Ribuan Ikan Tengadak dan Tawes Dilepas di Bogor: Upaya Besar Pulihkan Kejayaan Ciliwung

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 01 Mei 2026 | Bogor, 30 April 2026 – Ribuan ikan tengadak dan tawes dilepas ke perairan Ciliwung pada Festival Perahu Cilung 2025, menandai langkah konkret untuk Kembalikan Kejayaan Ciliwung. Aksi pelepasan ikan endemik ini digandeng dengan pembersihan massal sungai, menjadikan perayaan Hari Bumi 2026 sekaligus demonstrasi kolaborasi lintas sektor.

Festival Perahu Cilung 2025

Festival yang berlangsung di sepanjang alur Ciliwung menampilkan 10 perahu karet buatan dari bahan daur ulang serta tiga kano kayu. Lebih dari 45 relawan, termasuk mahasiswa, pegawai PLN, dan warga setempat, berpartisipasi menyisir sungai dari titik Leuwi Orok hingga Saung Alkesa. Selama kurang lebih satu jam, tim berhasil mengangkat sekitar 670 kilogram sampah, mayoritas berupa plastik, styrofoam, dan residu industri yang sulit terurai.

Baca juga:
Zenit Saint Petersburg: Dari Era Mega-Transfer Hingga Tantangan di Kancah Internasional

Pelepasan Ikan Endemik

Dua spesies yang dipilih, tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) dan tawes (Rasbora sp.), merupakan ikan asli Ciliwung yang perannya vital dalam menjaga keseimbangan rantai makanan. Keberadaan mereka membantu mengontrol populasi serangga larva dan meningkatkan kualitas air secara alami. Selama acara, lebih dari 5.000 bibit ikan dilepas ke bagian utara sungai Bogor, wilayah yang sebelumnya tercemar berat.

  • Tengadak: Memakan alga dan serangga kecil, berkontribusi pada penurunan kadar nutrisi berlebih.
  • Tawes: Sebagai mangsa bagi predator ikan lebih besar, menstimulasi dinamika ekosistem.

Direktur Human Capital PLN EPI, Dedeng Hidayat, menekankan pentingnya langkah ini: “Pelepasan ikan bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari strategi restorasi jangka panjang. Dengan kembali hadirnya spesies lokal, kita harapkan kualitas air dan keanekaragaman hayati meningkat secara berkelanjutan.”

Aksi Pembersihan Sungai

Tim pembersihan menggunakan jaringan tali penangkap sederhana yang dirancang untuk tidak merusak habitat dasar sungai. Selama proses, ditemukan lebih dari 150 kantong plastik berukuran kecil hingga 2 kilogram, serta 30 potongan styrofoam berukuran besar. Semua sampah dikumpulkan, dipilah, dan dibawa ke fasilitas daur ulang kota Bogor.

Baca juga:
Manchester City Hajar Chelsea 3-0, Tottenham Tumbang: Dampak Besar pada Perebutan Gelar

Hasil pembersihan menunjukkan penurunan signifikan pada konsentrasi mikroplastik di permukaan air, yang diperkirakan turun hingga 45% dibandingkan data baseline tahun 2024. Penurunan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi oksigen terlarut, memberikan lingkungan lebih mendukung bagi ikan-ikan yang baru dilepas.

Dukungan dan Harapan

Pemerintah Kabupaten Bogor, Dinas Lingkungan Hidup, serta sejumlah LSM lingkungan memberikan dukungan logistik dan edukasi. Sekolah-sekolah setempat dilibatkan dalam program edukasi “Sahabat Ciliwung”, mengajarkan anak-anak cara memilah sampah dan pentingnya ekosistem sungai.

Selain itu, perusahaan swasta berkontribusi melalui sponsor perahu daur ulang dan penyediaan alat pelindung diri. Kolaborasi ini mencerminkan model kemitraan publik‑privat yang diharapkan dapat direplikasi di wilayah aliran sungai lain.

Baca juga:
Mourinho Gigit Ancelotti: Mengabaikan Neymar Setara Hilangnya Messi atau Ronaldo?

Masa Depan Ekosistem Ciliwung

Para ilmuwan dari Universitas Indonesia menyiapkan monitoring jangka panjang selama dua tahun ke depan. Parameter yang akan dipantau meliputi populasi ikan, kualitas air (pH, BOD, COD), serta tingkat keanekaragaman mikroorganisme. Jika tren perbaikan berlanjut, proyek serupa dapat diperluas ke bagian selatan aliran Ciliwung yang melintasi wilayah Jakarta.

Dengan ribuan ikan endemik kembali mengisi habitat dan puluhan kilogram sampah terangkat dari aliran sungai, Festival Perahu Cilung 2025 menjadi contoh konkret aksi lingkungan yang menggabungkan edukasi, partisipasi masyarakat, serta dukungan institusional. Upaya ini diharapkan menjadi titik tolak bagi program restorasi sungai-sungai lain di Indonesia, menjadikan Hari Bumi bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum perubahan nyata.

Tinggalkan komentar