Iran Guncang Sistem Petrodolar: Rencana Bayar Tarif Selat Hormuz Pakai Rial

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 April 2026 | Teheran mengumumkan rencana ambisius yang dapat mengubah dinamika perdagangan minyak global: pembayaran tarif transit kapal melalui Selat Hormuz akan dilakukan dengan mata uang nasional Iran, rial. Langkah tersebut bukan sekadar penyesuaian administratif, melainkan upaya strategis untuk menantang hegemoni dolar Amerika Serikat dalam pasar energi, yang selama lebih dari lima dekade dikenal sebagai sistem petrodolar.

Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menjadi titik krusial bagi sekitar satu per lima pasokan minyak dan gas cair dunia. Setiap hari, ribuan kapal tanker melintasi selat ini, membayar biaya tol transit kepada otoritas Iran. Dengan mengalihkan mata uang pembayaran dari dolar atau yuan ke rial, Iran berpotensi menciptakan celah baru dalam jaringan keuangan internasional yang selama ini didominasi oleh dolar AS.

Baca juga:
Iran Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel ke Lebanon, Gedung Putih Angkat Suara Keras

Sistem petrodolar berakar pada kesepakatan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi pada tahun 1974, yang mewajibkan semua transaksi minyak Timur Tengah diselesaikan dalam dolar. Keuntungan dari penjualan minyak kemudian diinvestasikan kembali ke pasar keuangan Amerika, memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Meskipun standar emas ditinggalkan pada 1973, dolar tetap menguasai hampir 80% transaksi minyak global menurut perkiraan JP Morgan Chase pada 2023.

Sebelumnya, Iran telah menguji alternatif pembayaran dengan mengadopsi yuan China sebagai mata uang tol. Sejumlah kapal pada 25 Maret melunasi biaya transit menggunakan yuan, menandai kolaborasi ekonomi yang lebih dalam antara Tehran dan Beijing. Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi penggunaan yuan melalui postingan media sosial, sementara Lloyd’s List mencatat dua kapal yang telah menyelesaikan pembayaran dalam mata uang tersebut.

Namun, pada Jumat kemarin, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran mengumumkan bahwa proposal baru dari parlemen mengusulkan pembayaran tarif Selat Hormuz secara eksklusif dalam rial. Pengumuman tersebut disampaikan lewat postingan resmi konsulat jenderal Iran di Mumbai, menandai langkah yang lebih tegas dalam upaya menolak dominasi dolar sekaligus mengurangi ketergantungan pada yuan.

Baca juga:
Mengungkap Realitas Konflik Iran: Panduan Membaca Tanpa Terperangkap Narasi Barat

Jika diterapkan, kebijakan ini dapat menimbulkan beberapa konsekuensi penting:

  • Pengalihan aliran dolar: Penurunan penggunaan dolar dalam transaksi energi dapat melemahkan permintaan global terhadap mata uang Amerika.
  • Peningkatan tekanan sanksi: Rial, yang berada di bawah tekanan sanksi internasional, dapat menjadi alat tawar-menawar bagi Iran dalam negosiasi dengan negara-negara Barat.
  • Penguatan jaringan ekonomi China‑Iran: Meskipun rial dipilih, kerja sama dengan Beijing tetap vital, mengingat China juga mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan energi.
  • Risiko volatilitas pasar: Perubahan mata uang dasar dapat menimbulkan fluktuasi nilai tukar dan menambah ketidakpastian bagi pedagang minyak internasional.

Para pengamat ekonomi, termasuk Profesor Kenneth Rogoff dari Universitas Harvard, menilai bahwa Iran tidak hanya ingin menyinggung Amerika secara simbolis, melainkan berusaha mengurangi dampak sanksi AS dengan mengalihkan perdagangan ke mata uang yang lebih mudah diakses. Rogoff menambahkan, “Iran sangat serius dalam memilih rial untuk menghindari sanksi AS dan memperkuat sekutu ekonomi seperti China, yang sedang melakukan redenominasi perdagangan dengan negara‑negara BRICS.”

Dari perspektif geopolitik, langkah ini dapat memperkuat posisi Iran di kawasan Teluk, terutama bila Tehran berhasil mengontrol akses ke Selat Hormuz secara ekonomi. Negara‑negara konsumen minyak, terutama yang bergantung pada pasokan dari Teluk, mungkin harus menyesuaikan strategi hedging mereka terhadap fluktuasi nilai tukar rial, sekaligus memantau kebijakan sanksi yang dapat berubah seiring dinamika politik internasional.

Baca juga:
Guncangan Global: Pasukan AS Bertambah, Pasar Jatuh, Protes ‘No Kings’ dan Kejutan Virat Kohli di IPL 2026

Meski demikian, tantangan teknis dan keuangan tetap signifikan. Rial tidak memiliki likuiditas setara dolar atau yuan, dan sistem perbankan Iran masih terisolasi oleh sanksi Barat. Untuk mengatasi hal tersebut, Tehran kemungkinan akan mengandalkan jaringan keuangan alternatif, termasuk sistem pembayaran berbasis kripto atau jalur bank negara‑mitra yang tidak terhubung langsung dengan jaringan SWIFT.

Secara keseluruhan, rencana Iran untuk menagih tarif Selat Hormuz dalam rial menandai babak baru dalam upaya melemahkan dominasi petrodolar. Jika berhasil, kebijakan ini tidak hanya akan menambah tekanan pada dolar AS, tetapi juga memperluas arena persaingan mata uang dalam perdagangan energi global, dengan implikasi jangka panjang bagi stabilitas pasar minyak dan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan komentar