Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 05 Mei 2026 | Rusia mengumumkan gencatan senjata sepihak pada 8‑9 Mei 2026, bersamaan dengan peringatan Hari Kemenangan Perang Patriotik Raya, dan menyiapkan ancaman serangan rudal besar‑besaran ke ibu kota Ukraina bila perjanjian itu dilanggar.
Latar Belakang Hari Kemenangan
Perayaan tahunan Hari Kemenangan memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman pada 9 Mei 1945. Tahun ini, parade militer di Lapangan Merah dilaksanakan dalam skala lebih kecil, tanpa menampilkan tank atau sistem persenjataan berat, karena kekhawatiran serangan drone dari Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin tetap memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan kekuatan militer dan menggalang dukungan domestik.
Jadwal Gencatan Senjata Rusia vs Ukraina
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa penghentian sementara pertempuran akan berlaku pada hari Jumat dan Sabtu, 8‑9 Mei. Sementara itu, Ukraina, melalui pernyataan Presiden Volodymyr Zelenskyy, menetapkan gencatan senjata lebih awal, dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat antara 5‑6 Mei. Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina siap merespons secara resiprokal, meski belum menerima rincian resmi mengenai syarat‑syarat Rusia.
Ancaman Serangan Rudal
Dalam pesan resmi yang disampaikan melalui layanan pesan MAX, Rusia memperingatkan akan melancarkan serangan rudal besar‑besaran ke pusat Kyiv jika pihak Kyiv berupaya mengganggu perayaan Victory Day. Selain itu, pemerintah Rusia mengeluarkan peringatan kepada warga sipil dan staf diplomatik asing yang berada di Kyiv untuk segera mengosongkan kota sebagai tindakan antisipasi.
Respon Ukraina
Zelenskyy menilai bahwa permintaan Rusia tidak masuk akal dan menganggapnya sebagai taktik untuk menutupi kekhawatiran atas serangan drone Ukraina terhadap parade di Moskow. Presiden Ukraina menambahkan bahwa hingga kini belum ada panggilan resmi dari Moskow mengenai mekanisme gencatan senjata yang dimaksud. Ia juga menekankan bahwa Ukraina akan mempertahankan haknya untuk melindungi kedaulatan negara bila Rusia melancarkan serangan balasan.
Dampak Diplomatik
Langkah gencatan senjata yang tidak sinkron menambah ketegangan dalam upaya diplomatik yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang kini lebih memusatkan perhatian pada konflik di Timur Tengah. Rusia mengklaim memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan berskala besar, namun menahan diri “atas dasar kemanusiaan”. Sementara itu, Ukraina berkoordinasi dengan sekutu‑sekutunya, termasuk kunjungan Zelenskyy ke Bahrain untuk membahas kerja sama keamanan, sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi tawar di meja perundingan.
Secara keseluruhan, perbedaan jadwal gencatan senjata mencerminkan ketidaksepakatan strategis antara kedua belah pihak dan menambah kompleksitas upaya perdamaian. Dengan ancaman serangan rudal yang terus mengemuka, situasi di wilayah front masih rawan eskalasi, meski kedua negara secara retoris mengedepankan dialog.