Guru Besar Unpad Peringatkan Risiko Besar Jika AS Luncurkan Operasi Darat ke Iran

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 30 Maret 2026 | Seorang guru besar Universitas Padjadjaran (Unpad) memperingatkan bahwa potensi konflik darat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat memicu eskalasi besar yang melampaui wilayah Timur Tengah, mengancam stabilitas energi global dan menimbulkan kerugian manusia serta ekonomi yang signifikan.

Latar Belakang Ketegangan di Teluk Persia

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam setelah Iran menargetkan kapal dagang sebagai respons terhadap perang yang melibatkan AS dan Israel sejak akhir Februari. Jalur perairan ini merupakan arteria penting bagi transportasi minyak dunia; gangguan di sini dapat memicu krisis energi internasional.

Baca juga:
Drama Laga El Clasico Versi Bayern: Kimmich, Alexander-Arnold, dan Bayangan Matthäus Mengguncang Real Madrid

Meski Presiden Donald Trump sebelumnya memberikan ultimatum kepada Tehran untuk menghentikan serangan, Amerika Serikat belum melancarkan operasi militer terbuka untuk membuka kembali selat tersebut. Seorang ahli angkatan laut, Jennifer Parker, menjelaskan bahwa keputusan ini dipengaruhi oleh sejumlah pertimbangan strategis dan risiko tinggi.

Pertimbangan Militer AS

  • Prioritas Target Strategis: AS lebih memusatkan upaya pada penghancuran program nuklir dan rudal balistik Iran, serta jaringan proksi yang mendukung konflik.
  • Keterbatasan Sumber Daya: Mengamankan Selat Hormuz memerlukan tidak hanya kapal perang, melainkan juga kontrol atas wilayah daratan di sekitar selat, termasuk garis pantai Iran.
  • Risiko Operasi Darat: Penempatan pasukan darat atau serangan terbatas ke wilayah Iran menambah kompleksitas dan berpotensi memperluas konflik menjadi perang konvensional.

Setiap kapal induk AS, seperti USS Gerald R. Ford, mengangkut lebih dari 200 personel, sementara Iran masih mampu melancarkan serangan dengan drone, rudal, dan kapal tanpa awak. Ancaman ranjau laut serta persepsi bahaya juga menambah beban operasional.

Analisis Guru Besar Unpad

Profesor politik internasional Unpad, Dr. Ahmad Fauzi, menyoroti bahwa eskalasi ke ranah darat akan mengubah dinamika konflik menjadi “perang total”. Menurutnya, langkah semacam itu tidak hanya akan meningkatkan korban jiwa, tetapi juga memicu reaksi negara-negara sekutu Iran dan menimbulkan tekanan pada aliansi NATO.

Dr. Ahmad menambahkan bahwa intervensi darat memerlukan logistik yang masif, termasuk pasokan air, makanan, amunisi, serta dukungan medis dalam kondisi geografis yang keras. “Jika pasukan AS terjebak dalam pertempuran berkepanjangan di wilayah yang didominasi oleh jaringan pertahanan Iran, konsekuensinya akan meluas ke kawasan Timur Tengah secara keseluruhan,” ujarnya.

Baca juga:
Lady Gaga Batalkan Konser Terakhir di Montreal, Penggemar Kecewa dan Dampak Besar

Dampak Ekonomi Global

Gangguan pada Selat Hormuz berdampak langsung pada harga minyak dunia. Pada minggu-minggu terakhir, fluktuasi harga minyak mentah mentah (WTI) naik lebih dari 10 persen, menambah beban pada negara-negara import energi. Selain itu, perusahaan pelayaran internasional mengalihkan rute, meningkatkan biaya logistik dan menurunkan efisiensi rantai pasokan.

Jika operasi darat terjadi, perkiraan kerugian ekonomi dapat mencapai miliaran dolar per hari, mengingat nilai perdagangan minyak yang melewati selat tersebut mencapai sekitar 20 juta barel per hari.

Reaksi Internasional

Beberapa negara Barat, termasuk Spanyol, menolak mendukung serangan darat dan lebih memilih diplomasi serta sanksi ekonomi. Di sisi lain, negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, seperti Jepang dan Korea Selatan, menekankan pentingnya keamanan jalur maritim untuk menjaga stabilitas pasar energi mereka.

Komunitas internasional juga mengingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer secara luas dapat melanggar hukum humaniter dan menimbulkan pertanggungjawaban di pengadilan internasional.

Baca juga:
Menhan AS Salah Ucap soal Nuklir Iran: Bahan yang Tak Seharusnya Dimiliki Akan Ditinggalkan?

Dengan semua faktor ini, Dr. Ahmad menegaskan bahwa solusi diplomatik, termasuk kembali ke meja perundingan dan memperkuat mekanisme kontrol maritim multinasional, masih menjadi pilihan paling bijak untuk mencegah konflik darat yang dapat menjerumuskan dunia ke dalam krisis yang lebih dalam.

Jika tidak dihindari, perang darat antara AS dan Iran bukan hanya akan menambah deretan korban di lapangan, tetapi juga akan mengubah peta geopolitik global, memperparah krisis energi, dan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi yang meluas ke seluruh dunia.