Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 15 April 2026 | Ekspor kendaraan roda empat buatan dalam negeri mengalami penurunan signifikan pada bulan Maret 2026. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat bahwa total ekspor dalam bentuk completely built‑up (CBU) hanya mencapai 36.867 unit, menurun sekitar 20 % dibandingkan Februari yang mencatat 45.585 unit. Penurunan tahunan (year‑on‑year) juga terlihat, dengan capaian CBU melemah 7,5 % dibandingkan Maret 2025.
Segmen completely knocked‑down (CKD) mengalami kontraksi yang lebih tajam. Pada Maret, hanya 5.038 set unit yang berhasil diekspor, turun 36,2 % dari 7.898 set unit di bulan sebelumnya. Meski begitu, bila dibandingkan secara tahunan, ekspor CKD justru meningkat 10,4 % menjadi 4.564 set unit, menandakan adanya pergeseran pola produksi antara model utuh dan setengah jadi.
Komoditas Ekspor dan Penyumbang Utama
Komponen otomotif juga mengalami penurunan tipis. Total barang ekspor berupa komponen tercatat 15.629.731 potong pada Maret, turun dari 16.597.457 potong di Februari, namun tetap lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang hanya mencapai 14.260.063 potong.
Berbagai produsen memberi kontribusi berbeda pada angka-angka tersebut. Toyota tetap menjadi kontributor terbesar untuk ekspor CBU dengan 12.870 unit, diikuti oleh Daihatsu (9.916 unit), Mitsubishi Motors (9.057 unit), Hyundai (2.332 unit), dan Honda (630 unit). Pada sisi CKD, Mitsubishi Motors memimpin dengan 3.364 set unit, diikuti Suzuki (888 set), Hyundai (720 set), dan Wuling (66 set). Toyota juga mendominasi ekspor komponen, menyumbang 14.653.172 potong, sementara Honda mengekspor 916.000 potong, Hino 50.986 potong, Hyundai 5.205 potong, dan Suzuki 4.368 potong.
Faktor Penurunan: Libur Lebaran Bukan Geopolitik
Penurunan ini bukan akibat konflik geopolitik seperti perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, melainkan disebabkan oleh berkurangnya hari kerja akibat libur Lebaran 2026. Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), menjelaskan bahwa produksi dan distribusi melambat karena hanya ada sekitar dua pekan kerja efektif di bulan Maret. “Hari kerja bulan lalu sangat terbatas, sehingga aktivitas produksi dan distribusi otomatis melambat,” ujar Azam dalam konferensi pers di Jakarta pada 14 April 2026.
Situasi serupa dirasakan oleh produsen lain. Pengiriman komponen dan perakitan CKD yang memerlukan tenaga kerja intensif terhambat, sementara pasar domestik juga menunjukkan penurunan penjualan mobil baru. Data Gaikindo menunjukkan wholesales menurun 24,6 % menjadi 61.271 unit, dan penjualan ritel turun 14,8 % menjadi 66.637 unit.
Dampak pada Penjualan Dalam Negeri
Walaupun ekspor menurun, beberapa model tetap menempati posisi teratas dalam penjualan domestik. Toyota Innova Zenix menjadi mobil terlaris Maret 2026 dengan total 3.656 unit (gabungan Innova Reborn dan Zenix). Kejutan muncul dari mobil listrik asal China, Jaecoo J5, yang mencatat 2.959 unit dan menembus posisi tiga besar. Model lain seperti Daihatsu Gran Max (2.919 unit) dan Suzuki Carry (2.738 unit) tetap menjadi pilihan utama di segmen niaga ringan.
Penurunan ekspor sekaligus penurunan penjualan domestik mencerminkan dampak musiman yang kuat, terutama karena libur Lebaran memengaruhi rantai pasok, produksi, dan permintaan konsumen secara bersamaan.
Secara keseluruhan, penurunan 20 % pada ekspor mobil buatan Indonesia di Maret 2026 menegaskan bahwa faktor internal – terutama kalender kerja yang dipengaruhi libur keagamaan – dapat memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan gejolak geopolitik eksternal. Produsen kini dihadapkan pada tantangan menyesuaikan kapasitas produksi dan mengoptimalkan jadwal kerja agar tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi kalender. Upaya diversifikasi antara CBU dan CKD, serta peningkatan nilai tambah pada ekspor komponen, diharapkan dapat membantu menstabilkan kinerja ekspor pada kuartal berikutnya.