Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 11 April 2026 | Roma – Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tengah berada dalam fase pergolakan terbesar sejak era 1990-an setelah kegagalan tim nasional senior menembus kualifikasi Piala Dunia 2026. Kekalahan dramatis dalam adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina memicu pengunduran diri Presiden FIGC Gabriele Gravina dan pelatih kepala Gennaro Gattuso, meninggalkan posisi kosong yang harus diisi segera menjelang dua pertandingan persahabatan internasional.
Dalam langkah darurat, FIGC menunjuk Silvio Baldini, pelatih tim Under-21, sebagai pelatih interim. Baldini, yang berusia 67 tahun, sebelumnya dikenal karena kemampuannya mengelola tim muda dan mengoptimalkan taktik defensif. Ia akan memimpin Azzurri dalam dua laga persahabatan melawan Luksemburg pada 3 Juni dan Yunani pada 7 Juni.
Jadwal Persahabatan dan Tantangan Taktis
Pertandingan melawan Luksemburg diprediksi akan menjadi uji coba bagi skuad yang masih dipenuhi pemain muda dan beberapa veteran yang kembali dipanggil setelah masa absen. Sementara itu, lawan Yunani diharapkan memberi tantangan fisik yang lebih besar, menguji fleksibilitas taktik yang akan diterapkan Baldini.
- Luksemburg (3 Juni): Kesempatan untuk menguji formasi 4‑3‑3 dengan penekanan pada serangan sayap.
- Yunani (7 Juni): Fokus pada pertahanan zona dan transisi cepat.
Dengan masa transisi yang singkat, Baldini diharapkan memanfaatkan pemain yang sedang dalam performa bagus di liga domestik, termasuk bintang Napoli Francesco Acerbi, serta pemain muda berbakat seperti Nicolo Zaniolo.
Siapa Kandidat Pengganti Permanen?
Setelah pemilihan presiden FIGC yang dijadwalkan pada 22 Juni, keputusan akhir mengenai pelatih kepala tetap akan diambil. Beberapa nama muncul sebagai kandidat kuat, di antaranya:
- Antonio Conte – pelatih Napoli yang berhasil membawa timnya ke gelar Serie A musim lalu.
- Roberto Mancini – mantan pelatih Italia yang kini mengemban tugas di klub Italia.
- Simone Inzaghi – pelatih klub Lazio yang telah mengukir prestasi konsisten dalam lima tahun terakhir.
- Massimiliano Allegri – mantan pelatih Juventus yang kembali mengarahkan timnya di Serie A.
Simone Inzaghi menjadi sorotan utama karena keberhasilannya membawa Lazio ke final kompetisi domestik dan menempatkan tim tersebut secara konsisten di papan atas liga. Kepiawaiannya dalam memadukan taktik menyerang yang fleksibel dengan pertahanan yang rapat menjadikannya kandidat yang menarik bagi FIGC.
Profil Simone Inzaghi: Dari Pemain ke Pelatih Tangguh
Simone Inzaghi, yang lahir pada 27 April 1970 di Piacenza, menempuh karier sebagai penyerang sebelum beralih menjadi pelatih pada 2016. Sejak mengambil alih Lazio, Inzaghi berhasil mencatat rekor kemenangan beruntun di Serie A, menstabilkan performa tim, dan menjuarai Coppa Italia pada 2019. Keberhasilannya tidak hanya terletak pada taktik, melainkan juga pada kemampuan mengelola moral pemain, memotivasi skuad, dan mengoptimalkan rotasi pemain selama jadwal padat.
Para analis sepak bola menilai bahwa jika Inzaghi diangkat, ia kemungkinan akan mempertahankan formasi 4‑3‑3 yang fleksibel, menekankan pressing tinggi dan pergerakan off‑the‑ball yang dinamis. Kemampuan Inzaghi dalam menyesuaikan strategi melawan lawan yang berbeda dianggap cocok untuk kompetisi internasional yang menuntut adaptasi cepat.
Reaksi Publik dan Media
Penggemar Azzurri menyambut baik penunjukan Baldini sebagai pelatih interim, namun menantikan kepastian mengenai pelatih permanen. Media Italia menyoroti kemungkinan Inzaghi sebagai pilihan “safe bet” karena tidak ada ikatan politik dengan klub tertentu dan memiliki reputasi yang bersih.
Di media sosial, tagar #InzaghiAzzurri menjadi trending pada malam hari setelah laporan menyingkap bahwa Presiden FIGC, Gabriele Gravina, secara pribadi menghubungi Inzaghi untuk menanyakan minatnya. Walaupun belum ada konfirmasi resmi, spekulasi ini menambah tekanan pada proses seleksi yang dijadwalkan setelah pemilihan presiden.
Dengan dua pertandingan persahabatan yang akan datang, sorotan utama tetap pada bagaimana Baldini akan menyiapkan tim dalam waktu terbatas dan apakah Inzaghi atau kandidat lain akan dipilih sebagai pelatih permanen. Keputusan ini tidak hanya mempengaruhi performa Italia di kompetisi internasional berikutnya, tetapi juga mencerminkan arah strategi jangka panjang FIGC dalam mengembalikan kejayaan sepak bola Italia.
Kesimpulannya, fase transisi ini menuntut FIGC untuk mengambil keputusan yang tepat, mengingat tekanan publik dan harapan akan kembali ke panggung dunia. Apakah Simone Inzaghi akan menjadi sosok yang memimpin Azzurri kembali ke puncak? Hanya waktu yang akan menjawab, sementara Baldini memimpin tim dalam dua laga persahabatan yang sangat penting sebagai batu loncatan menuju era baru sepak bola Italia.