dari limbah ikan sapu-sapu.
Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, diharapkan peredaran ikan sapu-sapu dalam produk makanan jalanan dapat ditekan drastis, sekaligus membuka sumber pakan alternatif yang berkelanjutan bagi peternakan lokal.