Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 April 2026 | JAKARTA – Pemerintahan Israel kembali memperlihatkan ketegangan diplomatik dengan menolak partisipasi Spanyol dalam Pusat Koordinasi Sipil‑Militer (CMCC) yang berlokasi di Kiryat Gat. Keputusan itu diumumkan pada Jumat, 10 April 2026, oleh Kementerian Luar Negeri Israel, menandai langkah paling tegas sejak Madrid mengakui negara Palestina pada tahun 2024.
Latar belakang penolakan
CMCC dibentuk setelah gencatan senjata 10 Oktober 2023 untuk memantau penghentian tembakan antara militer Zionis dan Hamas, serta memfasilitasi bantuan kemanusiaan ke Gaza. Selain personel militer Israel, tim ini mencakup diplomat dari Prancis, Inggris, Uni Emirat Arab, dan hingga kini, perwakilan Spanyol.
Namun, melalui pernyataan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, Israel menilai bahwa kebijakan luar negeri Spanyol yang “anti‑Israel” telah menghilangkan kemampuan Madrid untuk berperan konstruktif dalam implementasi rencana perdamaian yang sebelumnya diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Alasan politik di balik keputusan
- Spanyol secara resmi mengakui negara Palestina pada 2024, memicu penarikan duta besar kedua belah pihak.
- Perdana Menteri Pedro Sanchez secara terbuka mengkritik operasi militer Israel di Gaza sejak 2023, termasuk serangan yang menewaskan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
- Sanchez juga menentang aksi militer bersama AS‑Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menuduh Israel “berpihak pada tiran Iran”.
- Israel menuduh Spanyol “menghasut genosida terhadap orang Yahudi” dan terlibat dalam kampanye melawan Israel setelah pengakuan Palestina.
Dinamika regional yang memicu ketegangan
Ketegangan antara Israel dan Iran meningkat drastis setelah serangan udara bersama AS‑Israel pada akhir Februari, yang menargetkan pejabat pertahanan tinggi Iran. Milisi Hizbullah di Lebanon, yang didukung oleh Tehran, melancarkan serangkaian serangan balasan, menambah beban konflik yang sudah meluas ke wilayah perbatasan.
Dalam konteks ini, pernyataan Sanchez di platform X (Twitter) pada 30 Maret 2026 menyerukan Israel untuk menghentikan permusuhan setelah insiden di pangkalan UNIFIL yang menewaskan seorang prajurit Indonesia. Israel menanggapi komentar tersebut dengan menuduh Sanchez “mengambil sikap sepihak” dan “menghasut” terhadap Israel.
Dampak pada operasi bantuan kemanusiaan
Penolakan Spanyol dapat memperumit koordinasi bantuan ke Gaza, mengingat peran Madrid dalam menggalang dukungan donor Eropa. Namun, Israel menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak akan menghambat fungsi CMCC secara keseluruhan; personel dari negara lain tetap dapat melanjutkan tugas mereka.
Para pengamat menilai bahwa langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa Israel semakin menolak keterlibatan internasional yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan keamanan negara tersebut. “Israel kini menguji batas toleransi diplomatik,” ujar Dr. Ahmad Rizki, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia.
Reaksi internasional
Reaksi dari negara‑negara Eropa beragam. Prancis dan Inggris belum mengeluarkan pernyataan resmi, sementara Uni Emirat Arab menyatakan tetap berkomitmen pada proses perdamaian. Di sisi lain, Amerika Serikat, sebagai koordinator utama CMCC, belum mengomentari secara detail keputusan Israel, namun menegaskan pentingnya menjaga “konsistensi operasional” di medan kemanusiaan.
Spanyol melalui Kementerian Luar Negeri menolak keputusan tersebut, menyebutnya “tidak berdasar” dan “menyerang prinsip multilateralitas”. Pedro Sanchez menegaskan bahwa Spanyol tidak akan mundur dari komitmen kemanusiaan, meski tidak lagi diundang ke pertemuan CMCC.
Kesimpulan
Penolakan Israel terhadap kehadiran Spanyol di CMCC mencerminkan eskalasi diplomatik yang dipicu oleh perbedaan kebijakan mengenai Palestina, Iran, dan operasi militer di kawasan. Meskipun keputusan tersebut dapat memperumit koordinasi bantuan di Gaza, Israel tampaknya menilai bahwa manfaat politiknya melebihi risiko operasional. Sementara itu, Spanyol berjanji akan terus mencari jalur alternatif untuk memastikan bantuan kemanusiaan tetap mengalir ke wilayah yang membutuhkan, menandai babak baru dalam hubungan bilateral yang semakin tegang.