Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 23 April 2026 | Mukti Ali, seorang pria berusia 54 tahun asal Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menjadi contoh nyata bahwa ketekunan menabung dapat mengubah nasib. Selama 23 tahun ia menyisihkan pendapatan dari penjualan es campur keliling ke dalam kaleng biskuit bekas, hingga pada tahun 2026 ia dan istri Anik (56) berhasil menunaikan ibadah haji bersama.
Latar Belakang Hidup dan Peralihan Usaha
Sebelum berjualan es campur, Mukti menghidupi keluarganya dengan menjadi penarik becak. Penghasilan yang tidak menentu dan berkurangnya penumpang mendorongnya beralih menjadi pedagang es keliling. Setiap pagi ia menempuh beberapa kilometer dengan gerobak kayu sederhana, melintasi desa‑desa di sekitar Jombang, menjual es campur yang menjadi kebutuhan segar warga.
Strategi Menabung yang Unik
Berbeda dengan kebanyakan orang yang menaruh tabungan di bank, Mukti dan Anik memutuskan menyimpan uang di dalam kaleng biskuit bekas. Setiap kali ada sisa uang hasil penjualan, Anik dengan telaten menaruhnya ke dalam kaleng tersebut. Selama puluhan tahun, kaleng itu perlahan penuh dengan uang logam dan kertas, menjadi simbol disiplin keluarga.
Metode ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan strategi yang menumbuhkan rasa kepemilikan dan visualisasi tujuan. Ketika kaleng semakin berat, mereka merasakan bahwa impian haji semakin dekat.
Pendaftaran dan Persiapan Haji
Pada tahun 2012, setelah mengumpulkan cukup dana, pasangan ini mendaftarkan diri untuk memperoleh porsi haji melalui biro resmi. Namun, antrean haji di Indonesia membutuhkan waktu menunggu yang lama. Selama masa menunggu, Mukti dan Anik tidak berhenti menabung; mereka terus menambah isi kaleng demi menutup biaya perjalanan ibadah (BPIH) yang terus meningkat.
Perjalanan Haji dan Makna Spiritual
Pada musim haji 2026, Mukti Ali dan Anik berhasil menunaikan rukun Islam kelima bersama ribuan jamaah lain. Mereka mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena tabungan sederhana selama lebih dari dua dekade memungkinkan mereka menapaki jejak Rasulullah di Tanah Suci. “Saya tidak pernah membayangkan dengan penghasilan yang minim akhirnya bisa berangkat haji,” ujar Mukti dalam wawancara setelah kembali.
Perjalanan spiritual ini tidak hanya memberi mereka kepuasan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi warga desa yang menyaksikan perjuangan mereka.
Nilai Manfaat Tabungan Jangka Panjang
- Kemandirian Finansial: Menyimpan secara konsisten memberi kebebasan untuk merencanakan tujuan besar tanpa tergantung pada pinjaman.
- Disiplin Mental: Proses menabung menumbuhkan kebiasaan menunda kepuasan sesaat demi pencapaian jangka panjang.
- Motivasi Komunal: Keberhasilan Mukti menginspirasi tetangga untuk memulai program menabung serupa, bahkan di bidang pertanian dan perdagangan kecil.
Kasus Mukti Ali membuktikan bahwa nilai manfaat menabung tidak hanya terletak pada akumulasi uang, melainkan pada pembentukan karakter, rasa tanggung jawab, dan pencapaian spiritual.
Dengan menata keuangan secara sederhana namun konsisten, satu keluarga di Jombang berhasil mengubah kaleng biskuit menjadi tiket ke Baitullah. Cerita ini menegaskan bahwa keberhasilan tidak selalu memerlukan modal besar, melainkan ketekunan, disiplin, dan keyakinan bahwa setiap rupiah yang disisihkan memiliki potensi mengubah masa depan.