Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 12 April 2026 | Seorang santriwati berusia 17 tahun dari Pondok Pesantren Al Muhajirin, Cilangkap, Depok, yang menghilang pada 2 Februari 2026 akhirnya ditemukan dalam keadaan sehat di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada Jumat 3 April 2026. Penemuan ini mengakhiri pencarian yang berlangsung hampir tiga bulan, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai perjalanan misteriusnya selama periode tersebut.
Latar Belakang Kehilangan
Zulala Azizi, yang dikenal sebagai Saina Tazkiya di lingkungan pesantren, meninggalkan sebuah surat singkat sebelum menghilang. Surat tersebut tidak menjelaskan motif atau tujuan keberangkatan, sehingga keluarga dan pihak pesantren langsung melaporkan kasus ini ke kepolisian setempat. Pihak berwenang melakukan penyelidikan, namun tidak ada jejak yang signifikan hingga akhir Februari.
Rangkaian Perjalanan Selama Hilang
Menurut keterangan pamannya, Makus, Zulala melakukan perjalanan melintasi beberapa kota di Jawa. Dari Terminal Cibinong, ia dilaporkan menuju Bandung, kemudian melanjutkan ke Tasikmalaya, kembali ke Jakarta, dan akhirnya berakhir di Surabaya. Selama pergerakan tersebut, tidak ada kontak yang berhasil dijalin antara Zulala dengan keluarga maupun teman-teman dekatnya. Paman Makus menambahkan bahwa Zulala tidak membawa identitas resmi, sehingga proses identifikasi menjadi lebih rumit.
Penemuan di Surabaya
Pada Jumat 3 April, tiga orang santri yang sedang berada di kawasan Tanjung Perak menemukan seorang perempuan muda yang tampak lelah namun sehat. Setelah memastikan identitasnya, mereka menghubungi Makus melalui telepon. Paman Zulala menjelaskan bahwa pada pukul 09.55 WIB, tiga santri tersebut melaporkan penemuan tersebut dan menunggu konfirmasi lebih lanjut. Makus kemudian menghubungi kerabatnya yang berada di Surabaya untuk menjemput Zulala.
Sesaat setelah penemuan, Zulala dibawa ke rumah kerabatnya di Surabaya, di mana ia mendapatkan perawatan dan makanan. Selama proses tersebut, Zulala menjelaskan bahwa ia sempat berniat pergi ke Banjarmasin bersama seorang teman, namun rencana tersebut tidak terwujud karena kendala transportasi dan kondisi fisik yang menurun.
Reaksi Keluarga dan Komunitas
Paman Makus mengaku sangat terharu dan menangis ketika mendengar kabar kembalinya keponakannya. “Saya belum tanya-tanya kenapa, biar mengalir saja,” ujarnya, menekankan bahwa yang terpenting kini adalah keselamatan Zulala. Keluarga besar pesantren Al Muhajirin juga menyatakan rasa syukur yang mendalam, sambil menegaskan pentingnya kepedulian dan solidaritas antar santri dalam situasi darurat.
Komunitas lokal di Depok mengorganisir doa bersama dan mengirimkan bantuan moral kepada keluarga Zulala. Beberapa relawan juga membantu mengkoordinasikan proses administrasi untuk mengembalikan Zulala ke pesantren asalnya.
Langkah Selanjutnya
Setelah pulang ke Depok, Zulala dipastikan akan menjalani pemeriksaan medis lengkap untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan jangka panjang. Selain itu, pihak pesantren berencana mengadakan sesi konseling bagi Zulala serta keluarga untuk mengatasi trauma psikologis yang mungkin timbul akibat pengalaman tersebut.
Pihak kepolisian setempat juga berjanji akan menyelidiki secara mendalam penyebab hilangnya Zulala, termasuk potensi faktor eksternal seperti jaringan penyalahgunaan identitas atau penipuan. Hasil penyelidikan diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi institusi pendidikan agama dalam meningkatkan protokol keamanan santri.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya komunikasi terbuka antara santri, orang tua, dan pihak pengelola pesantren. Dengan adanya sistem pelaporan yang cepat dan jaringan sosial yang responsif, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Dengan selesainya pencarian, keluarga Zulala dapat melanjutkan kehidupan normalnya, sementara masyarakat dapat mengambil hikmah dari kepedulian kolektif yang berhasil menyelamatkan seorang remaja dari ketidakpastian.