Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 21 Mei 2026 | Wabah Ebola kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional. Penyakit ini disebabkan oleh virus Ebola yang dapat menyerang manusia dan primata seperti monyet dan simpanse.
Gejala Ebola biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 21 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, gejalanya mirip flu biasa sehingga sering sulit dikenali. Gejala penyakit Ebola dapat muncul tiba-tiba dan meliputi demam, kelelahan, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
Penularan Virus Ebola
Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti darah atau keringat. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi atau orang yang telah meninggal karena penyakit ini.
Virus Ebola diperkirakan berasal dari kelelawar buah dari famili Pteropodidae yang merupakan inang alami virus Orthoebola. Virus ini dapat masuk ke populasi manusia ketika orang melakukan kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi seperti kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak yang ditemukan sakit atau mati, atau di hutan hujan.
Langkah Pencegahan
Untuk mencegah penularan virus Ebola, penting untuk menjaga kebersihan dan menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Petugas kesehatan juga harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker untuk menghindari penularan.
WHO juga menyarankan untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap penyebaran penyakit ini, terutama di daerah yang terjangkit. Masyarakat juga harus diimbau untuk tidak melakukan kontak fisik dengan orang yang terinfeksi dan untuk segera melaporkan jika ada gejala penyakit Ebola.
Dalam beberapa kasus, pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah penularan, seperti melarang masyarakat untuk saling jabat tangan atau melakukan kontak fisik lainnya.
Penyebaran virus Ebola telah mencapai lebih dari 500 kasus, dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, yaitu sekitar 50%. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini.
Dalam upaya untuk mengembangkan terapi antibodi monoklonal sebagai pengobatan potensial, petugas medis sedang berupaya mengembangkan pengobatan yang efektif untuk virus Bundibugyo, yaitu jenis virus Ebola yang belum ada vaksin atau terapinya.