Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 24 April 2026 | Ketegangan Iran memanas sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Konflik di Selat Hormuz dan ancaman balasan Iran menambah kepanikan di kawasan Timur Tengah, sekaligus memicu reaksi beragam dari negara-negara Barat. Di tengah gejolak tersebut, putra mahkota terakhir Iran yang hidup dalam pengasingan, Reza Pahlavi, melontarkan kritik tajam terhadap sikap Uni Eropa yang dianggapnya terlalu lunak.
Reza Pahlavi menilai kebijakan Uni Eropa lemah
Dalam sebuah wawancara menjelang pertemuannya dengan Komite Urusan Luar Negeri parlemen Jerman di Berlin, Pahlavi menuduh negara-negara Eropa mengirimkan sinyal yang tidak konsisten terkait konflik Iran. Ia menyoroti pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menegaskan Eropa bukan pihak dalam konflik, lalu menambah bahwa “netralitas bukan sekadar posisi, melainkan keputusan yang memiliki konsekuensi.” Menurut Pahlavi, kehati-hatian yang ditunjukkan oleh ibu kota Eropa berisiko beralih menjadi “komplikasi diam‑diam” yang pada akhirnya memperlemah posisi Iran dalam negosiasi internasional.
Pahlavi menuduh pemerintah Eropa “disandera oleh sandera mereka sendiri”, merujuk pada penahanan warga negara Eropa oleh otoritas Iran. Ia menilai penahanan tersebut sebagai alat tekanan politik Tehran, sekaligus menekankan bahwa kebijakan lunak Uni Eropa hanya memperpanjang penderitaan rakyat Iran.
Seruan tindakan tegas terhadap IRGC dan diplomat Iran
Dalam rangka menanggapi apa yang ia sebut “politik peredaan”, Pahlavi mendesak Uni Eropa untuk mengusir duta besar Iran dari semua negara anggota dan menolak segala bentuk kesepakatan politik yang memperkuat struktur kekuasaan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Ia menambahkan bahwa Eropa harus mempersiapkan pengakuan terhadap otoritas transisi di Iran jika rezim saat ini tidak mampu melakukan tiga syarat dasar: menghentikan eksekusi, membebaskan tahanan politik, dan mencabut pembatasan akses internet.
“Regim yang tidak mampu melakukan tiga hal itu, yang bahkan tidak membutuhkan biaya, tidak bisa dipercaya untuk menyerahkan satu gram uranium,” tegas Pahlavi, mengutip pernyataannya yang dikutip oleh Euractiv. Ia menilai bahwa meskipun penyusunan kembali sanksi “snapback” PBB dan penetapan IRGC sebagai organisasi teroris merupakan langkah positif, hal itu masih belum cukup untuk menekan Tehran.
Usulan bantuan infrastruktur komunikasi alternatif
Selain menuntut aksi politik, Pahlavi juga menyerukan bantuan praktis bagi rakyat Iran yang kini terhambat oleh pemutusan akses internet. Ia mengusulkan agar Uni Eropa mendukung pengembangan infrastruktur komunikasi alternatif, seperti satelit dan jaringan mesh, yang dapat membantu warga Iran mengakses informasi bebas tanpa risiko penindasan digital.
Pernyataan tersebut muncul bertepatan dengan pertemuan puncak pemimpin Uni Eropa di Siprus, di mana para pejabat membahas dampak serangan Amerika‑Israel serta ketegangan di Selat Hormuz. Pahlavi menegaskan bahwa nasib rakyat Iran, termasuk perlindungan bagi diaspora dan pembangkang di Eropa, harus menjadi fokus utama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Reaksi internasional dan prospek ke depan
Beberapa anggota Uni Eropa menyambut seruan Pahlavi dengan hati‑hati, menyebut perlunya dialog terbuka dengan Tehran namun tetap menekankan pentingnya menjaga stabilitas regional. Namun, kritik keras Pahlavi menambah tekanan pada pembuat kebijakan Eropa untuk meninjau kembali pendekatan yang selama ini mengedepankan diplomasi lunak.
Jika Uni Eropa memilih untuk memperketat sanksi, meningkatkan dukungan terhadap jaringan komunikasi alternatif, dan mengusir duta besar Iran, maka kemungkinan terjadinya perubahan signifikan dalam dinamika konflik dapat meningkat. Sebaliknya, jika kebijakan tetap pada jalur netralitas, “ketegangan Iran” dapat terus memunculkan risiko konflik lebih luas, termasuk potensi eskalasi militer di Selat Hormuz.
Dengan semakin intensnya tekanan internasional dan tuntutan rakyat Iran untuk kebebasan, masa depan hubungan antara Iran dan Uni Eropa tampak berada pada persimpangan penting. Bagaimana respons akhir Uni Eropa akan menentukan apakah “ketegangan Iran” berakhir pada diplomasi yang konstruktif atau meluas menjadi konfrontasi yang lebih berbahaya.