Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 07 Mei 2026 | Serangan udara Israel telah menewaskan lima orang dan melukai beberapa orang lainnya di Jalur Gaza, termasuk putra negosiator utama Hamas, Azzam Khalil Al-Hayya. Azzam, putra Khalil Al-Hayya, terluka parah dalam serangan yang juga menewaskan satu orang lainnya di Kota Gaza.
Khalil Al-Hayya merupakan kepala Hamas di Gaza yang kini berada di pengasingan dan memimpin pembicaraan tidak langsung dengan Israel terkait masa depan wilayah tersebut. Ia sebelumnya kehilangan tiga putranya dalam serangan terpisah, dua di Gaza pada konflik 2008 dan 2014, serta satu lainnya dalam upaya pembunuhan di Doha tahun lalu.
Penyerangan Terus Berlanjut
Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 830 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Israel menyatakan 4 tentaranya tewas dalam periode yang sama akibat serangan militan. Secara keseluruhan, lebih dari 72.500 warga Palestina dilaporkan tewas sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, sebagian besar merupakan warga sipil.
Serangan terhadap aparat keamanan sipil Hamas terjadi di tengah peningkatan operasi Israel yang menargetkan struktur pemerintahan kelompok tersebut di Gaza. Laporan sebelumnya menyebut, pasukan polisi Hamas menjadi sasaran karena perannya dalam mempertahankan kontrol di wilayah yang dikuasai.
Kekerasan terjadi saat Hamas dan faksi Palestina lain menggelar pembicaraan dengan mediator internasional di Kairo, termasuk utusan Dewan Perdamaian Nickolay Mladenov. Pembicaraan difokuskan pada kelanjutan rencana Gaza yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
Rencana tersebut mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza dan rekonstruksi wilayah, dengan syarat Hamas melucuti senjata. Namun, isu pelucutan senjata masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
Tindakan Israel Dikecam
Pejabat Hamas, Taher Al-Nono, mengecam tindakan Israel sebagai puncak degradasi moral dan etika. Ia menyatakan bahwa penembakan dan pembunuhan hanya membuat negosiator semakin teguh pada pendiriannya, dalam membela hak-hak rakyatnya, dan dalam kehendak bebas mereka.
Khalil Al-Hayya menuding Israel sengaja mencoba menggagalkan upaya mediator internasional untuk melanjutkan rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump. Ia menilai pesan politik di balik agresi tersebut sangat jelas, yakni untuk memberi sinyal bahwa para pemimpin Palestina maupun anak-anak mereka tidak ada yang kebal dari target sasaran mematikan militer Israel.
Menanggapi gempuran yang menargetkan keluarganya, Khalil al-Hayya mengecam keras tindakan tersebut dan menggambarkannya sebagai “perpanjangan agresi Israel terhadap rakyat kami di mana-mana”. Ia menuding serangan ini adalah taktik untuk menekan para negosiator Palestina melalui jalur “pembunuhan, teror, dan intimidasi”.
Al-Hayya menambahkan bahwa “pembunuhan telah menjadi kejadian sehari-hari di bawah kebijakan intimidasi yang sistematis”. Ia mendesak Amerika Serikat dan negara-negara yang bertindak sebagai mediator untuk segera turun tangan. Mereka dituntut untuk memberikan tekanan kuat kepada Israel agar mematuhi perjanjian gencatan senjata serta menghentikan seluruh operasi militer.
Dalam beberapa hari terakhir, kekerasan di Gaza terus berlanjut. Pada hari yang sama, 2 serangan udara Israel lainnya menewaskan 4 warga Palestina, termasuk seorang perwira polisi Hamas. Korban yakni Naseem al-Kalazani, kepala pasukan anti-narkotika di Khan Younis, yang tewas setelah kendaraannya diserang di kawasan al-Mawasi. Serangan itu juga melukai sedikitnya 17 orang lainnya.
Militer Israel belum memberikan komentar langsung terkait serangan tersebut. Namun, Israel mengatakan serangan-serangannya bertujuan untuk menggagalkan upaya Hamas dan militan Palestina lainnya untuk melancarkan serangan terhadap pasukannya.
Situasi di Gaza tetap tegang, dengan kekerasan yang terus berlanjut. Pertanyaan tentang bagaimana konflik ini akan berakhir tetap belum terjawab, namun yang jelas adalah bahwa rakyat Palestina terus menderita akibat kekerasan yang tak henti-hentinya.