Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 21 Mei 2026 | Rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (21/5/2026), dengan nilai tukar Rp17.653 per dolar AS. Namun, di balik penguatan rupiah, daya beli masyarakat justru melemah.
Menurut Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, pelemahan rupiah sebelumnya menyebabkan harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini membuat daya beli masyarakat semakin melemah, termasuk bagi kalangan pekerja dengan pendapatan yang relatif tetap.
Dampak Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah bukan hanya soal angka di layar perdagangan valuta asing. Kondisi ini berdampak pada harga barang impor, biaya energi, dan juga memengaruhi pandangan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ibu rumah tangga juga turut merasakannya, setelah mendapati harga roti atau mi naik, karena bahan baku gandum harus diimpor.
Belum lagi transmisi ke biaya yang harus diemban pengusaha kecil, ketika harga kedelai naik, atau harga plastik untuk industri melonjak. Bahkan, obat-obatan pun tak luput, karena bahan baku farmasi Indonesia sebagian besar masih didatangkan dari luar.
Keputusan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Keputusan ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga target inflasi.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik dengan Iran. Meskipun ada klaim perundingan damai mengalami kemajuan, pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz yang dapat memicu inflasi global.
Kondisi Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesia memang mencatat surplus beruntun sejak beberapa tahun silam, namun kondisi neraca transaksi berjalan masih tercatat defisit. Pemikiran Fiscal Theory of the Price Level (FTPL) menjelaskan bahwa penentuan tingkat harga bergantung pada evolusi variabel-variabel fiskal saat ini dan di masa mendatang.
Pelemahan rupiah bukan hanya tanggung jawab satu lembaga saja, namun harus dijaga dengan sinergi dan kolaborasi dari lembaga yang bertanggung jawab di moneter, fiskal, dan sektor riil. Dalam beberapa minggu terakhir, rupiah sempat menguat dua hari berturut-turut, hingga mencapai Rp 17.362 per dolar AS, namun kemudian kembali melemah menyentuh Rp17.700 dolar AS.
Di tengah pelemahan daya beli ini, banyak karyawan kantor yang biasa makan siang di mal kini lebih memilih untuk membawa makanan dari rumah. Kondisi inilah yang kemudian membuat jumlah pengunjung pusat-pusat perbelanjaan atau Mal Jakarta hanya turun pada hari kerja saja.
Sementara untuk tingkat kunjungan selama akhir pekan masih ditopang oleh kunjungan keluarga, terutama mereka dengan anak-anak. Sebab selain sebagai pusat belanja, mal-mal di Jakarta juga menyediakan ruang rekreasi anak, sehingga juga berperan sebagai pusat hiburan warga.
Pusat belanja itu mempunyai daya tarik tersendiri, terutama kita perkuat kepada anak-anak. Sekali anak-anak cinta ke pusat belanja itu, dia akan minta orangtuanya untuk datang ke sana lagi, ke sana lagi. Jadi anak-anak itu juga perlu di-entertain.

















