Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 09 July 2026 | Di balik debut Jonathan Anderson untuk Dior Haute Couture Fall/Winter 2026-2027, terdapat satu nama yang terus muncul di balik setiap siluet: Lynda Benglis. Seniman asal Amerika Serikat ini dikenal lewat karya-karya skulptural yang mengeksplorasi bentuk organik, material, dan gerak. Bagi Anderson, karya Benglis bukan sekadar referensi visual, melainkan cara baru untuk memandang couture sebagai medium seni.
Dalam koleksi ini, Anderson menghidupkan kembali karya-karya Benglis dengan teknik pleating, draping, folding, dan knotting. Alih-alih membangun volume dengan konstruksi yang tegas, ia membiarkan kain bergerak layaknya sebuah pahatan yang hidup, menciptakan siluet yang terasa ringan namun tetap monumental.
Salah satu karya yang dirujuk Anderson adalah Untitled (2001), sebuah komposisi garis-garis organik yang memancar menyerupai bunga, dedaunan, atau organisme alami. Anderson menerjemahkan karakter tersebut menjadi bordir, tekstur, dan permainan volume yang membuat setiap busana tampak hidup, seolah motif-motif dalam karya Benglis bermekaran di atas kain.
The Peacock Series, yang terinspirasi dari keindahan burung merak dan kekayaan visual India, juga menjadi referensi penting dalam koleksi ini. Anderson tidak menyalin bentuk merak secara harfiah, melainkan mengolah ritme, volume, dan kemegahan karya tersebut ke dalam bahasa couture.
Ketertarikan Anderson pada India juga berangkat dari jejak perjalanan Lynda Benglis. Dari sana, ia mengeksplorasi dua warisan kriya yang kemudian hadir dalam koleksi ini, yakni Indian chintz dan gemstone carving. Motif floral pada beberapa busana mengacu pada chintz, tekstil katun bermotif bunga yang pernah menjadi komoditas penting antara India dan Eropa.
Arizona Coat, yang dirancang Christian Dior pada tahun 1948, juga dihidupkan kembali oleh Anderson dengan pendekatan yang berbeda melalui lipatan, draping, dan volume yang dipengaruhi bahasa skulptural Lynda Benglis. Hasilnya adalah dialog yang mempertemukan warisan Dior dengan seni kontemporer.
Debut Jonathan Anderson di Dior Haute Couture Fall/Winter 2026-2027 menunjukkan bahwa inspirasi dapat berkembang jauh melampaui dunia mode. Karya-karya Lynda Benglis menjadi fondasi yang menghubungkan seni, sejarah, dan kerajinan dalam satu narasi yang utuh.
Selain itu, koleksi ini juga menunjukkan bahwa haute couture dapat menjadi ruang pertemuan antara arsip, pahatan, dan imajinasi, menjadikan setiap look lebih dari sekadar pakaian, melainkan sebuah karya seni yang dikenakan.


















