Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 24 April 2026 | SDN Tlogo 2 di Blitar kini menampilkan panorama yang berbeda. Sebuah tembok seng mengelilingi area yang dulu menjadi tempat belajar dan membaca bagi ratusan siswa. Proses pembongkaran Ruang Perpustakaan SDN Tlogo dimulai setelah Pemerintah Kabupaten memberikan lampu hijau bagi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di dalam kompleks sekolah.
Latar Belakang Proyek Koperasi Merah Putih
Pemerintah daerah menargetkan KDMP sebagai upaya memperkuat perekonomian desa melalui pengelolaan usaha koperasi yang melibatkan warga setempat. Menurut dokumen internal, alokasi dana desa sebesar 58 persen akan diarahkan ke koperasi tersebut. Namun, lokasi yang dipilih beririsan dengan fasilitas publik sekolah, termasuk ruang kepala sekolah, ruang ekstrakurikuler, dan tentu saja Ruang Perpustakaan SDN Tlogo.
Penolakan dan Keputusan Kepala Daerah
Berbagai pihak – guru, wali murid, hingga anggota legislatif daerah – menyuarakan keberatan mereka. Mereka menilai bahwa pendidikan anak seharusnya menjadi prioritas utama dan tidak boleh dikorbankan demi proyek ekonomi. Meskipun begitu, keputusan akhir diambil oleh kepala daerah yang menegaskan bahwa proyek KDMP sudah mendapatkan persetujuan resmi, sehingga proses pembongkaran tidak dapat dibatalkan.
Reaksi Guru dan Orang Tua
Seorang guru yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaan mendalam. “Kami menolak, tapi kalau para pemimpin, bahkan kepala daerah sudah berikan izin, tidak ada yang bisa kami lakukan,” katanya pada Jumat, 24 April 2026. Guru tersebut menambahkan bahwa hingga kini belum ada solusi konkret mengenai penempatan buku-buku perpustakaan dan ruang belajar alternatif.
Orang tua siswa juga menyatakan kekhawatiran. Banyak yang takut proses belajar mengajar akan terganggu, terutama bagi anak yang bergantung pada perpustakaan untuk mengakses materi tambahan. “Kami tidak mengerti politik pembangunan, yang kami inginkan hanyalah hak anak untuk belajar tanpa hambatan,” ujar seorang ibu murid di depan gerbang sekolah.
Janji Ruang Pengganti yang Belum Terwujud
Pemerintah daerah sebelumnya menjanjikan pembangunan ruang pengganti sebagai kompensasi. Namun, setelah alat berat mulai bekerja di lapangan, janji tersebut seakan menghilang. “Beberapa waktu lalu sempat ada wacana ruang pengganti, namun sejak proses KDMP dimulai tidak ada kabar lagi,” keluh guru yang sama.
Dampak Jangka Panjang pada Kualitas Pendidikan
Kehilangan Ruang Perpustakaan SDN Tlogo tidak hanya berdampak pada akses buku, tetapi juga pada kegiatan ekstrakurikuler, klub membaca, dan program literasi yang selama ini dijalankan sekolah. Tanpa ruang khusus, guru harus mencari alternatif yang seringkali tidak memadai, seperti menempati ruang kelas yang sudah penuh atau menggunakan area terbuka yang tidak terlindungi.
Para ahli pendidikan menilai bahwa penurunan kualitas fasilitas belajar dapat berimplikasi pada prestasi akademik siswa. “Fasilitas perpustakaan merupakan inti dari budaya belajar di sekolah dasar. Menghilangkannya tanpa pengganti yang memadai dapat menurunkan motivasi baca siswa,” kata seorang pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jawa Timur.
Respons Pemerintah dan Langkah Selanjutnya
Saat ini, kepala daerah belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana pemulihan fasilitas. Beberapa organisasi masyarakat sipil mengajukan petisi daring yang telah mengumpulkan lebih dari 5.000 tanda tangan, menuntut transparansi dan peninjauan kembali keputusan pembangunan KDMP.
Jika tekanan publik terus meningkat, ada kemungkinan pemerintah akan meninjau kembali alokasi ruang dan mencari lokasi alternatif yang tidak mengganggu fungsi utama sekolah. Namun, hingga saat ini, proses pembangunan KDMP tetap berjalan dengan alat berat yang terus beroperasi di lapangan.
Situasi ini menjadi contoh nyata tentang konflik kepentingan antara agenda pembangunan ekonomi lokal dan hak dasar warga, khususnya hak anak untuk mendapatkan lingkungan belajar yang layak.
Dengan berjalannya waktu, warga SDN Tlogo 2 berharap dapat melihat solusi yang memulihkan ruang belajar yang hilang serta memastikan bahwa proyek koperasi tidak mengorbankan kualitas pendidikan generasi muda.