Akhir Era Militer Amerika di Suriah: Semua Pasukan Cabut, Damaskus Rebut Kendali Penuh

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 17 April 2026 | Kehadiran militer Amerika Serikat di Suriah selama satu dekade resmi berakhir pada Kamis, 17 April 2026, ketika pasukan terakhir meninggalkan pangkalan di Hasakah. Penarikan ini menandai selesainya operasi yang sejak 2015 diklaim sebagai upaya memerangi kelompok teroris ISIS dan mendukung pasukan Kurdi SDF (Syrian Democratic Forces).

Pasukan terakhir yang berada di pangkalan Qasrak, yang meliputi sebuah landasan udara strategis, diserahkan kepada Divisi ke-60 Tentara Suriah. Divisi tersebut mayoritas terdiri dari pejuang Kurdi yang sebelumnya berafiliasi dengan SDF, menegaskan bahwa transisi kontrol tidak mengubah fakta bahwa wilayah tersebut kini berada di bawah otoritas pemerintah Damaskus.

Baca juga:
Presiden Iran Kecam Penghinaan Trump pada Paus Leo XIV: Seruan Damai Dikecam Sebagai Serangan Terhadap Kemanusiaan

Proses Penyerahan dan Reaksi Pemerintah Suriah

Pejabat Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan sambutan positif atas “penyerahan lengkap situs militer” yang sebelumnya dikuasai Amerika. Pemerintah menegaskan bahwa langkah ini mencerminkan keberhasilan integrasi SDF ke dalam struktur nasional serta menegaskan asumsi penuh Suriah atas tanggung jawab memerangi terorisme dan ancaman regional.

Penarikan pasukan Amerika dilakukan melalui Yordania, sebuah keputusan yang diambil untuk menghindari potensi serangan paramiliter yang didukung Iran di Irak. Sebelumnya, sekitar seribu tentara Amerika beroperasi di Suriah, namun sejak awal tahun 2026 mereka telah mundur dari dua pangkalan utama, al‑Tanf di selatan dan al‑Shaddadi di timur laut.

Latar Belakang Politik dan Militer

Kebijakan penarikan ini muncul setelah perubahan signifikan di pucuk kepemimpinan Suriah. Pada Desember 2024, Presiden Ahmed al‑Sharaa menggantikan Bashar al‑Assad setelah kemenangan elektoral yang mengakhiri lebih dari satu dekade perang saudara. Washington, yang memberikan dukungan politik kepada al‑Sharaa, menyelaraskan kembali kebijakan keamanannya di wilayah tersebut.

Baca juga:
Gegolak Diplomasi: US dan Iran Bertemu di Islamabad, Apakah Perdamaian Barat Asia Mendekat?

Hubungan antara Amerika Serikat dan SDF sejak awal kehadirannya di Suriah telah menjadi sumber ketegangan dengan Turki, yang menilai SDF sebagai cabang YPG—afiliasi PKK, organisasi yang diklasifikasikan sebagai teroris oleh AS, Uni Eropa, dan Turki. Namun, dua tahun terakhir melihat upaya perdamaian antara Ankara dan PKK, yang membuka ruang bagi Damaskus untuk menegosiasikan perjanjian dengan SDF secara langsung.

Implikasi Regional dan Internasional

Penarikan total pasukan Amerika mengubah dinamika keamanan di Timur Tengah. Tanpa kehadiran langsung AS, pemerintah Suriah kini memiliki kendali lebih besar atas wilayah strategis, termasuk kota-kota penting seperti Raqqa dan Deir Ezzor yang baru-baru ini diserahkan secara damai. Sementara itu, Turki dapat memanfaatkan perubahan ini untuk memperkuat posisi geopolitiknya, terutama terkait isu Kurdi.

Para pengamat mencatat bahwa keputusan ini mencerminkan pergeseran prioritas kebijakan luar negeri Amerika yang kini lebih fokus pada ancaman lain, termasuk persaingan dengan China dan konflik di Ukraina. Dengan menutup bab di Suriah, AS mengurangi keterlibatan militernya di teater yang selama ini dipandang sebagai operasi terbatas namun berisiko tinggi.

Baca juga:
Fakta: Pejabat Iran Tak Pernah Peringatkan Indonesia tentang Perang, Ini Penjelasannya

Reaksi Masyarakat dan Analisis Keamanan

  • Para veteran SDF menilai penyerahan pangkalan sebagai langkah legitimasi politik yang memperkuat posisi mereka dalam struktur nasional.
  • Kelompok paramiliter Iran‑berbasis di Irak mengawasi situasi dengan cermat, mengantisipasi potensi kekosongan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan untuk ekspansi.
  • Pengamat Turki menekankan pentingnya dialog lanjutan untuk menghindari ketegangan baru di perbatasan Suriah‑Turki.

Secara keseluruhan, penarikan pasukan Amerika menandai titik balik dalam konflik Suriah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Pemerintah Damaskus kini berada dalam posisi untuk mengkonsolidasikan kontrol wilayah, sementara dinamika regional menuntut penyesuaian strategi dari semua pihak terkait.

Langkah selanjutnya akan bergantung pada kemampuan Suriah mengelola kembali area-area yang sebelumnya berada di bawah kendali aliansi AS‑SDF, serta bagaimana komunitas internasional menanggapi perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Tinggalkan komentar