Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 23 Mei 2026 | Jakarta, 23 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah gejolak ekonomi global dan penguatan dolar AS. Banyak ekonom memperkirakan bahwa kondisi ini dapat berlanjut, berpotensi membawa dampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Dalam situasi ini, sektor sumber daya alam (SDA) diharapkan menjadi penopang utama, namun ada kekhawatiran bahwa perubahan dalam tata kelola ekspor dapat menambah ketidakpastian.
Ekonom Wijayanto Samirin mengungkapkan bahwa sektor SDA menyumbang sekitar 62 persen dari total ekspor nasional. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang hati-hati dalam membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai badan ekspor satu pintu. Menurutnya, jika tidak dikelola dengan baik, kebijakan ini bisa menyebabkan ketidakpastian yang dapat merugikan iklim bisnis dan investasi di sektor SDA.
Menurut Wijayanto, dampak negatif terhadap ekspor SDA tidak hanya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat memicu fluktuasi nilai tukar rupiah. “Komoditas ini adalah sumber utama penerimaan devisa kita, dan jika aktivitas ekspor terganggu, dampaknya akan meluas,” jelasnya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah melemah. Salah satunya adalah kenaikan US Treasury yield yang kini mencapai 4,5 hingga 4,6 persen, yang mendorong banyak investor untuk menjual obligasi mereka dan mengalihkan dana ke AS. “Rupiah saat ini seharusnya berada di Rp16.700 per USD berdasarkan fundamentalnya, namun tekanan global membuatnya melemah hingga Rp17.600 per USD,” ujarnya.
Fithra menambahkan bahwa harga minyak yang meningkat juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah, karena kebutuhan energi yang tinggi menyebabkan kenaikan impor. “Ini memberikan tekanan terhadap pelemahan rupiah senilai 180 basis poin,” tambahnya.
Ekonom Wijayanto juga mengingatkan pemerintah agar tidak menyangkal kondisi pelemahan rupiah dan belajar dari pengalaman krisis moneter 1998. Ia menilai tindakan stabilisasi, seperti kenaikan suku bunga dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hanya meredam gejala tanpa menyentuh akar masalah. “Penting untuk mendengarkan masukan dari ekonom dan lembaga internasional agar langkah perbaikan ekonomi lebih tepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan ketidakpastian global yang masih membayangi, ekonom memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan tertahan di level Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, berharap agar nilai tukar tetap di bawah Rp17.500 per dolar AS untuk menghindari ekspektasi negatif di pasar.
Situasi ini menunjukkan pentingnya bagi pemerintah untuk merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan ekonomi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam menjaga stabilitas rupiah dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.