Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 30 Maret 2026 | Pada Minggu malam, 29 Maret 2026, kemacetan di jalur arteri utama Sukabumi mencapai titik terparah dengan panjang antrian kendaraan hingga 4 km, menyusul arus balik wisatawan dan pemudik yang kembali ke Jakarta. Lebih dari 21.000 kendaraan tercatat melintas di wilayah Exit Tol Parungkuda, memicu kepadatan yang meluas hingga Simpang Cibadak.
Situasi Lalu Lintas di Sukabumi
Sejak sore hari, kendaraan berbondong‑bondong menumpuk di sepanjang jalur arteri yang biasanya menjadi rute utama menuju Tol Bocimi. Pada puncak arus balik, panjang antrian kendaraan mencapai 4 km, menandakan tekanan luar biasa pada infrastruktur jalan lokal. Kendaraan yang melintas terdiri atas mobil pribadi, bus pariwisata, serta truk pengangkut barang, sebagian besar dipimpin oleh wisatawan yang baru kembali dari kawasan pantai Palabuhanratu dan daerah sekitar Warung Kiara.
Penyebab Utama Kemacetan
Berbagai faktor berkontribusi pada kondisi ini:
- Volume kendaraan tinggi: Sekitar 21.000 unit melintas dalam satu hari, melebihi kapasitas normal jalan arteri.
- Arus balik wisatawan: Pulang dari akhir pekan liburan menambah beban lalu lintas secara signifikan.
- Hambatan titik persimpangan: Terdapat lebih dari 15 titik rawan kemacetan di jalur arteri, termasuk persimpangan Simpang Cibadak dan akses ke Jalan Raya Sukabumi.
Langkah Penanggulangan Kepolisian
Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian mengaktifkan penggunaan Tol Bocimi sebagai jalur fungsional untuk memecah kepadatan. Dengan mengalihkan sebagian arus kendaraan ke jalan tol, jarak tempuh pada jalur arteri yang semula 13 km berhasil dipangkas menjadi 5,6 km. Selain itu, Polres Sukabumi menerapkan kebijakan satu arah (one‑way) dua kali dalam sehari, tepat pada pukul 17.00 WIB dan 20.00 WIB, untuk memperlancar aliran keluar kendaraan dari titik-titik padat.
Berikut rangkaian tindakan yang diambil:
- Pengumuman resmi tentang penerapan one‑way melalui media lokal dan papan informasi jalan.
- Penempatan petugas lalu lintas di persimpangan utama untuk mengatur alur kendaraan.
- Penggunaan jalur tol Bocimi secara eksklusif bagi kendaraan yang melaju ke arah Jakarta, dengan pengawasan pintu gerbang masuk/keluar.
- Pembentukan pos bantuan darurat di Simpang Cibadak untuk mengantisipasi kendaraan mogok atau kecelakaan.
Dampak bagi Pengendara
Para pengendara melaporkan waktu tempuh yang meningkat drastis, dengan rata‑rata penundaan mencapai 45 menit hingga satu jam pada jam‑jam sibuk. Beberapa pengendara yang terpaksa menunggu di antrian panjang mengeluh tentang kurangnya fasilitas istirahat, serta minimnya informasi real‑time mengenai kondisi jalan.
Namun, penggunaan jalur tol fungsional terbukti mengurangi beban pada jalur arteri, memungkinkan sebagian kendaraan melaju lebih cepat dan menghindari titik‑titik hambatan. Pengendara yang memanfaatkan Tol Bocimi melaporkan penurunan waktu tempuh hingga 30 % dibandingkan dengan rute konvensional.
Proyeksi dan Rencana Kedepan
Menanggapi situasi ini, Dinas Perhubungan Jawa Barat berencana menambah kapasitas jalan arteri melalui proyek pelebaran dan perbaikan sinyal lalu lintas di Simpang Cibadak. Selain itu, otoritas tol berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan kepolisian untuk mengoptimalkan penggunaan jalur fungsional pada masa‑musim mudik selanjutnya.
Penggunaan kebijakan one‑way juga dipertimbangkan untuk diterapkan secara periodik selama jam‑jam puncak, sebagai langkah preventif mengurangi kepadatan. Upaya edukasi publik melalui media sosial dan kampanye keselamatan jalan diharapkan dapat menurunkan tingkat kepadatan di jalur arteri secara jangka panjang.
Secara keseluruhan, meski kemacetan 4 km menjadi tantangan besar bagi pengendara di Sukabumi, respons cepat kepolisian dan pemanfaatan Tol Bocimi sebagai jalur alternatif berhasil memitigasi dampak terburuk. Pengendara diimbau tetap memperhatikan informasi lalu lintas terkini, mematuhi arahan petugas, dan mempertimbangkan alternatif rute guna mengurangi beban pada jaringan jalan daerah.

